Guru SMA Seminari yang Lebih Suka Hidup Mandiri

    435
    0
    Isidorus Laurensius Parsudi SPd, Guru SMA Seminari Garum Blitar. Foto : Istimewa

    BERNASNEWS.COM – Isidorus Laurensius Parsudi adalah seorang guru seminari yang memiliki banyak julukan. Orang biasa memanggilnya Pak Parsudi, Pak Il dan terkadang Pak Langkir. Ia lahir di Magelang, 5 Juli 1970. Parsudi termasuk orang yang berani mengambil resiko dengan memilih hidup dan berjuang sendiri atau hidu mandiri daripada bersama dengan orangtuanya.

    Di masa-masa sekolah, Parsudi berjuang untuk bisa sekolah. Menempuh pendidikan dari TK, SD, kemudian berlanjut ke SMP Pangudi Luhur, Srumbung, Magelang (1984), SMA Van Lith Muntilan(1987) dan meneruskan kuliah di Universitas Sanata Dharma jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Dengan bangga Parsudi bisa menyelesaikan tugas sebagai mahasiswa dan mendapatkan gelar sarjana.

    Pada tahun 1999, ia mulai bekerja menjadi guru untuk para calon imam di SMA Seminari Garum Blitar. Sejak itu, Parsudi menjadi satu-satunya guru Bahasa Indonesia sampai tahun 2018.

    Ia juga memiliki beberapa jabatan, di antaranya sebagai Kepala Sekolah TK St Maria Fatima, Garum, Blitar, Jawa Timur, Komite SMPK St Vincentius, Garum, Blitar dan sekretaris di organisasi (gereja dan koperasi).

    Beberapa prestasi yang pernah diraih adalah juara nasional menulis cerita pendek berjudul “Atas Nama Batu” (2001). Kemudian tahun 2007 juara nasional mengulas novel “Belenggu” karya Armjin Panel dengan judul “Refleksi tentang Kematian Keluarga” dan pemenang dalam pemilihan puisi terbaik.

    Parsudi juga pernah menjadi penulis kata pengantar pada truestory berjudul “Angkot Cinta” dan pada buku berjudul “Melepaskan Panah Melukiskan Pelangi” sebagai editor bersama G Tri Wardoyo CM. Selain itu, ia memiliki bakat melukis wajah seseorang dan bisa mirip.

    Di samping mengajar, Parsudi juga berbisnis. Sosok Parsudi ini pernah berbisnis burung kenari, bebek, sapi dan jahe merah yang waktu itu harganya lumayan bagus. Semua dijalani dengan kerja keras dan senang hati. Dan ternyata perjuangan tersebut tidak sia-sia. Hasilnya tak seberapa namun cukup. “Karena yang penting hidup sederhana tetapi cukup,” ujarnya.

    Kata-kata itulah yang menjadi pedoman Parsudi dalam lika-liku kehidupan. (Klara Anggrahita Sciffi, Siswi Kelas XII IPS/SMA Marsudirini Muntilan)


    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here