Home Pendidikan Kimia Hijau Berperan Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Kimia Hijau Berperan Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

32
0
Prof Dr Is Fatimah saat menyampaikan Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Kimia di Auditorium Abdul Kahar Mudzakir Kampus Terpadu UII, Kamis (17/10/2019). Foto : Humas UII

BERNASNEWS.COM — Setiap manusia bertanggungjawab untuk mempertimbangkan kemaslahan umat, terutama generasi yang akan datang, dengan tidak menimbulkan kerusakan bagi kehidupan di bumi. Karena itu, dalam perspektif pembangunan industri dan pembangunan masyarakat, konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) perlu diperhatikan, bahkan dimulai dati diri sendiri.

“Pembangunan harus mempertemukan ketercukupan kebutuhan saat ini dengan kebutuhan generasi yang akan datang. Dengan kata lain, sumber daya alam ini bukan warisan, melainkan titipan untuk anak cucu. Karena itu, kimia hijau (green chemistry) berperan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada berbagai lini,” kata Prof Dr Is Fatimah SSi MSi, Guru Besar Bidang Ilmu Kimia FMIPA UII, pada pidato pengukuhan guru besar dalam Sidang Terbuka Senat UII, di Auditorium Abdul Kahar Mudzakir Kampus Terpadu UII, Kamis (17/10/2019).

Dalam pidato pengukuhan berjudul Pengembangan Material Maju dalam Mendukung Pengembangan Kimia Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan, Prof Is Fatimah mengatakan, penerapan kimia hijau harus didasasarkan pada 12 prinsip. Pertama, pencegahan (waste prevention) yakni lebih baik melakukan pencegahan timbulnya limbah bahan kimia dalam suatu reaksi/proses industri daripada melakukan pengolahan limbah.

Rektor UII Fathul Wahid MSc PhD (kiri) mengucapkan selamat kepada Prof Dr Is Fatimah, Kamis (17/10/2019). Foto : Humas UII

Kedua, atom economy yakni metode sintetis harus didesain untuk memaksimalkan keikutsertaan atom-atom reaktan dalam menghasilkan produk. Ketiga, sintetis bahan kimia rendah bahaya (less hazardous chemical synthesis). Jika memungkinkan, metode sintesis harus didesain untuk menggunakan dan menghasilkan substansi yang rendah toksisitas atau tanpa toksisitas bagi manusia dan lingkungan.

Selain itu, menurut Prof Is Fatima, keempat adalah desain bahan kimia aman (designing safer chemicals). “Produk bahan kimia harus didesain sehingga fungsi yang dimilikinya memiliki toksisitas sangat rendah,” kata Prof Is Fatimah.

Kelima, pelarut dan bahan tambahan aman (safer solvents and auxiliaries). Penggunaan bahan meliputi pelarut, agen pemisahan, agen pengatur kondisi digunakan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam konsentrasi serendah mungkin. Keenam, desain untuk efisiensi energi (design for energy efficiency).

Menurut Prof Is Fastimah, kebutuhan energi untuk suatu proses kimia harus memperhatikan minimalisasi dampak lingkungan dan ekonomi. Dan jika memungkinkan, suatu reaksi dapat dilakukan pada temperatur ambien tanpa tekanan tinggi sehingga meminimalkan energi.

Prof Dr Is Fatimah menerima ucapan selamat dari rekan-rekannya, Kamis (17/10/2019). Foto : Humas UII

Ketujuh, penggunaan bahan terbarukan (use of renewable feedstocks). Bahan untuk suatu reaksi atau proses industri diupayakan agar secara teknis atau secara ekonomis efisien dan terbarukan. “Penggunaan bahan baku dari sumber yang dapat diperbarui serta lebih ekonomis diutamakan dalam sebuah produksi. Sebagai contoh real, hingga saat ini 98 persen bahan kimia bersumber dari minyak bumi, yang merupakan sumber tak terbarukan,” kata Prof Is Fatimah, yang lahir di Bantul, 29 Maret 1975.

Kedelapan, menurut istri dari Dr Jaka Nugraha MSi (Dosen Statistika, FMIPA UII) ini, pengurangan produk turunan/derivative (reduce derivatives). Penggunaan agen blok dalam suatu reaksi dikenal sebagai derivatisasi biasanya dilakukan selama sintesis kimia. “Derivat yang tidak perlu harus diminimalkan atau dihindari,” kata ibu tiga anak ini.

Dan prinsip kesembilan, menurut Prof Is Fatimah, adalah katalisis (catalysis) yakni cat pemercepat reaksi yang memainkan peranan penting dalam kaitannya denga energi dan efisensi suatu proses reaksi. Reagen katalis memungkinkan suatu reaksi lebih cepat berlangsung dan lebih unggul secara stikiometri.

Kemudian, prinsip kesepuluh adalah desain untuk degradasi (design for degradation). Menurut Prof Is Fatimah, produk kimia seharusnya didesain sehingga pada akhir fungsinya, bahan terurai menjadi produk degradasi yang tidak berbahaya atau tidak memiliki ketahanan lama (persintesi) di lingkunan.

Dan prinsip kesebelas adalah analisis sewaktu untuk pencegahan polusi (real-time analysis for pollution prevention). Menurut Prof Is Fatimah, pengembangan metode analisis kimia merupakan salah satu kunci dalam pengendalian polusi. Analisis sewaktu atau real time analysis memungkinkan pengambilan keputusan bagi sebuah treatment dan perencanaan. Untuk kepentingan ini, menurut Prof Is Fatimah, teknologi instrumentasi berbasis pada sensor, biosensor dan kemampuan analisis dengan akurasi dan presisi tinggi merupakan tantangan tersendiri.

Dan prinsip terakhir (keduabelas) adalah pencegahan kecelakaan akibat bahan kimia secara inheren (inherently safer chemistry for accident prevention). Penggunaan bahan kimi dalam sebuah proses, menurut Prof Is Fstimah, harus dipilih berdasarkan kecilnya potensi kecelakaan kimia. Hal ini meliputi penggunaan bahan dan jumlah bahan, pertimbangan resiko ledakan dan kebakaran zat.

Menurut Prof Is Fatimah yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 Bidang Ilmu Kimia FMIPA UGM ini, prinsip-prinsip tersebut menjadi pertimbangan berbagai aktivitas yang melibatkan bahan kimi baik dalam industri, lingkungan dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

“Suatu pertimbangan penting dalam aktivitas industri adalah menerapkan sebuah desain sitem reaksi yang meminimalkan atau bahkan limbah bahan kimia serta derivatif, menggunakan bahan kimia yang aman dan dapat didaur ulang serta sistem reaksi yang hemat energi serta memperhatikan sumber energi terbarukan,” kata guru besar berusia 44 tahun ini.

Menurut Prof Is Fatimah, konsep kimia hijau menekankan pada pengurangan atau bahkan jika dimungkinan penghapusan penggunaan zat berbahaya dalam proses kimia atau pelepasan dan munculnya senyawa turunan/derivative, intermediet atau produk berbahaya/beracun meliputi bahan baku, reagen, pelarut dan produk samping. Selain itu, kimia hijau juga mencakup dapat terbarukannya bahan dan energi, salah satunya dengan penggunaan bahan baku dan sumber energi berkelanjutan untuk proses manufaktur. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here