Home Pariwisata Keindahan Sawa dan Uma Lodok di Manggarai Flores

Keindahan Sawa dan Uma Lodok di Manggarai Flores

804
0
Sawa Lodok di Racang, Desa Watu Baur, Kecamatan Reo Barat, Flores, NTT yang mulai ditanami padi. Foto diambil dari Golo Kaca sebelah Timur kampung Racang atau dari arah Reo, 7 Pebruari 2020. Foto : Tarsi Narong

BERNASNEWS.COM – Kalau di Bali terkenal dengan sawah terasering yang tampak tersusun rapih di lereng-lereng bukit sehingga terlihat sangat indah, sementara di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal dengan sawa lodok atau Sawah Jaring Laba-laba. Bentuk sawa lodok sangat unik dan indah, terutama ketika padi mulai ditanam hingga panen, karena sangat jelas terlihat bentuk sawah persis seperti jaring laba-laba.

Dan model sawa lodok maupun uma lodok seperti ini ada di hampir semua desa di Manggarai, Flores, NTT. Bila ada sawa lodok atau uma lodok maka hampir dipastikan di desa tersebut memiliki rumah adat karena keberadaan sawa lodok maupun uma lodok terkait erat dengan keberadaan rumah adat atau mbaru gendang.

Sawa Lodok di Racang, Desa Watu Baur, Kecamatan Reo Barat, Flores, NTT saat padi sudah menghijau. Foto diambil dari Golo Kaca sebelah Timur kampung Racang atau dari arah Reo, 3 Agustus 2019. Foto : Tarsi Narong

Sistem lodok atau pusat dari sawah atau ladang yang berbentuk lingkaran merupakan bentuk pembagian lahan bagi warga dengan adat atau suku yang sama atau dalam bahasa Manggarai disebut ca wa’u (satu suku). Artinya, satu sawa lodok atau uma lodok merupakan milik sejumlah warga di suatu desa dari adat dan suku yang sama. Warga yang suku dan adat berbeda di desa tersebut tidak berhak mendapat bagian lahan di sawa lodok atau uma lodok. Setiap suku memiliki sawa lodok atau uma lodok masing-masing.

Dengan demikian, bila di suatu kampung atau beo ada lebih dari satu suku maka sawa lodok atau uma lodok juga dipastikan lebih dari satu. Dan rumah adat atau mbaru gendang pun dipastikan lebih dari satu atau sesuai jumlah suku yang ada di kampung tersebut. Contoh di Desa Lante, Kecamatan Reo Barat, Kabupaten Manggarai Raya, Flores yang memiliki dua suku yakni suku Sama dan suku Wudi. Di kampung ini ada dua uma lodok dan dua rumah adat (mbaru gendang) yakni Mbaru Gendang Wudi dan Mbaru Gendang Sama.

Sawa Lodok di Pagal, utara kota Ruteng, Manggarai Raya, Flores, NTT. Foto diambil Rabu (12/2/2020). Foto : Tarsi Narong

Dari bentuk atau model sawa lodok dan uma lodok yang juga disebut lingko ini merupakan salah satu potensi wisata yang perlu digarap maksimal di Manggarai. Karena hingga saat ini, baru sawa lodok yang ada di Cancar yang sudah banyak dikenal dan dikunjungi banyak wisatawan, terutama saat padi mulai ditanam hingga panen.

Padahal, sawa lodok dan uma lodok/lingko ada di hampir seluruh desa atau kampung (beo) di Manggarai sejak zaman nenek moyang hingga sekarang. Sawa lodok dan uma lingko akan ada sepanjang masa di Manggarai dan mungkin satu-satunya di dunia. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here