Home News Kastil yang Unik, Indah dan Nyaman di Bukit Menoreh

Kastil yang Unik, Indah dan Nyaman di Bukit Menoreh

2059
0
Griya yang tersusun dari batu bata merah yang rapi seolah tanpa perekat di Gubug Ibu Kita, Bukit Menoreh, Kamis (9/1/2020). Bagian atas jendela melengkung, dengan dinding banyak ditempel bebatuan mengesankan bangunan tua di Eropa. Foto: Anton Sumarjana

BERNASNEWS.COM – Bukit Menoreh di Kabupaten Kulon Progo memeluk banyak pesona. Selain legenda ‘Api di Bukit Menoreh’ karya SH Mintarja, juga pemandangan alam pegunungan yang menggetarkan sukma. Juga hawa sejuk pada larut malam yang menyusutkan raga.

Gubug Ibu Kita, griya unik laksana kastil, terdapat di sisi selatan jalan jalur Jalan Raya Wates – Muntilan, Dusun Bogo ke atas, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (9/1/2020). Foto: Anton Sumarjana

Ada pula gua-gua berstalaktit dan stalakmit indah seperti Kiskendo dan Seplawan. Satu lagi magnet hamparan perbukitan yang memisahkan Kabupaten Kulon Progo dari Kabupaten Purworejo ini adalah keberadaan tempat-tempat peziarahan. Peziarahan bernafas Katolik adalah Gua Maria Lawangsih di Pelemdukuh dan Gua Maria Sendangsono di Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo. Sedang tempat tetirah ada makam bangsawan Pakualaman di Girigondo dan makam Nyi Ageng Serang di Kalibawang.

Ruang utama berfungsi sebagai ruang pamer benda-benda rohani seperti tempat lilin, lilin, rosario, patung-patung orang kudus dan lain-lain. Jendela melengkung membingkat pemandangan alam perbukitan yang indah. Foto: Anton Sumarjana

Satu lagi obyek unik di perbukitan Menoreh. Sebuah bangunan layaknya kastil di negara-negara kerajaan di Eropa, yang banyak muncul di film-film horror tentang Drakula, tiba-tiba mencuri perhatian di sisi jalan selebar tiga meteran  jalur Jalan Raya Wates-Muntilan ke arah Gua Maria Sendangsono di titik dusun Bogo ke atas. Griya unik ini tampak berdiri kokoh menghadap ke jalan, berlatar ceruk bukit dengan aneka pepohonan seperti pohon durian, jati, pete dan lain-lain.

Pemilik griya yang tampak lain dari pada rumah-rumah di kawasan perbukitan itu adalah pasangan suami istri Pius dan Etty. Mereka membuka usaha souvenir benda-benda rohani dan rumah makan di bangunan berarsitektur uni serupa kastil atau kastel itu.

Bangunan joglo di bagian belakang berfungsi sebagai rumah makan. Foto: Anton Sumarjana

Bangunan bertingkat yang mulai digunakan sejak September 2019 ini berdinding batu bata merah. Susunan batu bata merah itu sangat rapi dan terkesan tanpa perekat, hanya ditumpuk saja. Warnanya merah bata asli. Griya ini dibangun menyesuaikan kontur tanah yang berupa teras sharring, sehingga banyak undak-undakan atau tangga di dalam griya ini.

Griya ini dibagi menjadi dua bagian. Bangunan di depan difungsikan sebagai toko souvenir benda-benda rohani kristiani. Dan bagian belakang digunakan sebagai tempat makan. Di bagian depan, jika Anda masuk, langsung akan disambut patung-patung orang-orang kudus. Ada patung Bunda Maria dan Yesus, dan para santo santa.

Patung dan benda rohani, terpajang di ruang depan setelah pintu utama. Foto: Anton Sumarjana

Selajutnya, Anda bergerak ke kanan menuruni beberapa anak tangga, sampailah di ruang utama. Di sini di rak-rak yang unik, dipajang benda-benda rohani seperti rosario, lilin, patung-patung kecil, tempat lilin, buku-buku ibadat dan lain-lain.

Di dinding ruang utama ini, di sisi selatan, ada jendela terbuka yang lebar. Jendela dengan bagian atasnya melengkung ini seolah menjadi bingkai lukisan alam dimana di ujung luar yang jauh terhampar pemandangan lembah, lereng bukit dengan aneka pepohonan.

Di bagian belakang berupa rumah bergaya joglo, tetapi bertingkat. Bangunan ini dipakai sebagai rumah makan. Dari tempat ini kita bisa memandang lepas lembah hijau dan pereng-pereng bukit Menoreh. Tumbuh pohon-pohon jati, pete, durian dan lain-lain. Angin pun menyapa lembut dan kadang-kadang lebih terasa hembusan angin mengencang saat kita duduk santai menikmati menu tradisional Jawa.

Lobbi Gallery & Café ‘Gubug Ibu Kita’ di Bukit Menoreh. Foto: Anton Sumarjana

Ada geblek, mendoan, pisang goreng, mi goreng, mi rebus, nasi goreng, nasi rames dan lain-lain. Juga minuman-minuman yang menghangatkan tubuh, seperti wedang sere, wedang uwuh, wedang jahe, dan sebagainya.

Inilah Gallery & Cafe “Gubug Ibu Kita” (GIK}.  Anda menginginkan selingan ringan dalam perjalanan wisata? Silakan singgah di tempat ini. Lokasinya berjarak 1 km mendekati Gua Maria Sendangsono. Salah satu tempat unik, sisi lain dari tempat peziarahan yang melegenda, Gua Maria Sendangsono, yang terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DIY. (Anton Sumarjana, Pengelola Biro Perjalanan Christour Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here