Friday, May 20, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniJogja yang Hilang

Jogja yang Hilang

bernasnews.com – Seumur hidup saya belum pernah merasakan pendidikan di luar negeri. Sumpah, semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, saya jalani di dalam negeri, maksudnya di sekolah negeri, bukan sekolah swasta. Dan semuanya di Jogja.

Kuingat bagaimana asiknya bersekolah di Jogja pada waktu itu tahun 80-an. SMA saya di dekat jalan yang kondang se-antero negeri, Jalan Malioboro. Jika pelajaran olah raga, kami para siswa pagi-pagi sekali sudah berkumpul di Alun-alun Utara. Kami bercampur dengan siswa-siswi sekolah lain. Campur baur dan tidak ada tawuran. Tidak ada saling mengejek. Malah lirik-lirikan cari yang cakep-cakep. Damai nan indah kala pagi di alun-alun itu.

Bukan hanya di kawasan alun-alun yang dikitari Masjid Agung, Museum Sonobudoyo, Sitinggil Kasultanan, kantor pos, bioskop Soboharsono, dan lain-lain, yang penuh kedamaian, seingat saya di kota Jogja tak pernah ada tawuran pelajar. Klitih saat itu belum lahir. Mungkin orangtua mereka juga baru berpacaran.

Itulah salah satu memoriku tentang indah dan damainya Jogja. Kesan sebagai kota pelajar sangatlah terasa.

Salah satu pemandangan lain, misalnya tampak di bus-bus kota. Juga Kobutri dan Pemuda. Pada jam-jam berangkat sekolah, bus kota yang dipenuhi pelajar itu suasana anteng. Tidak ada pengamen. Pencopet ada. Mereka diam-diam nglimpe, cari kesempatan ngrogoh dompet penumpang.

Penampakan khas Jogja. Semua pelajar pada diam. Mereka membaca buku atau kepekan. Itulah yang tampak pada waktu-waktu ulangan umum dan ujian. Pelajar Jogja seperti tak mau kehilangan waktu, meski di perjalanan tetap belajar. Saya yakin mereka yang bertekun belajar di bus kota itu nilai raportnya apik-apik. (Kalau di kota pelajar belajar di bus, di desa pelajar sinau di kuburan)

Kehidupan pelajar di Jogja tak lepas dari kos, bus kota, Syantikara, Shopping Centre, alun-alun, Gembiroloka, bioskop, dan lain-lain.

Khususnya bus kota, saya adalah penumpang setianya. Bertahun-tahun saya menikmatinya. Waktu itu saya hapal jalur-jalurnya. Dan yang paling sering saya naiki adalah Jalur 4, yang lewat Jalan Malioboro dan paling banyak copetnya.

Saya memperhatikan bahasa khusus kru bus kota di Jogja. Bahasa khusus itu, menyuplik bahasa Profesor James Danandjaya yang ahli folklore, disebut slang atau prokem. Namanya bahasa khusus ya hanya dimengerti atau dipahami oleh komunitas penuturnya.

Beberapa kata yang sering terdengar dari mulut para kru bus kota di Jogja, misalnya:

  1. Poin, untuk menyebut calon penumpang yang tampak menunjukkan jari telunjuk di pinggir jalan. “Poin…poin…!’ maka sopir bus buru-buru menepi.
  2. Anggur
    “Anggur…anggur…anggur, sabar pir, sabar..!” Dan jika kenek meneriakkan anggur, sopir pun tahu ada orang tua yang mau naik. Biasanya kenek lalu memegang tangan si nenek atau kakek waktu naik ke bus.
  3. Artis
    Jika kenek berteriak “artis…artis..!” Itu artinya, ada rombongan gadis-gadis yang mau naik.

Dan jika gadis sendirian yang mau naik, si kenek berteriak, “Mbak Endang…mbak Endang…!”
Siapa pun namanya gadis itu diteriakannya mbak Endang. Padahal namanya Surtilah.

  1. Paket
    Nah ini sadis dan teganya-teganya. Kalau Rhoma bilang, terlalu. Mosok kalau perempuan hamil yang nyetop bus, si kenek teriaknya “ati ati pir, paket..paket…paket!” Wah, kurang ajar bener si kenek, perempuan hamil dipanggil paket.

Dan di satu perkuliahan Antropologi Ragawi, pak dosen dari Fakultas Kedokteran sempat-sempatnya berseloroh (waktu itu dia menjelaskan soal asal-usul ras manusia), “Siapa yang paling tahu ragam pantat manusia?” tanyanya. Kami bingung. Lalu dosen menjawabnya sendiri, “kenek bus. Setiap orang yang mau naik dia dorong pantatnya. Khususnya yang perempuan.” Dan para mahasiswa pun terpingkal.

Tentu masih banyak prokem kru bus kota di Jogja. Pembaca pasti menyimpan kosa kata yang ada dalam memori. Sungguh menghibur, dan sekarang ini tampak sumir.

Jogja yang romantis, Jogja yang warganya sarat dengan gaya hidup nyeninya, tampak samar-samar sekarang ini. Maka bisa dipahami jika akhir-akhir ini muncul tagar:Jogya dibangun dari kerinduan.

Semoga para klithik kembali ke-‘rahim’ simbok masing-masing. Dan, warga Jogja menemukan kembali Jogja yang nyeni, Jogja yang adem, ayem lan tentrem. Kita insan-insan Ngayogjakarto merindukan apa saja yang telah hilang tentang Jogja. (Anton Sumarjana, wartawan dan Pengelola Biro Perjalanan Wisata Christour Yogyakarta)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments