Jogja Mahal, Jogja Murah

    339
    0
    Pantai Slili di Gunung Kidul merupakan salah satu destinasi wisata pantai di kawasan selatan Kabupaten Gunung Kidul yang ramai oleh kunjungan wisatawan. Foto : Anton Sumarjana

    BERNASNEWS.COM – DI Yogyakarta ada banyak hal aneh. Salah satunya, fenomena warung-warung makan yang berlokasi tersembunyi (Jawa: ndelik), laaa, kok ruamene pol. Misalnya, kopi klotok di Pakem. Lokasinya 300 meter masuk jalan kampung dari Jalan Kaliurang. Mepet sawah alias mewah. Melewati rumah-rumah penduduk. Untung sih, sudah tidak ada kandang kerbau. Ya, cobalah Anda ke sana, kapan saja (mau pagi, siang, sore, asal bukan tengah malam), dan, pasti Anda akan clingak-clinguk dulu, bingung cari kursi yang masih kosong. La ruame banget. Aneh.

    Coba juga Anda berkunjung ke warung Bakmi Mbah Mo, di Km 11 Jan Parangtritis. Ini jauh dari kota Jogja. Lokasinya tidak persis di pinggir Jalan Parangtritis, tapi masuk jalan kampung. Warung yang mulai buka sore pukul 17.00 hingga larut malam pukul 23.00 ini selalu ramai.

    Tugu Pal Putih menjadi ikon wisata Yogyakarta. Di tempat ini setiap malam tak pernah sepi dari pengunjung, yang menikmati malam dengan berfoto dan makan di Angkringan Tugu khas Jogja. Foto : Anton Sumarjana

    Begitulah tempat-tempat makan di Jogja. Ada yang aneh dari sudut pandang ilmu marketing. Yang masuk akal, rumah makan yang laris dan ramai oleh pengunjung itu jika berlokasi di tepi jalan besar, dekat kota, dan gampang dijangkau. Tentu saja menunya beragam dengan rasa enak, nikmat, apalagi harga murah. Tidak demikian halnya dengan banyak warung makan khas Jogja semacam Kopi Klotok dan Bakmi Mbak Mo, itu. Sulit dijangkau, tapi ruame.

    Anehnya lagi, kadang lokasi warung makan itu bukan saja ndelik, tapi jalan menuju ke tempat itu juga unik. Kita harus melewati jalan kampung, jalan kecil yang membelah tengah sawah atau pinggir sawah, pinggir kuburan, pinggir dapuran bambu, atau pinggir desa. Dan, setelah sampai di lokasi, tempat parkir pun tidak muat lagi.

    Begitulah Jogja, selalu menawarkan pengalaman-pengalaman yang berbeda. Romantisme ala Jogja.
    Ada segalanya . Di Jogja, segalanya ada. Mau memilih menu apa, semua ada. Dari yang menu tradisional Jogja, menu Nusantara, menu kontinental, juga minuman aneka rasa, semua ada. Bakmi Mbah Mo ini hanyalah salah satu tempat makan favorit wisatawan Jogja. Ada puluhan, bahkan ratusan warung makan lain.

    Bukalah google dan ketik kata kunci: kuliner yogya. Sreet…semua informasi tempat makan dan jenis makanan langsung muncul. Khususnya sajian kuliner tradisional khas Jogja bisa Anda pilih: gudeg, bakmi, sate, soto, bakso, mi ayam, wedang ronde, dan lain-lain.

    Sebuah komunitas di Jogja bertemu di rumah makan, menumbuhkan keakraban dan persaudaraan dengan makan bersama di warung makan lesehan. Foto : Anton Sumarjana

    Ragam makanan di Jogja ini memang tak terbatas. Bagaimana dengan harga? Nah, ini masalahnya. Kira-kira dua tahun lalu, warganet dihebohkan dengan postingan dari seorang wisatawan Jogja. Ia mengunggah nota pembayaran senilai Rp 490 ribu, untuk menu makanan di warung tenda pinggir jalan alias kaki lima. Merasa harga itu terlalu mahal, ia nggresulo di medsos.

    Pemda DIY pun bertindak. Warung makan yang getok harga itu ditutup. Ini hanya satu kejadian. Wisatawan yang merasa dirugikan langsung mengunggah pengalamannya di medsos. Mestinya yang ia unggah itu foto-foto cantik tentang dia dan Jogja, bukan pengalaman buruk makan di Jogja.

    Citra Jogja sebagai ‘surga’ kuliner yang enak dan murah, bisa ternoda oleh pengalaman wisatawan seperti ini. Di era digital ini semua bisa menjadi viral. Pengalaman tidak menyenangkan bisa mempengaruhi warga dunia yang berniat liburan ke Yogya. Predikat ‘surga’ kuliner, bisa menjadi ‘neraka’ kuliner.

    Mari kita cek di Google. Kita ketik kata kunci “jogya murah” dan “jogya mahal”. Apa hasilnya? “Jogya murah”, ternyata menjadi kata kunci untuk munculnya jenis-jenis pelayanan wisata seperti paket wisata, tarif hotel dan sewa kendaraan. Bahasa promotif. Apakah kenyataannya benar-benar murah? Ya itu relatif.

    “Jogya mahal” rupanya menjadi kata kunci untuk munculnya berbagai keluhan warganet atas pengalamannya menjadi wisatawan di Jogja. Pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan itu banyak sekali. Dari soal komplain harga makanan, korban kriminal bahkan ada soal korban pelecehan seksual (kasus pelecehan seksual oleh abdi dalem di Alun-alun Utara, contohnya).

    Dua wisatawan tampak sangat menikmati menu khas Yogya, yaitu ingkung ayam kampung. Foto : Anton Sumarjana

    Internet yang diwarnai dengan maraknya medsos ini menjadi seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, medsos bisa dengan cepat memviralkan destinasi-destinasi wisatawan baik yang lama maupun baru ke warga net. Di sisi lain, pengalaman tidak menyenangkan wisatawan bisa dengan cepat menjadi viral dan akibatnya menurunkan minat warga net untuk berkunjung ke Jogja.

    Tapi medsos itu bisa dilihat seperti sebuah cermin. Cermin akan memantulkan gambar apa adanya yang ada di depan cermin itu. Jika industri pariwisata di Jogja baik-baik saja, maka yang akan muncul bertebaran di medsos adalah hal-hal yang positif yang dapat menghidupkan dunia pariwisata Jogja. Semua bergantung pada pelayanan masyarakat Jogja terhadap para wisatawan.

    Mau membuat betah pengunjung, lalu mereka datang dan datang lagi, atau hanya mau untung sebanyak-banyaknya, tapi hanya sesaat dan itu membuat wisatawan kabur selamanya. Yang memantul di cermin itu bukan hanya pernik-pernik terkait langsung dengan industri pariwisata Jogja.

    Juga peristiwa-peristiwa umum di daerah istimewa ini. Kasus intoleransi yang seringkali terjadi, itu juga bisa menjadi penandus industri pariwisata di Jogja. (Anton Sumarjana, Pengelola Biro Perjalanan Wisata Christour Yogyakarta)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here