Saturday, May 21, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsKemenag Kota Yogyakarta: Pengeras Suara Masjid Besar Hanya Sekitar 50-60 Desibel

Kemenag Kota Yogyakarta: Pengeras Suara Masjid Besar Hanya Sekitar 50-60 Desibel

bernasnews.com — Masjid – masjid besar di Kota Yogyakarta, seperti Masjid Gedhe Kauman, Syuhada, dan Jogokaryan telah menggunakan pengeras suara dengan kondusif. Penggunaan pengeras suara luar pun tidak sampai 100 desibel (dB). Paling hanya sekitar 50-60 dB saja. Jadi hanya di sekitar masjid saja, tidak sampai keras sekali suaranya. 100 dB itu sudah sangat keras.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Kemenag Kota Yogyakarta, Nur Abadi, dalam acara sosialisasi Surat Edaran Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushala. Kerjasama antara Pemerintah Kota (Pemkot) dengan Kementrian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta.

Kegiatan sosialisasi ini juga dihadiri oleh Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi ini, dalam rangka untuk memastikan penggunaan pengeras suara agar tidak menimbulkan potensi gangguan ketenteraman di masyarakat,

“Surat edaran tersebut tidak ditujukan untuk membatasi penggunaan pengeras suara oleh masjid dan mushalla tetapi mengatur penggunaannya,” kata Nur Abadi, seperti dikutip dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta, Rabu (16/3/2022).

Dikatakan, bahwa selama ini masjid dan mushala memiliki dua jenis pengeras suara, yaitu pengeras suara luar yang biasanya digunakan saat mengumandangkan azan dan pengeras suara dalam yang digunakan saat kegiatan ibadah internal.

“Dalam Surat Edaran ini juga mengatur tata cara penggunaan pengeras suara, seperti saat waktu salat subuh, pembacaan Al-Qur’an, dengan menggunakan pengeras suara paling lama 10 menit,” kata Nur Abadi, di Masjid Diponegoro, Komplek Balaikota Yogyakarta. 

Lanjut Nur, untuk pada waktu dhuhur, ashar, magrib, dan isya pembacaan Al-Qur’an dengan menggunakan pengeras suara maksimal 5 menit. Sementara pada saat Salat Jumat, pembacaan Al-Qur’an atau sholawat dapat menggunakan pengeras suara luar, dalam jangka waktu paling lama 10 menit sebelum pelaksanaan.

“Penyampaian pengumuman mengenai petugas Jumat, hasil infak sedekah, pelaksanaan khutbah Jumat, salat, dzikir, dan doa menggunakan pengeras suara dalam,” tegas Nur Abadi. Saat ditanya apakah ada keluhan terkait penggunaan pengeras suara masjid dan mushala, pihaknya memastikan, bahwa sampai saat ini belum ada keluhan dari masyarakat.

Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menghimbau, agar seluruh masyarakat, khususnya umat muslim di Kota Yogyakarta untuk mematuhi aturan dari Kemenag terkait penggunaan pengeras suara di masjid dan mushala.

“Surat Edaran ini agar menjadi pedoman dalam penggunaan pengeras suara di masjid dan mushala bagi takmir masjid dan mushala,” tegas Wawali. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments