Home Pendidikan Keberlanjutan Perguruan Tinggi Minimal Mempunyai Tiga Dimensi yang Saling Terkait

Keberlanjutan Perguruan Tinggi Minimal Mempunyai Tiga Dimensi yang Saling Terkait

25
0
Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD. Foto : Humas UII

BERNASNEWS.COM – Pemahaman terhadap konsep keberlanjutan sangat beragam. Namun, perbincangan terkait keberlanjutan perguruan tinggi minimal mempunyai tiga dimensi yang saling terkait.

Pertama, dimensi temporal. Dalam dimensi ini kita seharusnya tidak hanya berfokus pada kekinian atau horison waktu yang pendek, tetapi juga masa depan yang jauh. Kata keberlanjutan sendiri mengindikasikan hal itu.

Kedua, dimensi spasial. Dalam hal ini perguruan tinggi seharusnya tidak hanya terpaku pada area di dalam pagar kampus, tetapi juga menyentuh khalayak dan kawasan yang lebih luas. Tujuan pembangunan keberlanjutan (sustainable development goals/DSGs) bisa menjadi salah satu bingkai bergerak untuk melebatkan manfaat dari kehadiran perguruan tinggi di tengah bangsa.

Hal ini diperlukan, salah satunya, untuk menjamin keberlanjutan negara di rel yang benar, yang kehadirannya ditujukan untuk menjamin kesejahteraan warganya. Dengan konsistensi sikap dan program, perguruan tinggi bisa ikut berandil di dalamnya.

Ketiga, dimensi kontekstual. Dalam dimensi ini, konsep tiga p dalam the triple bottom line, bisa dijadikan bingkai yakni planet, people, profit. Keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga terkait dengan manusia dan juga manfaat. Dalam konteks perguruan tinggi, tiga p ini perlu dikontesktualisasi dengan baik. Kombinasi optimal ketiganya pun perlu diikhtiarkan bersama.

Hal itu disampaikan Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD dalam acara The 2nd National Sustainability University Leaders Meeting 2021 secara live streaming lewat kanal Youtube UII pada hari Rabu, 21 Juli 2021.

Dalam acara yang mengangkat tema Kepemimpinan dalam Transformasi Kampus Berkelanjutan Pascapandemi itu, Prof Fathul Wahid mengatakan, bagi pemimpin perguruan tinggi, siapa pun dia, tidak sulit untuk memahami, tantangan berat yang dihadapi untuk menjamin keberlanjutan operasi dan akademik perguruan tinggi di masa pandemi ini. Pandemi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi masalah multidimensi,termasuk di dalamnya adalah masalah ekonomi dan pendidikan.

“Saya yakin, derajat tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi berbeda-beda. Setiapnya mempunyai basis terinstal (installed base) yang beragam, termasuk di antaranya, diindikasikan oleh kesiapan infrastuktur teknologi informasi, sumber daya manusia dan sumber pendanaan,” kata Prof Fathul Wahid.

Dikatakan, di masa pandemi Covid-19, pemimpin perguruan tinggi diharuskan memahami masalah dan meresponsnya dengan cepat dan (diikhtiarkan juga) tepat. Kecepatan dan ketepatan respons ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan operasi dan akademik. Namun, setelah 1,5 tahun berjalan, alasan kedaruratan telah berkurang validitasnya.

Menurut Prof Fathul Wahid, perspektif baru perlu digunakan. Pandemi sudah seharusnya tidak hanya dilihat sebagai musibah yang harus dimitigasi, namun juga mengandung berkah tersamar (a blessing in disguise) yang perlu disyukuri. Sikap yang terkesan subtil ini sangat penting, bisa menjadi titik balik: dari mengutuk kegelapan ke menyalakan lilin penerang; dari ratapan menuju harapan; dari hujatan menuju lompatan.

Pespektif ini juga akan menumbuhkan sikap menerima keadaan secara objektif dan memikirkan inovasi untuk meresponsnya, termasuk meningkatkan kualitas akademik. Termasuk di dalamnya adalah inisiatif penguatan ekosistem pembelajaran daring dan peningkatan pengalaman pembelajaran mahasiswa.

“Kami di Universitas Islam Indonesia membingkai respons pandemi Covid-19 dengan tiga pendekatan yang saling terkait: cermat bertahan, sehat berbenah, dan pesat bertumbuh. Bingkai tersebut bisa kita kaitkan dengan keberlanjutan perguruan tinggi, dalam artian yang sangat luas,” kata Prof Fathul Wahid.

Pola pikir di atas, menurut Prof Fthul, jika tidak diletakkan pada perspektf yang luas dan horison yang jauh dapat menjebak kita dalam egoisme, karena cenderung berorientasi ke dalam (inward looking). Keberlanjutan perguruan tinggi juga harus berorientasi ke luar (outward looking) dan dikaitkan dengan pembangunan berkelanjutan untuk kebermanfaatan yang lebih luas. 

Dikatakan, ada banyak pendekatan dalam melihat pembangunan. Di antaranya adalah pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi (development as economic growth), pembangunan sebagai kehidupan yang lestari (development as sustainable livelihood), dan juga pembangunan sebagai kemerdekaan (development as freedom).

“Setiap bingkai mempunyai asumsi dan juga konsekuensi, baik yang dikehendaki (intended consequences) maupun yang tidak dikehendaki (unintended consequences). Tentu, sambutan ini terlalu singkat untuk mendiskusikan beragam pendekatan tersebut,” kata Rektor UII. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here