Tuesday, June 28, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsKAGAMADOK : Perlunya Bapak Asuh bagi Anak Stunting

KAGAMADOK : Perlunya Bapak Asuh bagi Anak Stunting

bernasnews.com – Ketua KAGAMADOK dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), yang juga Kepala BKKBN Pusat, mengajak para alumni Angkatan 1986 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk dapat menjadi bapak asuh bagi anak stunting sebagai salah satu solusi mengatasi masalah tersebut. Ini akan memberikan makna almamater UGM melalui Panitia Dies Natalis ke-77 FK KMK UGM memberikan karya yang menyentuh masyarakat.

“Kalau para dokter alumni Angkatan 1986 FK UGM berkenan membantu stanting sebagai bapak asuh, merupakan karya monumental. Menurut riset kami, kebutuhan anak stanting Rp 15 ribu perorang perhari dan dalam waktu enam bulan membutuhkan biaya Rp 2,7 juta perorang. Selama enam bulan itu terus kita pantau bagaimana pertumbuhannya,” kata Hasto Wardoyo ketika menerima audiensi melalui zoom meeting Panitia Dies Natalis ke-77 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK KMK) UGM Yogyakarta yang dilaksanakan oleh Alumni Angkatan 1986 FK UGM, Selasa (7/6/2022).

Secara umum, Ketua KAGAMADOK mengapresiasi rencana yang disusun oleh panitia dies untuk melaksanakan serangkaian kegiatan sejak beberapa waktu yang lalu hingga puncak dies bulan Maret 2023. Rangkaian kegiatan dibagi dalam tiga menu yakni bakti sosial, seminar ilmiah, dan pentas seni budaya.

“Ini merupakan perpaduan agenda yang bagus ya. Saya sangat mengapresiasi para teman sejawat dokter UGM, khususnya angkatan 1986, yang merancang program dies hingga sukses nantinya dan menyentuh kebutuhan masyarakat,” kata dia.

Ketua Panitia dr Kondang Usodo mengatakan bahwa tahun ini Dies Natalis ke-77 FK KMK UGM Yogyakarta mengangkat tema tentang Kesehatan dan Budaya. Dalaam hal ini, mereka akan melakukan beragam kegiatan seperti bakti sosial hingga pemberian materi tentang kesehatan utamanya terkait stunting. Kondang menyebut bahwa topik terkait stunting ini merupakan isu serius bagi masyarakat Indonesia.

“Kita akan support terkait stunting baik dari sisi material ilmiah maupun workshopnya, juga ada bakti sosial kemudian kegiatan pada waktu lapangan,” kata dia.

Adapun sejauh ini agenda yang telah mereka laksanakan meliputi pemberian materi parenting yang juga terkait dengan stuntung di Klaten dan Purbalingga.

“Kami sudah memulai dengan nateri parenting dengan melakukan pelatihan di Klaten dan Purbalingga secara pararel baik online dan harapannya juga offline. Kegiatan ini merupakan peran kami untuk pencegahan deteksi dini terkait stunting,” ungkapnya.

Melalui tema ini, panitia ingin menekankan bahwa kesehatan dan budaya memiliki hubungan yang erat. Ada tradisi budaya di masyarakat Indonesia yang berhubungan dengan kesehatan, khususnya saat ibu hamil dan melahirkan.  (van/mar)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments