Home News Kepala P3EJ Ingin Selesaikan Masalah Sampah dari Sumbernya

Kepala P3EJ Ingin Selesaikan Masalah Sampah dari Sumbernya

198
0
Warga yang tergabung dalam komunitas peduli sungai di Kali Kuning, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, terus bergiat membersihkan sungai dari beragam sampah yang mencemari. Foto: AG Irawan

BERNASNEWS.COM – Penanganan sampah hingga kini terus menjadi perhatian pemerintah. Penyelesaian masalah sampah dan limbah harus dimulai dari sumbernya. Terlebih dalam masa pandemi Covid-19, bertambahnya jumlah sampah medis dari penggunaan masker sekali pakai (disposable mask) kian menambah volume sampah di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di sejumlah daerah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan DrAbdul Muin MSi saat menerima audiensi terbatas komunitas pegiat sungai dan sampah Yogyakarta di ruang kerjanya Jalan Ringroad Barat Nogotirto, Sleman, DIY, Jumat (27/8/2021) pagi.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Abdul Muin juga memperkenalkan diri sebagai Kepala P3EJ yang baru. Sebelumnya menjabat Kepala P3E Papua dan Bali. “Pada kesempatan ini, saya juga memperkenalkan diri sebagai pejabat baru di P3EJ. Maka kehadiran teman-teman pegiat lingkungan meski terbatas karena masih pandemi, menjadi awal yang baik untuk saling bekerjasama antara P3EJ dan masyarakat dalam mengelola lingkungan,” kata dia.

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr.Abdul Muin, M.Si ( kanan kemeja putih), memberikan paparan singkat pengelolaan lingkungan saat menerima audiensi komunitas sungai dan pengiat sampah DIY di kantor setempat, Jumat (27/8/2021) pagi. Foto: AG Irawan

Abdul Muin menegaskan masalah lingkungan kita sangat beragam. Terkait pengelolaan kawasan sungai, pihaknya sangat mendukung adanya kehadiran komunitas sungai di DIY yang turut aktif berperan merawat dan menjaga kelestarian sungai dan lingkungan. Juga mengapresiasi bangunan yang berada di pinggir sungai untuk mulai memghadap sungai. Tidak lagi membelakangi sungai. “Sungai harus menjadi halaman depan kita. Sehingga tidak lagi orang seenaknya buang sampah dan limbah ke sungai. Kami sangat mendukung kehadiran komunitas warga yang berinisiatif ikut menjaga lingkungan sungai. Mari kita saling bekerjasama. Ini kegiatan ibadah, karena turut merawat lingkungan,” terangnya.

Pegiat lingkungan Agus Hartono mengungkapkan, sampai tahun 2021 ini, pengelolaan dan pengolahan sampah di TPA Piyungan DIY belum sesuai standar. Sehingga terus saja menimbulkan permasalahan. Mulai kelebihan daya tampung hingga bau menyengat yang ditimbulkan berdampak pada turunnya kualitas udara di sekitar lokasi. Sehingga protes warga sekitar TPA berulang terjadi hingga penutupan akses jalan.

“Keberadaan bank sampah di sejumlah tempat di DIY juga belum mampu mereduksi kiriman sampah secara signifikan ke TPA Piyungan. Ini masalah yang harus kita selesaikan bersama,” ungkap Agus.

Perencanaan pembangunan di suatu daerah, baik kabupaten/kota maupun provinsi hendaknya terintegrasi dengan pengelolaan sampah. “Masalah lingkungan harus jadi urusan wajib setiap orang. Bahkan di setiap kedinasan. Menyelesaikan persoalan sampah dan lingkungan harus mulai dari sumber tapaknya,” pungkas Abdul Muin menutup perbincangan. (AG Irawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here