Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniKenangan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SMP N 1 Ngaglik, Sleman,...

Kenangan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SMP N 1 Ngaglik, Sleman, DIY

bernasnews.com – Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dan Menteri Agama menerbitkan panduan terbaru mengenai penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Kebijakan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Mendisbudristek, Menag, Menkes, dan Mendagri Nomor 05/KB/2021, Nomor 1347 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/6678/2021, Nomor 443-5847 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelengaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

Berdasarkan kebijakan SKB 4 Menteri, SMP Negeri 1 Ngaglik, Sleman, Yogyakarta mulai  bulan Januari 2022 atau semester dua tahun ajaran 2021/2022  melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), Adapun dalam melaksanakan PTMT selalu menerapkan protokol kesehatan dan banyak yang harus disiapkan Ketika mau melaksanakan PTMT, antara lain : 1) satgas covid sekolah harus selalu siap melaksanakan tugas, 2) pengadaan empat termogen yang layak, 3) pengadaan sabun cuci tangan, 4) pengadaan masker cadangan, 5) pengadaan disinfektan, 6) penyeterilan ruang kelas, 7) penambahan gerbang pintu masuk dan keluar karena jumlah peserta didik SMPN 1 Ngaglik, Sleman ada 575 orang agar  tidak krodit waktu pergantian shift 1 dan shift 2.

Dunia pendidikan seolah maju kena, mundur pun kena. Mengapa? Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang dilaksanakan saat ini tengah menjadi sorotan. Sekolah dituding menjadi tempat penularan virus ini. Sejumlah kasus Covid-19 telah menjangkit peserta didik di berbagai daerah. Akibatnya, banyak orang tua yang was-was saat putra-putrinya menuntut ilmu di sekolah dan meragukan keamanannya.

Di sisi lain, sekolah dituntut untuk sangat protektif peserta didiknya dengan segala keterbatasannya.  Padahal aktivitas peserta didik selepas dari sekolah diluar jangkauan. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi penularan Covid-19 varian Omicron diperlukan kerja sama antara sekolah dan orang tua/wali peserta didik.

Guru dan karyawan SMP Negeri 1 Ngaglik pada Rabu 25 Januari 2022 mengikuti vaksin Boster di SCH, Sleman. Vaksin Boster efeknya luar biasa, sebanyak 80% guru merasakan demam dan tubuh sakit semua di hari Kamis dan Jumat. Pada hari Sabtu satu orang guru izin pulang karena sakit. Perkiraan saya sama dengan yang lain hanya efek dari vaksin 3. Guru tersebut periksa ke dokter dan di-swab ternyata positif. Saya bingung, panik

Ketika diberitahu Puskesmas Ngaglik 2 yang akan ditracing berapa siswa dan berapa guru, apa yang harus saya lakukan? Kemudian kami matur Ibu Kabid Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidiikan Sleman dan disarankan untuk bapak/ibu guru swab mandiri. Galau cemas sedih, ada tiga guru yang sakit, kemudian kami ambil kebijakan semua guru segera swab mandiri. Hasil swab dari 40 orang, dan yang dinyatakan positif Covid 19 ada empat orang. Kemudian kami gerak cepat, zoom meeting dengan Waka untuk ambil keputusan langkah berikutnya, mendata semua siswa yang kontak erat dengan keempat guru tersebut harus ditracing ternyata ada 200 siswa.

Pada hari Minggu dengan rasa cemas, takut, dan salah kami komunikasi dengan puskesmas bahwa yang ditracing dua kelas. Namun berjalannya waktu karena guru yang positif bertambah menjadi empat orang maka kami harus komunikasi lagi dengan puskesmas bahwa yang ditracing 200 orang. Karena hari Senin tanggal merah,maka tracing baru dapat dilaksanakan hari Selasa 2 Pebruari 2022.

Sambil menunggu hasil tracing dengan rasa galau dan takut, 200 siswa mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Alhamdulillah dari hasil tracing siswa yang positif terpapar hanya empat orang. Kami sampaikan hasil swab PCR ada delapan yang positif, empat guru dan empat siswa kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. Sesuai dengan kebijakan dari Bapak Ery Widaryana, M.Pd.,. maka SMP N 1 Ngaglik wajib melaksanakan 100% PJJ selama 14 hari.

Selain protektif, sekolah khususnya tenaga pendidik pun dituntut untuk memberikan pembelajaran yang bermakna, efektif, dan mengurangi risiko penularan virus ini. Lagi-lagi, tenaga pendidik harus memutar otak agar tujuan pembelajaran tercapai dan tentunya sesuai situasi dan kondisi. Blended Learning dapat menjadi solusi alternatif, tetapi tidak semua sekolah dapat menerapkannya. Belum tentu akan berjalan efektif jika minat peserta didik rendah dan tidak dikontrol oleh orang tua/walinya.

Demikian sekilas pengalaman Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) sebagai Kepala SMP Negeri 1 Ngemplak, Sleman, DIY sejak 14 September 2021. Kami berharap pembelajaran segera normal kembali. Sehingga kami selaku guru dapat mengajar dan menanamkan karakter kepada peserta didik secara maksimal. (Dra. Widi Hastuti, M.Pd., Kepala SMP Negeri 1 Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta).

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments