Home Opini Kerjasama Secara Tim Sangat Dibutuhkan

Kerjasama Secara Tim Sangat Dibutuhkan

76
0
Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala dan Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Kondisi Asian Free Trade Area (AFTA) yang sudah dimulai sejak 1992 membawa konsekuensi yang tidak mudah dalam membendung masuknya arus barang dan jasa dari berbagai negara Asia, sehingga kondisi pasar untuk jenis produk dan jasa secara riil menjadi sangat kompetitif dan sistem perekonomian yang ada jadi sarat dengan berbagai taktik agar terus mampu melaju dan bertahan serta mampu menerobos segmen-segmen pasar yang masih sangat potensial.

Tidak dapat dilupakan rentetan peristiwa kelabu yang terjadi 19 tahun lalu tepatnya pada  peristiwa 12 Oktober 2002,  membuat situasi kelabu bagi jasa pariwisata di Pulau Bali khususnya dan Indonesia umumnya, yang membuat semakin sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Belum lagi peristiwa bencana alam yang ada di berbagai daerah, mau tidak mau tentu berdampak terhadap pengeluaran anggaran daerah menjadi membengkak. Padahal dalam free trade economy seperti yang dikemukakan oleh Adam Smith, ada dua instrumen atau prinsip yang bekerja.

Kedua prinsip tersebut adalah kebebasan dan kebutuhan (need and free). Secara lebih konkret kegiatan-kegiatan ke arah perdagangan bebas memang telah dimulai sejak 74 tahun yang lalu, yakni sejak kali pertama ditandatangani kesepakatan Jenewa, yang menghasilkan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada 30 Oktober 1947. Peristiwa tersebut merupakan perundingan untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam perdagangan.

Perundingan yang sering berpindah tempat dari satu negara berpindah ke negara lain tersebut sering kita dengar dengan nama Putaran Uruguay. Kemudian dilanjutkan dengan putaran dan perundingan di Marrakesh Maroko pada tanggal, 14 April 1994, yang selanjutnya diganti dengan nama Word Trade Organization (WTO) yang telah berlaku sejak tahun 2020. Adanya kesempatan dalam AFTA yang terjadi sejak tahun 1992, sepenuhnya memang belum dapat memberikan iklim bisnis yang gemilang di beberapa sektor, akan tetapi   berbagai produk atau jasa yang dihasilkan ada juga yang memiliki competitive advantage (keunggulan bersaing) dengan negara lainnya.  Untuk menambah nilai produktivitas yang lebih unggul,  kiranya diperlukan adanya kerja secara tim yang lebih solid dan konsisten dalam setiap kegiatan yang ada.

Dimensi dalam team work  aspek yang perlu diperhatikan adalah,  pertama  setiap anggota tim harus menjadi pemikir dan pelaksana. Kedua, seluruh anggota harus mengutamakan keberhasilan. Ketiga, segala aktivitas menjadi tanggung jawab bersama. Keempat, mengutamakan kepentingan bersama. Kelima, setiap output (produk atau jasa) harus berwujud spesifik atau unik. Keenam, setiap anggota tim harus mampu saling melengkapi adanya kelebihan dan kekurangan. Ketujuh, kepemimpinan bersama menjadi prioritas. Kedelapan, perlunya melakukan evaluasi bersama secara transparan atau terbuka.

Dengan demikian jika organisasi – perusahaan ingin berlaga dalam situasi pasar yang menuntut persaingan secara ketat dan global, maka konsep team work perlu penanganan secara serius serta perlu didukung dengan tersedianya etos kerja dari para pegawai atau karyawan secara profesional. Berpegang pada prinsip tersebut di atas, maka ada baiknya apabila kita mengenal peribahasa dari Romawi: Vive Formicam et Disce Industriam (pandanglah semut dan belajarlah menjadi rajin). Dengan memahami makna peribahasa tersebut, sejatinya semut adalah binatang yang mempunyai dua karakter yang sangat dominan. Pertama, semut bekerja selama 24 jam secara total commitment. Kedua, seberat dan sesibuk apapun pekerjaan yang sedang dijalankan, semut selalu melakukan “salam persahabatan” setiap kali bertemu dengan semut yang lain, dan berjalan teratur (John De Santo, 2010).

Kondisi ini menunjukkan bahwa beban kerja apapun yang dilakukan oleh semut, mereka tidak pernah mengeluh dan tetap bekerja secara disiplin dengan pola manajemen kroyokan atau bekerja secara tim. Lebih-lebih dalam melakukan aktivitas kerja di sektor organisasi bisnis maupun organisasi non bisnis seperti sekarang yang penuh dengan persaingan ketat, konsep membangun kinerja yang tinggi dengan pola manajemen tim – manajemen kerjasama atau manajemen kroyokan seperti yang digambarkan dalam cara kerja binatang semut, dapat menjadi acuan kerja yang sangat penting dalam rangka menuju tujuan organisasi yang harus diraih secara bersama. Lebih-lebih 5 tahun kedepan  berbagai macam tantangan dan kompleksitas persoalan bangsa, ekonomi, keamanan dan kamakmuran tentu  masih dibutuhkan adanya aspek kerja sama dengan berbagai lintas demi mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih damai dan  bermaka. (Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala dan Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here