Home Politik Inilah Faktor Pemicu Sakit dan Kematian Penyelenggara Pemilu 2019

Inilah Faktor Pemicu Sakit dan Kematian Penyelenggara Pemilu 2019

563
0
Ketua KPU DIY Hamdan Kurniawan (kedua dari kiri), dr Slamet Budiarto dari IDI (tengah), Ketua Bawaslu DIY Bagus Bagus Sarwono SPd.Si MPA (kedua dari kanan) dan Dosen FH UII Dr Idul Rishan SH LLM (kanan) saat tampil sebagai narasumber dalam sarasehan Memyibak Tabir Kematian Penyelenggara Pemilu di Kampus FH UII Jalan Tamansiswa Yogyakarta, Senin (20/5/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com
Ketua KPU DIY Hamdan Kurniawan (kedua dari kiri), dr Slamet Budiarto dari IDI (tengah), Ketua Bawaslu DIY Bagus Bagus Sarwono SPd.Si MPA (kedua dari kanan) dan Dosen FH UII Dr Idul Rishan SH LLM (kanan) saat tampil sebagai narasumber dalam sarasehan Memyibak Tabir Kematian Penyelenggara Pemilu di Kampus FH UII Jalan Tamansiswa Yogyakarta, Senin (20/5/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM -Beban kerja yang begitu berat dengan durasi waktu yang panjang membuat para petugas Pemilu 2019, baik petugas KPPS, Panwaslu maupun aparat kepolisian, merasa lelah. Belum lagi tekanan psikologis yang begitu besar membuat beban mereka semakin bertambah. Hal ini membuat para petugas pemilu semakin lelah.

“Kelelahan bukanlah penyebab langsung kematian mendadak, namun dapat menjadi salah satu faktor pemicu atau pemberat sebab kematian,” kata dr Slamet Budiarto dari IDI Pusat dalam sarasehan Menyingkap Tabir Kematian Penyelenggara Pemilu di Kampus FH UII Jalan Tamansiswa Yogyakarta, Senin (20/5/2019).

Menurut Ketua KPU DIY Hamdan Kurniawan, proses pemungutan suara memang dilaksanakan pada hari Rabu (17/4/2019) mulai pukul 07.00-13.00 waktu setempat dan penghitungan suara dimulai setelah pukul 13.00 sampai dengan selesai. Namun dalam prakteknya, para petugas pemilu sudah mulai bekerja sejak sehari sebelumnya untuk persiapan pemilu/ menyiapkan TPS dan perlengkapan lainnya.

Bahkan, menurut Hamdan Kurniawan, seperti perkiraan sebelumnya, sebagian besar TPS mengkhiri penghitungan suara pada hari berikutnya atau Kamis (18/4/2019) bahkan ada yang berlangsung hingga siang hari. Beberapa faktor yang menyebabkan panjangnya durasi, menurut Hamdan, adalah jumlah pemilih yang besar di tiap TPS (rata-rata 300 pemilih tiap TPS), adanya kejadian kurangnya surat suara di TPS tersebut sehingga harus mencari tambahan ke TPS lain atau ke KPU, adanya protes atau

keberatan dari saksi dan pengisian berita acara yang lama. “Keliru atau selisih satu suara saja maka harus dihitung ulang mulai dari awal,” kata Hamdan Kurniawan.

Sementara rekapitulasi hasil suara di tingkat kecamatan, menurut Hamdan, membutuhkan waktu 4 sampai dengan 17 hari tergantung jumlah TPS yang harus direkapitulasi, banyak dan kerapnya keberatan maupun kejadian khusus, adanya penghitungan ulang di PPK dan penyusunan berita acara hasil rekapitulasi penghitungan suara.

“Beban pekerjaan yang banyak dan durasi waktu yang panjang dengan kondisi kesehatan yang kurang baik membuat petugas pemilu merasa lelah. Namun, apakah kelelahan itu yang membuat mereka sakit hingga meninggal dunia, itu bukan kewenangan kami untuk memastikannya,” kata Hamdan Kurniawan. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here