Home News Kemenag DIY : Undangan Langsung dari Wapres

Kemenag DIY : Undangan Langsung dari Wapres

401
0
Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin melakukan kunjungan kerja ke DIY, Jumat (24/1/2020), dengan berbagai agenda kegiatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan Wapres adalah bertemu dengan jajaran pengurus/anggita FKUB DIY dan sejumlah pejabat di Istana Kepresidenan atau Gedung Agung Yogyakarta.

Namun, kehadiran Wapres Ma’ruf Amin ke Yogyakarta tidak diketahui Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DIY, bahkan pengurus FPUB tidak diundang dalam pertemuan tersebut.

Menurut Kasubag KUB DIY Solikhan Amin, undangan pertemuan kali ini bersifat internal dan tertutup. “Wapres hanya mengundang pengurus FKUB, karena yang ber-SK Gubernur adalah FKUB,” kata Solikhan saat dihubungi Jumat (24/1/2020).

Ia mengatakan bahwa dalam undangan tersebut juga diundang bupati, walikota dan 5 orang pengurus/ anggota FKUB kabupaten/kota yang mewakili 5 agama. Pertemuan dengan Wapres Ma’ruf Amin juga akan dihadiri Wakil Menteri Agama. “Di samping FKUB DIY, juga diundang bupati/walikota serta 5 orang anggota FKUB kabupaten/kota perwakilan 5 agama,” imbuhnya.

Terkait tidak diundangnya FPUB DIY, menurut Solikhan, karena memang tidak ada dalam daftar undangan yang langsung berasal dari Wakil Presiden. “(Undangan langsung dari Wapres), termasuk undangan yang cetak juga dari Sekneg,” ujarnya.

Seperti dberitakan sebelumnya, Ketua Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DIY KH Abdul Muhaimin menyatakan tidak diundang untuk bertemu dengan Wapres Ma’ruf Amin di Gedung Agung Yogyakarta. “Betul, tapi yang diundang FKUB bentukan Kemenag (DIY) kok. FPUB tidak dikabari sama sekali,” kata Ketua FPUB DIY KH Abdul Muhaimin, Jumat (24/1/2020) pagi.

“Saya tidak diundang dan banyak teman yang komplain kok yang diundang cuma FKUB Kemenag,” lanjut KH Abdul Muhaimin.

Ia sendiri mengaku tidak tahu menahu apa yang menyebabkan FPUB tak diundang untuk bertemu dengan Ma’ruf Amin. Abdul Muhaimin pun menyinggung soal kasus intoleransi yang terjadi di Yogyakarta beberapa waktu terakhir.

“Nanti kan forum cuma he..he…selfie terus ada rilis Jogja aman. Faktanya Jogja masuk kota intoleran kan? Harapan saya, ya cara kerja dan pola pendekatan Kemenag yang tidak populis harus diubah,” katanya.

FPUB yang dipimpin KH Abdul Muhaimin didirikan 20 tahun lalu bersama sejumlah tokoh dari berbagai agama dan aliran kepercayaan seperti Romo Suyatno Pr (alm) dari Katolik, Pdt Bambang dari Kristen Protestan dan dari Agama Hindu, Agama Budha dan sebagainya. Mereka selalu aktif melakukan pertemuan baik di masjid, gereja, vihara, klenteng dan sebagainya. Keberadaan FPUB selama ini mampu mencegah dan meredam berbagai aksi intoleransi di DIY.

“FPUB sudah didirikan/dibentuk 20 tahun jauh lebih dulu dari FKUB. Dan FPUB lebih dikenal di masyarakat. Sejarahnya panjang banget, penuh dinamika dan romantika mengawal esklusifisme di Jogja dan Indonesia,” kata KH Abdul Muhaimin. (lip/feva)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here