Home News Prodiakon Perlu Meneladani Pribadi Stefanus yang Rela Berkorban

Prodiakon Perlu Meneladani Pribadi Stefanus yang Rela Berkorban

794
0

BERNASNEWS.COM — Menjadi prodiakon atau pembantu imam dalam melayani umat merupakan panggilan bukan sebagai bentuk pelarian. Bila menjadi prodiakon sebagai pelarian atau karena keterpaksaan maka itu bukanlah sebagai bentuk pelayanan.

“Menjadi prodiakon itu sebagai salah satu bentuk pelayanan yang merupakan buah dari iman. Karena itu, dalam menjalankan tugas pelayanan sebagai prodiakon harus dengan penuh sukacita, bukan sebagai beban apalagi karena keterpaksaan,” kata Romo Robertus Hardianto Pr, Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, dalam ‘wejangan’ pada Pesta Nama Stefanus, Pelindung Prodiakon Paroki Marganingsih Kalasan, di Wisma Yosoputro Homestay & Resto Cupuwatu, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman, Kamis (26/12/2019).

Romo Robertus Hardianto Pr (kiri) di hadapan para prodiakon, Kamis (26/12/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Dalam pesta nama dengan tema Membangun Spiritualitas Prodiakon Bersama Keluarga itu, Romo Robertus Hardianto mengatakan, menjadi prodiakon harus didukung penuh oleh keluarga. Sebab, tanpa didukung keluarga tugas pelayanan sebagai prodiakon bisa jadi sebagai bentuk pelarian.

“Karena dalam keluarga cekcok terus, lalu pilih aktif di gereja dengan menjadi prodiakon, itu bukan bentuk pelayanan tapi sebagai pelarian,” kata Romo Hardianto yang disambut tawa para prodiakon yang hadir bersama pasangan (suami/istri) itu.

Seorang perempuan prodiakon melakukan sharing di hadapan teman-teman prodiakon, Kamis (26/12/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Menyinggung tema Natal nasional yang diangkat KWI/PGI tahu 2019 yakni Hiduplah sebagai Sahabat bagi Semua Orang, menurut Romo Hardianto, tema ini diusung untuk merespon fenomena sosial di masyarakat yang terkotak-kotak. Melalui teman Natal ini, KWI/PGI mengajak seluruh komponen bangsa, khususnya umat Kristiani, untuk selalu bersahabat dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, kelas sosial dan sebagainya. “Umat Kristiani diajak untuk selalu srawung, bersahabat dengan siapa pun. Dan meskipun ditolak saat kita srawung, kita tetap berbuat baik,” kata Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Babadan ini.

Feliks, salah satu prodiakon, yang memandu acara, Kamis (26/12/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Kepada para prodiakon, Romo Hardianto meminta untuk selalu membaca dan merenungkan firman-firman Tuhan lewat Kitab Sucui. Buah dari firman Tuhan adalah doa, dan buah dari doa adalah iman, bukan dari iman dalah pelayanan dan buah dari pelayanan adalah sukacita.

Feliks, salah satu prodiakon yang memandu acara mengingatkan sesama rekan sesama prodiakon agar meneladani semangat pelayanan Stefanus, yang rela berkorban untuk sesama dan mau melayani dengan tulus hati. “Stefanus juga mau melayani janda-janda dan anak-anak,” kata Feliks yang disambut tawa oleh prodiakon lainnya.

Para prodiakon dengan serius mendengar ‘wejangan’ yang disampaikan Romo Robertus Hardianto Pr, Kamis (26/12/2019). Fptp : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Ketua Kelompok Pelayanan Prodiakon, Bidang Liturgi Dewan Paroki Marganingsih Kalasan Robertus Gunarso mengatakan, saat ini Paroki Marganingsih Kalasan memiliki 133 prodiakon yang aktif, tediri dari 24 prodiakon perempuan dan sisanya pria.

Peringatan pesta nama pelindung Prodiakon Paroki Kalasan ini diisi dengan sharing pengalaman dan pembekalan dari Romo Robertus Hardianto Pr. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here