Home Ekonomi Kajian Strategis Penyusunan Roadmap Transformasi Struktur Ekonomi Nasional

Kajian Strategis Penyusunan Roadmap Transformasi Struktur Ekonomi Nasional

415
0
Direktorat Perencanaan Makro dan Analisis Statistik, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas RI selenggarakan Kick off Meeting , Kamis (23/1/2020). Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM — Direktorat Perencanaan Makro dan Analisis Statistik, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas RI selenggarakan Kick off Meeting dengan topik “Kajian Strategis Penyusunan Roadmap Transformasi Struktur Ekonomi Nasional”, Kamis (23/1/2020), di Hotel Marriot, Yogyakarta. Tampil sebagai narasumber dalam forum tersebut Ichsan Zulkarnaen (Asisten Deputi Pengembangan Investasi, Kemenko Perekonomian RI), Amirullah Setya Hardi (FEB UGM), dan Y. Sri Susilo (FBE UAJY / Atma Jogja).

Menurut Eka Chandra Buana (Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI) tujuan kick off meeting  dalam bentuk focused group discussion (FGD) adalah menyusun “Roadmap Transformasi Struktur Ekonomi Nasional”.

“Hal tersebut sejalan dengan salah satu arahan presiden, untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi lima tahun ke depan diperlukan transformasi ekonomi,” ungkap Eka Chandra Buana.

Sementara, Ichsan Zulkarnaen menyampaikan makalah dengan topik “Perkembangan Investasi Indonesia”. ”Total investasi langsung  pada kuartal ketiga tahun 2019 mencapai Rp 205.7 triliun, tumbuh 18.54% dibandingkan periode yang sama tahun 2018,” jelas Ichsan. Sedangkan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 100.7 triliun (naik 18.9%) dan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 105,0 triliun (naik 17,8%) dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018.

Lebih lanjut Ichsan, menyatakan, pemerintah memacu pertumbuhan ekonomi sebesar 6% per tahun, untuk dapat menampung dua juta pekerja baru. Untuk itu diperlukan investasi baru sebesar Rp 4.800 triliun (setiap 1% pertumbuhan ekonomi, memerlukan Rp 800 Triliun). “Investasi yang dimaksud adalah bersumber dari pemerintah, BUMN, swasta, penanaman modal dalam negeri, dan penanaman modal asing,” ujarnya.

Amirullah Setya Hardi yang diwakili oleh Bintang Mahfatih menyampaikan paparan dengan topik “Pelaksanaan Transformasi Ekonomi”. Transformasi ekonomi terjadi apabila terjadi pergeseran kontribusi sektor primer (misalnya diwakili sektor pertanian) terhadap produk domestik bruto (PDB) yang semakin menurun, kemudian diikuti oleh meningkatnya kontribusi sektor sekunder (diwakili industri manufaktur/pengolahan) dan meningkatnya kontribusi sektor tersier (diwakili sektor jasa), demikian penjelasan Amirullah.

“Pergeseran tersebut sejalan dengan meningkatnya pembangunan ekonomi suatu negara, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Menurut Amirullah, transformasi ekonomi juga dialami oleh Indonesia. Sejalan dengan perkembangan ekonomi maka kontribusi sektor tersier menjadi paling tinggi, kemudiaan diikuti sektor sekunder dan sektor primer. “Berdasarkan data BPS (2018), kontribusi sektor primer (19%), sekunder (31%), dan tersier (50%), dengan demikian kontribusi sektor tersier paling tinggi dibandingkan sektor primer dan sekunder,” tegas Amirullah.

Nara sumber dari kiri, Bintang Mahfatih (mewakili Amirullah Setya Hardi), Y. Sri Susilo, Ichsan Zulkarnaen, dan moderator. (Foto: Istimewa)

Y. Sri Susilo dosen FBE Atma Jogja menyampaikan paparan dengan judul “Mendorong Industri Manufaktur di Indonesia”. Upaya mendorong industri manufaktur tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah pusat (Kemenperin dan Bappenas), namun juga menjadi tugas stakeholders (pentahelix) yang lain (Pemda, Asosiasi Pengusaha/Profesi, PTN/PTS, Komunitas , dan Media).

“Pengembangan industri manufaktur baik skala mikro, kecil, menengah, dan besar harus bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing, inovasi dan sejalan dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0,” beber Y. Sri Susilo.

Hal yang penting terkait dengan mendorong industri manufaktur, menurut Y. Sri Susilo adalah diperlukan kebijakan dan iklim yang mendorong inovasi. Dapat dilakukan dengan  mendorongR&D/ Litbang dengan memberikan insentif pajak bagi pelaku inovasi. “Upaya lain yang dapat dilakukan adalah membangun innovation center untuk mempercepat proses pengembangan inovasi (innovation led growth),”ungkapnya.

Kegiatan Direktorat Perencanaan Makro dan Analisis Statistik,  Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI ini berlangsung sejak Rabu (22/01/20) sampai dengan Jumat (24/01/20). Selain FGD, beberapa kegiatan yang dilakukan adalah internal meeting terkait dengan persiapan kegiatan, progress report 2019 dan agenda kegiatan 2020, serta menyusun laporan kegiatan. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here