Home News ISEI Yogyakarta Gelar Seminar Nasional, Outlook Perekonomian dan Keuangan 2020

ISEI Yogyakarta Gelar Seminar Nasional, Outlook Perekonomian dan Keuangan 2020

566
0
Dari kiri, Hilman Tisnawan (Kepala KPwBI DIY), Muchlas (Rektor UAD), R. Kadarmanta Baskara Aji (Sekda DIY), Untung Nugroho (Kepala OJK DIY), dan Y. Sri Ssusilo (Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta). Foto: Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com.

BERNASNEWS.COM — Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta bekerjasama dengan Kantor Perwakilan BI DIY dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Outlook Perekonomian dan Keuangan 2020”, Rabu (29/1/2020), di Amphitarium Kampus Utama UAD, Yogyakarta.

Tujuan diselenggarakan seminar tersebut untuk memberikan wawasan terkait dengan proyeksi serta kondisi perekonomian dan keuangan nasional, termasuk DIY sepanjang tahun 2020. Dihadiri lebih dari 300 peserta perwakilan perguruan tinggi, pemda, perbankan, swasta, guru SMA, dan media,” terang Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, selaku Humas Panitia di sela-sela acara.

Rektor UAD, Muchlas. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Acara diawali dengan sambutan selamat datang oleh Rektor UAD, Muchlas dilanjutkan dengan sambutan kunci (keynote speech) oleh Sekda DIY R. Kadarmanta Baskara Aji. Dalam sambutannya Sekda DIY, mengingatkan, perekonomian nasional dan DIY akan menghadapi tantangan kondisi perekonomian dunia yang tetap masih lesu (slowdown) dan dampak dari perang dagang AS-China yang belum mereda.

Sekda DIY juga mengharapkan ISEI Cabang Yogyakarta ikut berkontribusi untuk menurunkan persentase jumlah penduduk miskin di DIY. “Saya berharap ISEI Cabang Yogyakarta beserta PTN/ PTS di DIY memberikan sumbangan pemikiran berupa kebijakan dan strategi agar upaya menunrunkan angka kemiskinan lebih optimal,”tandasnya.

Sekda DIY R. Kadarmanta Baskara Aji. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Narasumber Hilman Tisnawan (Direktur/Kepala Perwakilan BI DIY), memberikan gambaran adanya disrupsi baik di bidang transportasi, teknologi digital, dan energi yang terjadi secara kontinyu. “Disrupsi tersebut tentu akan merubah kondisi pasar dan ekonomi di masa depan, termasuk di Indonesia dan DIY,” ungkap Hilman.

Terkait dengan hal tersebut BI telah menyiapkan Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025. Selanjutnya Hilman juga menyinggung kontribusi sektor infrastruktur dalam pertumbuhan ekonomi DIY. “Tahun 2019 pertumbuhan ekonomi disokong secara nyata oleh pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (BIY), pembangunan underpass di Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), dan pembangunan underpass di jalan Kaliurang. “Ke depan pembangunan jalan tol Bawen-Yogyakarta dan Yogyakarta-Solo diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi DIY,” imbuh Hilman.

Nara Sumber dan Moderator Seminar Nasional. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Sementara, Untung Nugroho (Kepala OJK DIY) selaku narasumber memberikan gambaran outlook keuangan DIY 2020. “Pertumbuhan kredit perbankan kisaran 11±1%, dengan target ekspansi sebesar 10%,” tegas Untung. Selanjutnya dijelaskan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) diperkirakan kisaran 10±1%, dengan target ekspansi sebesar 10%.

“Industri Keuangan Non Bank tumbuh moderat. Industri Pasar Modal diperkirakan untuk total nilai emisi mencapai Rp170-200 triliun dengan target tambahan 70 emiten baru,” jelas Untung.

Suasana Seminar Nasiona di Amphitarium Kampus Utama UAD, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Kepala OJK DIY lebih lanjut, menjelaskan, kebijakan startegis OJK tahun 2020.  Kebijakan strategis tersebut adalah: (1) Peningkatan skala ekonomi industri keuangan. (2) Mempersempit regulatory & gap antar sektor jasa keuangan. (3) Transformasi digital sektor jasa keuangan. (4) Mempercepat penyediaan akses keuangan serta mendorong penguatan penerapan market conduct & perlindungan konsumen. (5) Pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.

Nara Sumber, Moderator, dan Panitia Seminar Nasional. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Narasumber ketiga, Agus Siswanto (Dosen FEB UAD dan Pengusaha) dapat dianggap mewakili akademisi sekaligus praktisi atau pelaku usaha. “Tahun 2020 cukup berat bagi sektor riil, karena adanya resesi ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi nasional yang stagnan,” demikian pernyataan Agus.

Menurut Agus Siswanto, sektor yang paling terdampak bisnisnya adalah sektor uasaha yang padat karya padahal sektor tersebut berkontribusi nyata dalam menciptakan lapangan kerja. “Di sisi lain, ada kabar baik yaitu disusunnya Omnibus Law,” ungkap Agus.

Dengan Omnibus Law tersebut, pemerintah berusaha menata ulang regulasi yang saling tumpang tindih. “Regulasi yang lebih tertata diharapkan investasi asing dan domestik akan meningkat. Selanjutnya peningkatan investasi tersebut akan lebih banyak menyerap tenaga kerja,” tegasnya. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here