Karina KAS, Figur Romo dan Karya-karya Sosial untuk Masyarakat Luas

    2159
    0
    Direktur Karina KAS Romo Martinus Sutomo Pr berada di depan Gedung Karina KAS, yang berlokasi di kompleks Gereja St Yohanes Rasul Pringwulung, di Desa Condongcatur, Depok, Sleman, DIY. Foto: Dokumentari Karina KAS

    BERNASNEWS.COM – Seorang imam Katolik itu identik dengan memimpin misa atau Ekaristi. Biasanya, seorang imam atau pastor, atau di Jawa biasa dipanggil romo, bertugas atau berkarya di paroki. Istilah dalam Gereja Katolik, seorang romo adalah gembala umat. Kalangan awam atau masyarakat pada umumnya, belum banyak yang mengetahui, seorang romo yang berkarya di luar paroki. Misalnya romo yang berkarya di lembaga pendidikan dan lembaga sosial. Tugas utamanya adalah melayani masyarakat luas, tidak terbatas di lingkup umat Katolik.

    Salah seorang romo yang bertugas melayani masyarakat luas adalah Romo Martinus Sutomo Pr. Imam diosesan atau Keuskupan Agung Semarang ini adalah Direktur Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang (Karina KAS), sejak Juli 2019. Karina KAS berkedudukan di kompleks Gereja St Yohanes Rasul Pringwulung. Paroki St Yohanes Pringwulung, termasuk wilayah gerejani Kevikepan DIY, Keuskupan Agung Semarang. Atau termasuk wilayah pemerintahan Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY.

    Ketika dtemui di kantornya beberapa waktu lalu, pria yang lahir di Klaten, 19 November 1981 ini, tampak sedang sendirian. Beberapa orang staf Karina KAS bekerja di rumah. Romo Tomo baru saja menyelesaikan rapat online bersama Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko. Apa yang dibicarakan dalam rapat itu? Romo Tomo mengungkapkan, mereka membicarakan penanganan warga terdampak wabah  virus Corona atau Covid 19, yang ada di wilayah KAS, meliputi DIY dan sebagian Provinsi Jawa Tengah.

    Dalam merespon wabah Covid 19, Karina KAS memberikan APD kepada rumah sakit, klinik dan Puskesmas. Salah satu yang diberikan adalah Puskesmas Playen di Gunung Kidul ini. ” Foto : Dok Karina KAS

    Keseimbangan

    Melakoni panggilan menjadi seorang imam sekaligus pelayan masyarakat, membuat Romo Tomo merasa sebagai seorang imam yang mempunyai keseimbangan. Romo Tomo menjelaskan, pada saat impin misa atau berkegiatan rohani, itu merupakan ungkapan iman dirinya kepada Tuhan. Lalu, perwujudan imannya itu dinyatakan dalam karya sosial ini. “Di sini saya berjumpa dengan orang-orang yang susah, yang perlu bantuan,” tegasnya.

    Romo Tomo berkisah tentang pengalamannya berada di antara para korban tsunami di Palu, Sulawesi Tengah pada 2018. Ia ikut merasakan suasana tidak nyaman di lokasi. Ia berada di dalam tenda yang panas dan ikut merasakan kesedihan para pengungsi yang tidak punya apa-apa. Romo Tomo juga mengalami telat makan dan kurang tidur. “Saya merasa Allah menyapa saya. Dan saya mewujudkan kasih itu kepada warga yang membutuhkan bantuan,” tuturnya.  

    Pengalaman-pengalaman nyata di lapangan itu yang menggerakkan dirinya untuk membantu para korban bencana. Menurutnya, jika ada niat baik, Allah akan membantu kita melalui orang-orang di sekitar kita. “Saya bersyukur boleh menjadi saluran cinta kasih Allah, sehingga  dengan karya-karya di Karina KAS ini, banyak orang mengalami kasih Allah. Banyak sekali yang menyebutkan merasa bersemangat kembali, diperhatikan, dan hidup kembali,” katanya.

    Karina KAS, melalui karya-karya untuk masyarakat luas, menurut Romo Tomo, merupakan tanda kehadiran Gereja di tengah masyarakat. “Karya-karya  Karina KAS itu kalau dilihat lebih banyak untuk masyarakat umum,” ujarnya.

    Terkait Wabah Covid-19

    Imam yang ditahbiskan atau resmi menerima perutusan sebagai seorang romo di KAS pada 19 Juli 2018 ini, menjelaskan, dalam merespon wabah Covid 19, Keuskupan Agung Semarang mempunyai program “KAS Peduli Negeri”. Karina KAS sebagai lembaga sosial milik KAS bertugas melaksanakan program ini. “Kami telah menyiapkan dan melaksanakan tiga program bantuan kepada masyarakat terdampak wabah Covid 19,” tutur Romo Tomo.          

    Para relawan Karina KAS sedang memberikan bantuan pangan kepada warga masyarakat Semarang. Bantuan diberikan di depan Gereja Katedral Semarang. Foto : Dok Karina KAS

    Tiga program itu, menurut Romo Tomo, pertama, berupa pembagian Alat Pelindung Diri (APD). Ada tiga kelompok penerima APD yang berjumlah 37 unit ini, yaitu kelompok pertama adalah para petugas medis di rumah sakit, klinik dan Puskesmas. Kelompok kedua adalah warga masyarakat dan umat Katolik yang Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD). Kelompok ketiga adalah para relawan di paroki-paroki yang turun ke lapangan membagikan bantuan pangan. Hingga 28 April 2020, Karina KAS telah memberikan bantuan berupa masker (medis dan non medis) sebanyak 50.971 pcs, dan sarung tangan sebanyak 22.100 pcs.

    (Baca juga : PSE Petrus Kanisius Wonosari Bagikan Beras pada Warga Terdampak Covid-19)

    Program kedua adalah pembagian pangan kepada warga masyarakat dan umat yang KLMTD. Bantuan pangan ini diberikan dalam bentuk sembilan bahan pokok atau sembako dan nasi bungkus. Dan program ketiga berupa edukasi kepada masyarakat. Edukasi ini berupa penyebaran leaflet terkait Covid 19, pengadaan alat cuci tangan (wastafel portabel) di pasar-pasar induk di DIY, Semarang dan Surakarta. Karina KAS bekerja sama dengan Komisi Komunikasi Sosial KAS membuat video tentang cara mencuci tangan dan pembuatan cairan pembersih.

    (Baca juga : Tim PSE Gereja St Petrus dan Paulus Babadan Berbagi Kasih)

    Romo Tomo juga menjelaskan, dalam melaksanakan program ini, Karina KAS sangat dibantu oleh para relawan dan jejaring Karina KAS. Mereka yang masuk Jejaring Karina KAS terdiri dari Caritas Indonesia, Paroki se KAS, kelompok-kelompok umat, komunitas relawan, Orang Muda Katolik, dan unsur pemerintahan setempat. Karina KAS dan jejaringnya inilah yang menghimpun dana, dan menyalurkan bantuan ke warga terdampak Covid 19. Selain itu, untuk mengurangi kegiatan di luar, bantuan juga dikirimkan melalui jasa pengiriman.

    Apa itu KARINKAS?

    Seperti dikutip dari Web Karina KAS, KARINAKAS atau Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang berdiri pada 12 Juni 2006, dua minggu sesudah gempa 5,9 skala Richter menghantam DIY dan sebagian Jawa Tengah. Ketika itu ada 6.235 orang meninggal, ribuan terluka, puluhan ribu jiwa kehilangan tempat tinggal, ribuan bangunan hancur.

    Di bawah kepemimpinan Uskup Agung Semarang waktu itu, Mgr I Suharyo (kini Uskup Agung Jakarta dan Kardinal, red), KARINAKAS didirikan untuk memberikan pelayanan tanggap darurat bagi korban gempa. Mandat yang diemban KARINAKAS adalah menjadi wajah sosial Gereja Keuskupan Agung Semarang.

    Pada perjalanan selanjutnya, KARINAKAS melewati fase emergency, post emergency dan rehabilitasi. Hingga awal 2008, aktivitas KARINAKAS masih berada dalam lingkup proses pemulihan pasca gempa. Rekonstruksi bangunan (rumah dan bangunan pendidikan), asistensi sosial, pemberdayaan kehidupan sosial menjadi pusat perhatian.          

    Pada 2009, KARINAKAS beranjak dari tema gempa Yogya 2006. Secara partisipatif dirumuskan rencana strategis KARINAKAS 2009-2013. Program yang menjadi fokus adalah rehabilitasi bersumberdaya masyarakat, pengurangan risiko bencana dan pemberdayaan masyarakat mandiri.

    KARINAKAS merupakan anggota keluarga besar CARITAS INTERNATIONALIST yang berpusat di Roma, dan keluarga CARITAS INDONESIA (KARINA KWI), yang berpusat di Jakarta. Dalam koordinasi dengan KARINA KWI, KARINAKAS bersama dengan ratusan anggota CARITAS dari Indonesia dan berbagai negara seluruh dunia bersama-sama mewujudkan tata dunia yang lebih adil bagi semua orang, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Iman Gereja pada Allah yang digali dari Tradisi dan Kitab Suci menjadi sumber inspirasi dan semangat dalam melaksanakan mandat KARINAKAS.

    Pada tahun 2017, KARINAKAS  berusia 11 tahun. Secara kelembagaan, gerak dan karya KARINAKAS selama 11 tahun berada di bawah Keuskupan Agung Semarang berdasarkan Surat Keputusan Uskup tanggal 12 Juni 2006. Namun sejak tanggal 9 Agustus 2017, KARINAKAS menjadi Yayasan yang berbadan hukum dan memiliki NPWP sendiri. Akta pendirian Yayasan KARINAKAS bernomor 28 tertanggal 9 Agustus 2017.

    Namun demikian, arah dan gerak Yayasan KARINAKAS tetap mengacu pada arah dan gerak Keuskupan Agung Semarang, khususnya bergerak dalam bidang sosial dan kemanusiaan. Secara gerejawi, KARINAKAS berada di bawah koordinasi Komisi PSE KAS. Program yang menjadi fokus saat ini adalah : Tanggap Bencana, Pengurangan Risiko Bencana dan Inklusi Sosial. (Anton Sumarjana, penulis lepas, tinggal di Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here