Home Pendidikan Kemampuan Literasi Perempuan Cenderung Lebih Kecil Dibanding Pria

Kemampuan Literasi Perempuan Cenderung Lebih Kecil Dibanding Pria

702
0
Suasana webinar dengan topik Promoting Women in Science, yang diadakan Program Studi Teknik Kimia FTI UII bekerja sama dengan Universidade de Aveiro Portugal, Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabay Selasa (15/9/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM –Populasi wanita di Indonesia mencapai 49,7 persen dari total populasi masyarakat di Indonesia. Dengan demikian, wanita memiliki peran strategis dalam keluarga dan masyarakat. Namun, banyak wanita yang tidak bisa berperan dalam keluarga dan masyarakat karena rendahnya level pendidikan. Padahal wanita punya peluang untuk dapat mengeyam pendidikan lebih tinggi.

“Berdasarkan data BPS, kemampuan literasi perempuan cenderung lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, data di BPS juga menunjukkan bahwa kemampuan literasi perempuan pada kawasan kota lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Hal ini juga disebabkan karena adanya akses terbatas di kawasan pedesaan untuk mengakses produk literasi,” kata Ifa Puspasari PhD, Dosen Teknik Kimia FTI UII, dalam Webinar dengan topik Promoting Women in Science, Selasa (15/9/2020).

Selain Ifa Puspasari, tampil sebagai narasumber dalam webinar yang diadakan Program Studi Teknik Kimia FTI UII bekerja sama dengan Universidade de Aveiro Portugal, Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya itu adalah Associate Profesor Teresa Carvalho (Universidade de Aveiro), Prof Ni Nyoman Tri P (Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni, Universitas Airlangga) dan Sri Fatmawati PhD, Ketua Organization for Woman in Science in the Developing World, Indonesia National Chapter.

Ifa Puspasari PhD, Dosen Teknik Kimia FTI UII, dalam Webinar dengan topik Promoting Women in Science, Selasa (15/9/2020). Foto : Istimewa

Menurut Ifa Puspasari, ketidakmajuan perempuan dalam hal sains, teknologi, keteknikan dan matematika (STEM) juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang sudah diemban oleh kaum perempuan di Indonesia. Berdasarkan BPS pula, persentasi perempuan paling tinggi mengeyam pendidikan hanya sampai sekolah dasar (SD), sedangkan persentasi laki-laki mengeyam pendidikan hingga sekolah menengah atas (SMA).

Sementara jika dibandingkan dengan letak demografinya, persentase terbesar di kawasan perkotaan, perempuan mengeyam pendidikan hanya pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Lain halnya dengan di desa, perempuan mayoritas hanya lulus SD.

Dari data-data di atas, menurut Ifa, maka bisa diindikasikan bahwa kesadaran perempuan untuk maju di bidang STEM masih rendah. Di sisi lain, jika dibandingkan dengan persentase mahasiswa dan mahasiswi di seluruh Indonesia, jumlah mahasiswi lebih banyak yaitu 56 persen dari total mahasiswa di Indonesia.

Narasumber dan peserta webinar. Foto : Istimewa

Hal ini ditunjukkan pada keterlibatan mahasiswi lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa yang mengambil mata kuliah-mata kuliah STEM seperti farmasi, biologi, kedokteran, ilmu kimia, ilmu matematika dan ilmu fisika. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesempatan para perempuan untuk bisa maju di STEM terbuka lebar.

Menurut Ifa, hal-hal yang bisa dilakukan untuk mendorong perempuan bisa lebih berperan dalam STEM adalah mMengenalkan bahwa STEM adalah bidang pelajaran yang menyenangkan. Kemudian, mahasiswi bisa dikenalkan pada dunia luar yang berperan, mengatur kuota mahasiswi pada semua jurusan STEM secara proporsional, menyediakan arahan pendidikan yang adil dan jelas baik kepada mahasiswa maupun mahasiswi, memperkenalkan program program “ramah perempuan” di bidang ilmu STEM dan tidak melakukan toleransi terhadap tindakan pelecehan terhadap mahasiswi yang belajar di bidang STEM.

Dr Arif Hidayat ST MT, Sekretaris Jurusan Teknik Kimia FTI UII, dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Sabtu (19/9/2020), mengatakan, topik Promoting Women in Science dipilih untuk mendorong para perempuan Indonesia agar dapat berkiprah di bidang sains. Berbagai aktivitas yang dapat dilakukan antara lain penelitian, publikasi dalam bentuk jurnal, paten serta prototype diharapkan akan terus dikembangkan oleh wanita yang berperan penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Menurut Arif, Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII berhasil mendapatkan pendanaan Program Global Engagement Grant (GEG) 2020 untuk Skema Mobilitas Daring. Skema Mobilitas Daring adalah program hibah bagi jurusan dan program studi untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas sebagai implementasi dari MoU yang sudah dijalankan UII dengan universitas mitra luar negeri secara daring. (*/lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here