Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniKilas Balik Memaknai Perjuangan R.A. Kartini dan Pentingnya Membangun Kecerdasan Bertahan

Kilas Balik Memaknai Perjuangan R.A. Kartini dan Pentingnya Membangun Kecerdasan Bertahan

Tidak sedikit orang yang  kagum dengan sosok Kartini, sebab  wanita yang satu ini memang memiliki banyak sekali pandangan baru terhadap peran wanita pada masa kolonial. Maka sepantasnya dalam mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini yang lahir di Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879 dan meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904, kiranya dapat kita refleksikan bersama atas segala jasanya dalam memajukan kaum perempuan Indonesia. Kartini merupakan putra kelima dan putri kedua dari Bupati Jepara (Alm) Raden Mas Adipati Ario Samingun Sosroningrat. Kartini hidup dalam lingkungan bangsawan feodal tinggi yang sesungguhnya tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan cita-citanya yang luhur dan demokratis. Pada sisi lain ada suatu keistimewaan bahwa Kartini diperbolehkan masuk sekolah dasar Belanda (Europeesche Lagere School) yang ada di Jepara. Di sekolah tersebut Kartini mendapat banyak teman-teman anak Belanda dan berkenalan dengan alam pikiran dan alam hidup Barat.

Tidak dapat dipungkiri  sosok Kartini tergolong wanita yang sangat cerdas, sehingga seusai tamat SD berkeinginan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi di Semarang atau Batawi atau Negeri Belanda, namun ditentang oleh ayahnya. Kini 118 tahun sudah Kartini meninggalkan kita semua untuk selamanya, namun jasa besarnya tidak dapat kita lupakan bahwa Kartini adalah seorang perempuan patriot, perintis kamajuan, pembangkit rasa dan semangat kebangsaan, pejuang martabat bangsa, khususnya kaum wanita Indonesia. Semangat Kartini yang tanpa mengenal lelah untuk terus memperjuangkan kemajuan kaum perempuan, ternyata Tuhan menghendaki lain. Kurang lebih satu tahun setelah menikah dan lima hari sesudah melahirkan putranya yang pertama, Kartini di panggil ke hadirat Yang Maha Kuasa pada tanggal, 17 September 1904. Memang tidak banyak perjuangan yang telah dilakukan oleh Kartini, hanya sekelumit kecil dibandingkan dengan keseluruhan cita-citanya yang bersih dan luhur itu.  Akan tetapi karya tulisan terbingkai dalam buku berjudul “Door duisternis tot licht” (1911) oleh Balai Pustaka diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” tentu kita semua tidak dapat melupakan jasa Kartini (Ensiklopedi Umum, 1986). 

Kini, Kartini telah meninggalkan dunia fana dalam usia remaja, yakni 25 tahun. Namun di saat usia yang masih muda itu, pada tanggal 2 Mei 1964 RA. Kartini telah ditetapkan sebagai perempuan pertama Indonesia yang mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Ini berarti bahwa RA. Kartini telah memperoleh pengakuan atas kiprahnya yang begitu besar bagi kaum perempuan Indonesia.  Kartini tidak saja memotivasi dalam hal kebiasaan membaca, menulis dan belajar secara teratur, akan tetapi juga berhasil menuntun dan meningkatkan kemampuan kaumnya dengan derajat kebebasannya. Menurut Clarence Darrow,  kebebasan itu berasal dari manusia, tidak dari undang-undang atau institusi. Kebebasan dalam arti mampu mengambil sendiri keputusan yang harus diambilnya dan tidak diambilkan oleh orang lain di luar dirinya, apakah itu orang tua, paman, abang, suami ataupun siapa saja (Daoed Joesoef, 1979).

Mengingat perjuangan RA. Kartini yang begitu besar terhadap kaumnya, maka setiap hari kelahirannya yang bertepatan dengan tanggal 21 April selalu masih dikenang dan diperingati sampai saat ini, walaupun tidak semarak seperti dahulu. Hanya saja wujud dan rasa kebanggaan dalam rangka memperingati hari lahirnya RA. Kartini  masa lalu  dengan saat ini sangatlah berbeda.

Di saat kita masih kecil, kita dapat menyaksikan perayaan Kartini dengan suasana hingar bingar, lucu dan ceria dari anak-anak perempuan khususnya yang berjalan kaki dengan berbaris, naik sepeda, naik becak atau kereta kuda dengan hiasan warna-warni yang meriah. Para ibu-ibu pun tidak ketinggalan. Mereka semua dengan rela dan bangga berpartispasi sambil menggunakan pakaian adat dari bermacam-macam propinsi yang ada di Indonesia, serta alunan lagu  “Ibu Kartini” pun mengalun merdu di setiap sekolah, lembaga pemerintah maupun lembaga swasta.

Mengingat begitu besar jasa dan nilai-nilai perjuangan Kartini yang telah dipersembahkan bagi bangsa Indonesia, khususnya kaum wanita yang tidak hanya bekerja  di dapur, tetapi harus mempunyai ilmu, pengetahuan  yang sejajar dengan kaum pria, namun saat nampaknya makna untuk semakin  antusias (jawa:greget) dalam menyongsong peringatan 21 April  relatif kurang mendapat perhatian secara serius, atau kurang disadari keberadaanya. Bahkan para remaja perempuan dan organisasi-oranisasi wanita ada kecenderungan tidak lagi merasa ada kebanggaan dengan melaksanakan hari peringatan Kartini.

Kurangnya antusias ini, menurut hemat saya, mungkin karena suasana jaman  dahulu dan jaman sekarang  telah  berubah secara dinamis, karena adanya kekuatan  pengaruh budaya lain yang lebih membawa suasana kebanggaan.  Sebagai contoh, kaum remaja sekarang mulai cenderung memilih menantikan datangnya Valentine day ‘s untuk dirayakan, daripada menyambut datangnya hari Kartini. Terlebih khusus bagi kaum remaja, hari kasih sayang yang bertepatan dengan tanggal 14 Februari  merupakan hari penantian panjang dengan penuh harap  untuk segera  tiba dan menyambutnya dengan  suka ria.

Budaya semacam ini memang terlahir bukan dari negara Asia, namun lahir dari budaya barat yang telah terbiasa, bahwa pada  setiap tanggal 14 Februari mereka saling mencurahkan perhatiannya bagi orang-orang yang dicintai dan disanyangi. Oleh karena itu, peringatan Hari Kartini ke-143 tahun 2022 ini,  kita perlu memaknainya secara lebih mendalam daripada sekedar merayakannya dengan berbagai kegiatan yang kurang mencerminkan kesungguhan perjuangan Kartini. Sebenarnya lebih esensial bila kita mampu memfokuskan pada peningkatan motivasi diri, mampu menujukkan adanya disiplin diri yang  semakin baik dan mau  menjalankan habitus baru  dengan sepenuh hati disegala aspek kehidupan dan bekerja dengan lebih tekun atau  bekerja secara cerdas. Baik  cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional maupun cerdas secara spiritual.

Walaupun tanpa peringatan yang meriah seperti dahulu, namun yang terpenting adalah masih terkandung makna yang mendalam, yakni dorongan untuk tetap maju dan berkembang kiranya menjadi faktor yang utama dan pertama, sehingga kedisiplinan diri itulah yang sebenarnya menjadi kunci keberhasilan. Perjuangan panjang yang telah dilakukan oleh Kartini menunjukkan bahwa konsep daya juang yang tinggi dan motivasi tiada henti yang dimiliki kaum perempuan ternyata teruji telah mampu mempertahankan kehidupan. Cita-cita perjuangan Kartini pun telah terwujud, antara lain dapat kita lihat dari semakin bertambahnya kaum perempuan yang mampu meraih jenjang pendidikan tinggi dan mempunyai kedudukan yang sederajat dengan kaum laki-laki dalam pemerintahan. Misalnya, menjadi Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Kepala Desa atau Lurah, Kepala Sekolah : SD, SMP, SMA, SMK, dan menjadi Pimpinan Perguruan Tinggi (Rektor, Ketua, Direktur).

Kartini adalah sosok wanita yang sangat cerdas, namun sangat disayangkan mereka  harus meninggal pada usia yang sangat muda yaitu 25 tahun, akan tetapi melalui pemikirannya yang luas dan mendalam serta kemampuan memiliki visi  ke depan itulah yang membuat Kartini dijuluki “Kartini te vroeg geboren”, yang maknanya terlahir mendahului zamannya. Beberapa penghargaan yang telah diterima Kartini antara lain: Pahlawan Kemerdekaan yang ditetapkan pada tanggal 2 Mei 1964. Tanggal 21 April merupakan tanggal untuk memperingati hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini, dan nama RA Kartini mendapat penghargaan dengan menjadikan namanya sebagai nama jalan di beberapa kota di Belanda. Sebut saja, di Utrecht, Venlo, Amsterdam, Haarlem.

 Melalui kekuatan roh perjuangan untuk memerangi kebodohan dengan penuh disiplin diri, bekerja dengan tekun dan bekerja secara cerdas, serta berjuang pantang menyerah dalam memajukan bangsanya, khususnya kaum wanita dan  dengan visi yang jelas seperti yang telah diperjuangkan oleh RA. Kartini itulah yang harus kita refleksikan, sehingga terwujudnya sumber daya manusia Indonesia baru yang memilki daya saing yang unggul. Lebih-lebih situasi jaman sekarang semakin dibutuhkan adanya kecerdasan bertahan (Adversity Quotient). Sebagai contoh, mengapa ada beberapa pelaku bisnis dan karyawan dapat segera sukses mencapai keberhasilan, walaupun banyak rintangan yang menghadang dijalan karier mereka. Sementara yang lainnya langsung menyerah dan hanya menonton impian mereka dihancurkan oleh segala rintangan dan kesulitan yang semakain kompetitip.?  Menurut Paul Stoltz (Terjem: T. Hermaya: 2000) semua ini disebabkan oleh adanya kecerdasan bertahan. Yakni kecerdasan kemampuan yang dimiliki. Kecerdasan bertahan (AQ) adalah merupakan seperangkat instrumen yang telah diasah untuk membantu kita supaya tetap gigih melalui saat-saat yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Bailey Allard (Terjem: T. Hermaya:2000) menyatakan bahwa IQ (Intellegence Quotient) barangkali menjadi cara untuk mendapatkan pekerjaan, akan tetapi AQ akan mempertahankan anda pada pekerjaan tersebut dan jika kita mampu memahami dengan benar, maka AQ akan dapat menentukan sukses hidup dan pekerjaan.

Sebab AQ memberi tahu anda seberapa jauh anda mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan anda untuk mengatasinya. AQ meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur. AQ meramalkan siapa yang akan melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa yang akan gagal. AQ meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan. Dengan demikian secara ringkas terdapat tiga bentuk AQ. Pertama, AQ adalah suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan. Kedua, AQ adalah suatu ukurang untuk mengetahui respons anda terhadap kesulitan, Ketiga, AQ adalah memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respons anda terhadap kesulitan. Melalui pemahaman sekilas tentang AQ, tidakah kita untuk bersama-sama mulai mau mewujudkannya dalam kehidupan masing-masing?. Semoga bermakna. . *). Z. Bambang Darmadi,Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments