Home News Kembalikan Jogja sebagai Kota yang Adem, Ayem dan Penuh Toleransi

Kembalikan Jogja sebagai Kota yang Adem, Ayem dan Penuh Toleransi

1295
0
Komisaris Besar Polisi Rudi Heru Susanto SH, MH memaparkan masalah radikalisme dan intoleransi dengan mengupas berbagai kasus yang terjadi di Indonesia dalam diskusi panel di Wisma Rosari, Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Minggu (2/2/2020). Foto: Anton Sumarjana

BERNASNEWS.COM – Banyak orang yang mengatakan bahwa gara-gara Katon Bagaskara mencipta lagu “Yogyakarta” dan menjadi hits, kota ini kesohor sebagai kota yang nyaman, damai dan hari demi hari selalu penuh dengan suasana romantis. Dan, semua orang yang pernah berkunjung di kota Jogja, selalu ingin pulang lagi. Namun, itu dulu.

Karena akhir-akhir ini Jogja tak lagi adem ayem. Kasus-kasus intoleransii, terorisme dan ancaman klithih sangat mengganggu keamanan dan kenyamanan warga Jogja. Berbagai predikat Jogja sebagai Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Wisata, Kota Perjuangan, Miniatur Indonesia dan Kota yang Toleran, nyaris luntur. Bahkan, menurut penelitian Setara Institut Jakarta, Jogja menampati peringkat ke-6 sebagai kota  yang tidak toleran. Perbedaan, khususnya perbedaan agama, di Jogja sering menimbulkan pergesekan di masyarakat.        

Sekitar 200 orang peserta diskusi antusias menyambut pemaparan para narasumber dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi panel dengan tema Radikalisme Musuh Kita Bersama di Wisma Rosari, Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Minggu (2/2/2020). Foto: Anton Sumarjana

Para pembicara dalam diskusi panel umat Katolik se-Kevikepan DIY di Wisma Rosari, Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Minggu (2/2/2020) lalu, tidak menampik bahwa gerakan radikal dan intoleran telah merusak harmoni masyarakat Jogja.

Di beberapa tempat, teroris bersembunyi. Densus 88 berkali-kali menemukan sarang mereka dan melakukan penangkapan. Pelarangan pembangunan gereja, pengusiran seniman lukis Slamet di Dusun Pleret karena tidak seiman, penganiayaan terhadap Yuni di Sewon dan lain-lain, merupakan contoh kasus intoleran dan radikal tersebut.

Yang paling mutakhir, kasus pelatihan tepuk Anak Sholeh di SD Negri Timuran 1, yang dinilai telah menciderai kebhinnekaan masyarakat Indonesia. Kasus-kasus yang terus bermunculan ini, terkait paham radikal dan sikap anti toleransi, mulai tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Yogyakarta.

Para pembicara dan para romo berfoto bersama setelah menerima cindera mata dalam Diskusi Panel umat Katolik Kevikepan DIY dengan tema Radikalisme Musuh Kita Bersama. (dari kiri) Romo Martinus Joko Lelono Pr, Ir Lestanta Budiman SH M.Hum, Kombes Pol Rudi Heru Susanto SH MH dan moderator Petrus Eko Nugroho di Wisma Rosari, Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Minggu (2/2/2020). Foto: Anton Sumarjana

 Dalam diskusi panel ini, Direktur Binmas Polda DIY Kombes Pol Rudi Heru Susanto SH MH mengungkapkan, Yogyakarta menjadi kota yang nyaman bagi para teroris. Karena masyarakat Jogja adalah masyarakat yang terbuka terhadap semua pendatang dan aman untuk melakukan kegiatan apa saja.

“Coba, ada yang membuat kegiatan LGBT di Jogja, aman-aman saja, kan? Coba buat kegiatan LGBT di Jawa Barat, pasti akan diserang ormas,” katanya.

Menurut Kombes Rudi Heru, Jogja telah menjadi‘save house’bagi para teroris. “Para teroris berkembang dan mereka merasakan tempat yang nyaman,” ujar Kombes Rudi di hadapan sekitar 200 peserta diskusi panel ini.    

Peneliti dar Lembaga Studi Pancasila UPN Yogyakarta Ir Lestanta Budiman M.Hum mengungkapkan hal yang sama. Ia mengakui bahwa Jogja bukan lagi kota yang toleran. Sebab, di Jogja terjadi beberapa peristiwa intoleransi. “Mereka menggunakan Yogyakarta ini sebagai tempat yang nyaman dan aman untuk bersembunyi dan menyebarkan radikalisme. Media sosial memudahkan penyebaran paham radikal ini,” tuturnya.

Panitia bersama para nasumber berfoto bersama seusai diskusi panel dengan tema Radikalisme Musuh Kita Bersama di Wisma Rosari, Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Minggu (2/2/2020). Foto: Seno/Komsos Kevikepan DIY

Lestanta mengajak masyarakat untuk melawan tindakan radikal dan mencegah penyebaran paham radikal. Caranya, bukan dengan kekerasan, tetapi memberikan pencerahan kepada penganut paham radikal ini. “Mengajak mereka berdiskusi, apa yang mereka inginkan. Mengajak mereka untuk menggunakan medsos untuk melakukan hal-hal positif,” kata Lestanta.

Setelah diskusi ini, Lestanta berharap umat Katolik bisa bergerak dan tidak menutup mata terhadap hal-hal yang mungkin terjadi. Radikalisme harus dicegah jangan terjadi lagi. Ia mengajak  masyarakat dan aparat untuk bekerjasama lebih erat lagi.

 Sebagai langkah strategis dan jangka panjang, menurut Lestanta, harus ditegaskan lagi, bahwa Pancasila adalah ideologi Negara. Ideologi lain, seperti cita-cita mendirikan negara khilafah harus dilawan. “Keinginan mendirikan Negara Islam itu tidak bisa dan tidak boleh,” tegasnya.

Pada bagian akhir sesi pemaparan materi dari ketiga narasumber, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Kevikepan DIY Romo Martinus Joko Lelono Pr mengingatkan bahwa umat Katolik adalah bagian dari bangsa Indonesia. Maka dalam melawan radikalisme dan intoleransi, umat katolik harus menjadi bagian dari penyembuhan Indonesia. ”Jangan lupa, umat Katolik, khususnya orang-orang muda, untuk bergerak, ikut menjaga bangsa inj,” ajak Romo Joko.

Tentunya juga menjaga kondisi DIY agar tetap adem, ayem dan kembali menjadi kota yang penuh toleransi antarwarganya. Dan Vikep DIY Romo Andrianus Maradiyo Pr, sebelum membacakan clossing statement-nya menegaskan, umat  Katolik harus menjadi bagian dari pemecahan masalah, bukan menjadi penyebab masalah itu sendiri.

“Kita tidak perlu membela kebenaran itu, karena kebenaran yang akan membela kita,” tegas Romo Maradiyo. (Anton Sumarjana, Litbang Komisi KPKC Kevikepan DIY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here