Home News Kafegama DIY dan BI Gelar Lirik Lurik #1 Tahun 2020, Sebagai Mahakarya...

Kafegama DIY dan BI Gelar Lirik Lurik #1 Tahun 2020, Sebagai Mahakarya Jogja Kepada Dunia

670
0
Anggota Kafegama DIY menggelar event Lirik Lurik #1 , Selasa Wage (14/1/2020), di Titik 0 Jalan Malioboro, Yogyakarta. (Foto: Dok. Humas Kafegama DIY)

BERNASNEWS.COM — Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (Kafegama) bekerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Selasa (14/1/2020), menyelenggarakan event “Lirik Lurik #01 Tahun 2020”. Acara tersebut diselenggarakan di dua tempat yang berlokasinya berdekatan. Pertama diselenggarakan di Titik 0 Km tepatnya di depan Senisono, berupa acara “Ngumpul Bareng Berbusana Lurik”. Tujuan dari kegiatan tersebut untuk memasyarakatkan kembali berbusana lurik kepada masyarakat, khususnya yang berada di sekitar Titik 0 Km. Juga sekaligus turut memeriahkan acara Selasa Wage di Malioboro.

Desainer Busana Dadang Koesdarto sedang memperlihatkan salah satu karya busana dengan berbahan kain lurik. (Foto: Dok. Humas Kafegama DIY)

Acara kemudian dilanjutkan “Ngobrol Santai, Lirik Lurik Sebagai Maha Karya Jogja Kepada Dunia” di Gedung Heritage BI DIY, dengan narasumber Hilman Tisnawan (Kepala Perwakilan BI DIY), Bogat Agus Riyono (Ketua Kafegama DIY), dan Dadang Koesdarto (Desainer Busana). Bertindak sebagai moderator Ronny Sugiantoro (Humas ISEI Cabang Yogyakarta/ Jurnalis Senior). “Tujuan acara ngobrol santai ini adalah menyamakan persepsi untuk membangkitkan kembali industri lurik dan mendorong masyarakat untuk menggunakan busana lurik dalam kegiatan bekerja maupun aktivitas lainnya,” terang Y. Sri Susilo selaku Humas Kafegama DIY, Selasa (14/1/2020).

Hilman Tisnawan selaku Kepala Perwakilan BI DIY, menegaskan, BI mendukung usaha membangkitkan kembali industri Lurik dan merupakan bagian dari kebijakan BI dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Komitmen BI dalam pengembangan UMKM sampai saat diwujudkan dalam kebijakan UMKM Go Digital dan Go Export. “Untuk produk kain Lurik sebelum sampai tahap Go Digital dan Go Export, perlu upaya untuk mebangkitkan kembali industri Lurik di bagian hulu dan pengembangan produk busana Lurik di bagian hilirnya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Kafegama DIY Bogat Agus Riyono, menyatakan, industri Lurik, baik Alat Tenun Mesin (ATM) dan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) seharusnya diukung oleh seluruh pemangku kepentingan agar bangkit kembali seperti masa kejayaaannya dulu. Bentuk dukungan dapat dimulai misalnya seluruh kantor pemerintah daerah dan swasta pada hari tertentu menggunakan busana Lurik. Mungkin cukup sekali seminggu, seperti halnya baju Batik.

“Kepedulian pemangku kepentingan (pentahelix) yaitu pemerintah (pusat dan daerah), asosiasi pengusaha, perguruan tinggi, komunitas masyarakat dan media cetak/ elektronik, sangat diperlukan. Kepedulian tersebut dapat dalam bentuk dana, pemikiran, dan bentuk lainnya,” ungkap Bogat Agus Riyono.

Anggot Kafegama DIY berbusana Lurik sedang bergaya di Titik 0, menyemarakan acara Selasa Wage (14/1/2020). Foto: Dok. Humas Kafegama DIY.

Menurut Dadang Koesdarto sebagai nara sumber dan desainer terkemuka, mengatakan, dalam kurun waktu terakhir peminat busana Lurik cenderung berkurang dan kalah dengan Batik. Padahal Lurik dapat dikembangkan sebagai busana yang adiluhung seperti halnya Batik. “Usaha Kafegama DIY dan Kantor Perwakilan BI DIY untuk membangkitkan kembali industri Lurik oleh seluruh pemangku kepentingan patut dipuji,”ujar Dadang Koesdarto. Sebagai desainer busana, lanjut Dadang Koesdarto berniat untuk mengajak komunitas desainer dan model untuk bergabung guna pengembangan UMKM Lurik di DIY.

Y. Sri Susilo, Humas Kafegama DIY, menambahkan, event Lirik Lurik akan tetap diselenggarakan di sekitar Tiitik 0 Km dan sepanjang Jalan Maliboro dengan tujuan utama sosialisasi busana Lurik. “Menurut rencana event Lirik Lurik akan diselenggarakan secara kontinyu setiap momentum Selasa Wage. Untuk event selanjutnya, diharapkan seluruh pemangku kepentingan berpartisipasi mendukung event Lirik Lurik. Salam Lurik,” imbuh Y. Sri Susilo. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here