Home Pendidikan Kebutuhan Pasar akan Lulusan Magister Farmasi Tinggi

Kebutuhan Pasar akan Lulusan Magister Farmasi Tinggi

197
0
Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD (kanan atas) dan Ketua Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA UII Prof Yandi Syukri MSi Apt (kiri bawah) dalam acara peluncuran Program Magster Farmasi FMIPA UII secara virtual, Sabtu (12/6/2021). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Ketua Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA UII Prof Yandi Syukri MSi Apt mengatakan bahwa kebutuhan pasar akan lulusan farmasi dengan kompetensi magister sangat tinggi. Hal ini yang melatarbelakangi Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA UII untuk) membuka Program Studi Farmasi Program Magister (PSFPM).

Dan pendirian PSFPM MIPA UII kini sudah mendapatkan izin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI melalui Surat Keputusan No 110/E/0/2021. Pada Sabtu, 12 Juni 2021, dilakukan peluncuran Prodi Farmasi Program Magister Fakultas MIPA UII.

Menurut Prof Yandi Syukri, lulusan Program Magister Farmasi selain bisa menjadi pendidik, peneliti dan pembuat kebijakan di pemerintahan, juga bisa menjadi praktisi di fasilitas kesehatan atau industri farmasi. Sementara keberadaan PSFPM di UII untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil riset dan luaran riset di bidang farmasi serta semakin melebatkan manfaat untuk masyarakat yang lebih luas.

Dikatakan, pendidikan di PSFPM dirancang untuk mempersiapkan lulusan magister farmasi yang unggul dalam pengembangan sediaan farmasi, pelayanan kefarmasian maupun pengembangan pendidikan berbasis pemanfaatan maha data yang mendukung pembuatan kebijakan dan peningkatan kualitas layanan di fasilitas kesehatan.

Menurut Prof Yandi Syukri, perubahan global dalam era industri 4.0 dan society 5.0 telah menciptakan banyak tantangan, baik di bidang kesehatan maupun penggunaan big data dan internet of things (IoT) sehingga mengubah sistem pelayanan kesehatan. Penyimpanan data pasien online, prediksi penyakit, distribusi atau cakupan pengobatan, sangat dimungkinkan untuk dilakukan dengan mengolah big data.

Selain Magister Farmasi, menurut Prof Yandi, pada tahun 2021, Jurusan Farmasi UII membuka Program Studi S1 Farmasi Kelas Internasional. Prodi S1 Farmasi FMIPA UII sendiri didirikan tahun 1998 dan telah terakreditasi A. Sementara Program Profesi Apoteker didirikan tahun 2002 dan kini juta terakreditasi A.

Sementara Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan kehadiran program studi farmasi Program Magister di UII, diharapkan dapat berandil memecahkan masalah di bidang kesehatan secara umum dengan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas di bidang farmasi. Komitmen untuk memanfaatkan mahadata untuk mendapatkan tilikan baru dan membantu peningkatan kebijakan kesehatan, juga diharapkan menjadikan program studi baru ini semakin penting sekaligus unik.

Menurut Prof Fathul Wahid, sampai saat ini 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih diimpor. Hal ini antara lain disebabkan karena cacah perusahaan nasional yang memproduksi bahan baku obat di Indonesia masih sangat terbatas, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Karena itu, pengembangan transfer teknologi dan semberdaya manusia dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan kemandirian. Dari perspektif lain, pengembangan obat modern asli Indonesia dengan memanfaatkan bahan baku domestik (termasuk tanaman herbal) menjadi tantangan yang harus dipecahkan dan dihadapi secara kolektif. Apalagi, secara hitungan ekonomi kasar, harga obat dengan bahan baku lokal, juga diharapkan lebih terjangkau oleh publik.

Dikatakan, ketersediaan obat yang berkualitas di setiap fasilitas layanan kesehatan dan pasar merupakan salah satu bagian lain dari ikhtiar menjaga kesehatan publik. Dan alokasi anggaran kesehatanmempunyai kaitan dengan kualitas kesehatan publik. Ketersediaan infastruktur dan layanan kesehatan membutuhkan dana yang tidak kecil.

Namun saat ini, nampaknya tidak sulit untuk bersepakat bahwa disparitas kualitas layanan kesehatan di Indonesia masih sangat luas biasa. Cerita tentang warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan dasar di puskesmas saja, misalnya, masing sering kita dengar.

Prof Fathul Wahid mengungkapkan bahwa data dari WHO termutakhir yang dapat diakses (sebelum pandemi, 2018) menunjukkan bahwa proporsi pengeluaran untuk kesehatan (current health expenditure, CHE) terhadap produk domestik bruto (gross domestic products, GDP) negara-negara berkembang cenderung masih rendah dibandingkan dengan negara maju. Data ini memberikan gambaran proporsi pengeluaran bidang kesehatan dibandingkan dengan pendapatan nasional.

Dikatakan, angka untuk Indonesia menunjukkan 2,87 persen. Bandingkan dengan Inggris yang sebesar 10 persen, Kanada (10,79 persen), Jepang (10,95 persen, Perancis (11,26 persen), Jerman (11,43 persen) dan Amerika Serikat (16,89 persen). Bahkan alokasi Indonesia juga lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN, seperti Myanmar (4,7 persen), Filipina (4,4 persen) dan Thailand (3,7 persen).

Jika dinominalkan, menurut Prof Fathul Wahid, pada 2018 pengeluaran untuk kesehatan per kapita sebesar 111,7 dollar AS. Bandingkan misalkan dengan Inggris 4.315 dollar AS dan Amerika Serikat 10.624 dollar AS atau bahkan dengan Singapura 2.824 dollar AS.

“Saya yakin, ketika pandemi seperti ini, proporsi alokasi anggaran tersebut meningkat. Sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas, apalagi dalam konteks di mana pandemi belum dapat seluruhnya dikendalikan,” kata Rektor UII. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here