Home Opini Jurnalistik Bisnis, Bisnis Jurnalistik

Jurnalistik Bisnis, Bisnis Jurnalistik

293
0
YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi. Foto : Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM – Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar dapat hidup merdeka dan mengatur diri sendiri. Sejumlah syarat ditetapkan untuk mewujudkan hal itu.

Menurut Bill Kovach dan Tom Rosentiel (2001), kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, kemudian menekankan loyalitas kepada warga, disiplin dalam verifikasi, menjaga independensi, pemantau kekuasaan, menyediakan forum publik, berupaya membuat hal yang penting, menjaga berita komprehensif dan proporsional, serta praktisinya mengikuti nurani mereka.

Informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk dapat hidup merdeka dan mengatur diri sendiri beragam dan memiliki tingkatan sesuai dengan status dan kebutuhan mereka. Informasi ada yang bersifat umum, ada yang bersifat khusus atau spesialis, dan ada yang sangat khusus atau super spesialis. Informasi dapat disajikan sebelum sebuah acara kegiatan diadakan, dapat disajikan secara langsung saat kegiatan diadakan, dan dapat disajikan sesudah kegiatan berlangsung.

Keberadaan dan keberlangsungan jurnalistik dan media pers sangat membutuhkan dukungan dan kebersamaan banyak pihak. Di antaranya adalah generasi muda, khususnya di kalangan perguruan tinggi. Salah satu bentuk kepedulian mereka terhadap jurnaslitik dan media pers adalah dengan mengadakan workshop jurnalistik, melakukan pengawasan konten media, penerbitan pers mahasiswa, menulis buku, dan sebagainya.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengadakan Workshop Jurnalistik bertema Show Your Critical Thinking Through Journalistic Writing di kampus setempat, Jumat pagi (2/7/2021) secara zoom. Tampil sebagai pembicara praktisi media YB Margantoro dan kartunis/komikus Bambang Marsatriantoro.  

Semakin marak

Media pers sebagai wahana untuk menyalurkan informasi atau pesan selama ini berupa media cetak, media elektronik, dan multi media. Untuk yang terakhir, dalam bentuk media online, kini hadir semakin marak dan dirasakan menjadi kebutuhan utama. Terasa pula bahwa strategi konvergensi media, yakni lembaga media yang dapat menyajikan informasi secara sinergis melalui tiga bentuk media yang dimiliki, semakin menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan dalam persaingan pasar.

Terlepas bahwa produk media cetak, terutama koran, tabloid dan majalah, yang  kian berkurang produk atau oplahnya karena minat membaca publik yang bergeser ke media online, namun jurnalisme sebagai sebuah gerakan peradaban, jurnalistik sebagai ilmu kewartawanan, dan media pers sebagai saluran informasi akan tetap ada dan dibutuhkan. Yang berubah dan berinovasi adalah platform media dan isinya.

Tanpa bermaksud mengagungkan salah satu isi atau elemen media, dan mengabaikan isi lainnya, secara faktual selama ini isu sosial politik, hukum, hiburan, olahraga menjadi produk yang terasa dominan disajikan oleh media. Bagaimana dengan elemen lainnya, seperti bisnis atau ekonomi misalnya.

Sektor bisnis sebenarnya penting dan tidak boleh diabaikan, seperti halnya sektor pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan sebagainya. Namun di media umum, isu bisnis lebih sering tampil di halaman dalam. Kecuali ada isu atau masalah bisnis yang berdampak besar, baru ditampilkan di halaman etalase. Selebihnya, isu bisnis diwadahi di halaman atau rubrik bisnis ekonomi.

Kembali ke genre jurnalistik khusus, dalam hal ini jurnalistik bisnis, kiranya memiliki peran strategis dalam pembangunan dan menjadi kebutuhan penting bagi para pelaku bisnis. Informasi, peristiwa, kebijakan, dan harapan di sektor ekonomi bisnis tidak cukup lagi diwadahi dalam rubrik bisnis di media umum, namun perlu digarap secara komprehensif dan menarik dalam produk media khusus sendiri. Selama ini, di pasaran umum media di Indonesia, media khusus bisnis itu eksis dan berkembang. Salah satunya adalah Harian Bisnis Indonesia.

Kalau genre jurnalistik bisnis menjadi kebutuhan dan tantangan manajemen media pada umumnya, di sisi lain, bisnis jurnalistik harus mampu membuka peluang dan mengembangkan jurnalistik bisnis itu sendiri. Bisnis jurnalistik ini dapat dimulai dari sisi keilmuannya dengan mendirikan lembaga pendidikan dan latihan jurnalistik warga sampai lembaga pendidikan jurnalistik formal, kemudian bisnis produk media (seminar, buku, merchandise, dan sebagainya), event organizer dan sebagainya.

Siapa yang pas berada di kapal jurnalistik bisnis dan bisnis jurnalistik? Tentu saja adalah mahasiswa/lulusan fakultas bisnis, praktisi bisnis, praktisi manajemen, serta praktisi jurnalis dari komunikasi, hukum, dan ilmu-ilmu penunjang lainnya. Mereka harus menata diri, berkolaborasi, berkreasi dan berinovasi, serta siap mengisi masa depan yang selalu berubah.

Para pengasuh media bisnis dan bisnis media ini harus selalu siap menjalani dan melakukan transformasi bisnis media di era disrupsi digital yang terus terjadi. Mereka adalah insan-insan pembelajar yang visioner dan pantang menyerah, yang turut mengisi pembangunan demi kesejahteraan bersama melalui produk budaya peradaban berupa media jurnalistik bisnis.

Keberhasilan sektor ekonomi bisnis, mulai dari usaha mikro kecil menengah (UMKM) sampai usaha besar multi nasional yang menjadikan masyarakat sejahtera, kiranya menjadi perjuangan dan dambaan setiap bangsa dan Negara di manapun. Untuk memulai hal itu, dan terus berlanjut sesuai dengan perkembangan zaman, kita awali  dengan memiliki sebuah kesadaran bermedia (bisnis), kemudian memiliki pengalaman bermedia (bisnis) dan hubungan media (bisnis). 

Dengan diawali sadar media, bersama sadar lainnya (seperti sadar pendidikan, sadar lingkungan hidup, sadar hukum, dan sebagainya), sebuah perjuangan dan impian akan dimudahkan untuk diwujudkan bersama. Semoga jurnalistik bisnis, dan bisnis jurnalistik beserta medianya tetap eksis dan berkelanjutan. (YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here