Home Seni Budaya Inilah 4 Macam Pembungkus Tradisional Jawa yang Lazim Dipakai

Inilah 4 Macam Pembungkus Tradisional Jawa yang Lazim Dipakai

2580
0
Bungkusan "nasi kucing" yang ada di angkringan, dalam seni membungkus tradisional Jawa disebut dengan Tempelang. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Memperbincangkan ragam kekayaan budaya tradisi Jawa selain adat atau tatanan hidup bermasyarakat seperti tata krama, ada juga berupa seni tradisi tarian dan pertunjukan, kuliner atau ragam masakan, serta satu lagi cara membungkus makanan dengan daun pisang. Bagi generasi kekinian tentu sudah banyak yang nggak mengenal, bahkan tidak bisa melakukan cara membungkus dengan daun pisang produk kearifan lokal.

Selain daun pisang kini semakin langka didapatkan di pasar, juga kalah bersaing dengan kertas pembungkus dan kantung plastik yang lebih praktis. Para penjual makanan pun banyak menggandalkan kantung plastik sebagai alat pembungkus sehingga cara-cara membungkus warisan leluhur pun terlupakan.

Seni membungkus tradisonal Jawa, bentuk bungkusan ygn disebut Tum atau Wungkusan. (Foto; Repro)

Kalau masih ada yang mempertahankan pun bahan daun sudah digantikan dengan kertas khusus pembungkus (kerta berlapis plastik) dan ini masih sering kita jumpai di angkringan, terutama bungkus untuk “nasi kucing”.

Cara membungkus berdasar tradisi ini memerlukan ketrampilan telapak tangan dan jari-jari tangan. Inilah 4 macam bentuk bungkusan tradisional Jawa yang lazim dipakai oleh masyarakat, meskipun terkadang bahan pembungkusnya bukan dari daun pisang melainkan kertas. Yaitu, Tum atau sering juga disebut Wungkus, Tempelang, Pincuk, dan Takir.

Tum atau Wungkus caranya adalah, lembaran daun pisang ukuran berkisar 25 Cm persegi dilembarkan pada telapak tangan kiri, bagian tengah dijepit dengan ibu jari dan telunjuk sehingga membentuk cekungan dengan setengah agak dilipat sebagai pegangan. Lantas kemudia diisi nasi dan lauk atau sesuatu yang akan dibungkus. Kemudian kedua sisi kanan kiri daun ditangkupkan menjadi satu di tengah, kemudia baru atasnya ditusuk dengan lidi atau klip. Bentuk bungkusan Tum ini masih mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Bentuk bungkusan yang disebut Tempelang, sering dijumpai di angkringan sebagai pembungkus “nasi kucing” atu juga disebut nasi nuk. (Foto: Repro)

Bungkusan Tempelang, prinsip cara membungkus seperti Tum namun membujur. Lembar daun pisang diletakkan di telapak tangan kiri, kemudia tengahnya diisi sesuatu yang akan dibungkus misal nasi dengan lauk kering atau tanpa kuah. Kemudian atasnya ditutup dengan lembaran daun, setelah itu dua pojok lembaran daun bawah (tempat nasi) dan penutup dilipat menjadi bentuk segitiga lantas ditusuk lidi atau klip kemudian dilipat ke bawah. Begitu pula pada ujung sebelahnya. Contoh, bungkusan “nasi kucing” di angkringan.

Bentuk Pincuk, bentuk bungkusan terbuka seperti halnya piring. Bentuk bungkusan ini sering dipakai oleh para penjual kuliner, semacam gudeg, pecel, nasi megana, dan lainnya dimana pembeli bisa langsung mengudap makanan di tempat. Selain cara menikmatinya langsung pakai tangan, atau dengan Suru sebagai pengganti sendok. Suru adalah potongan dau yang bentuk memanjang yang kemudian ditekuk membentuk cekungan yang dijepitkan antara, ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah.

Bungkusan yang disebut Pincuk, sebagai tempat makanan yang langsung diudap. (Foto: Repro)

Cara membuat Pincuk, letakkan lembar daun pisang di telapak tangan kiri, kemudian salah satu pojoknya dilipat masuk kedalam kira-kira sepertiga dan membentuk cekungan. Lantas lipatan tersebut dikunci dengan ditusuk memakai lidi atau klip.

Bentuk yang keempat adalah Takir, cara membuatnya mirip seperti Pincuk, yaitu, lipat dua pojok lebar daun menjadi satu di tengah kemudian ditusuk lidi atau klip sebagai perekatnya. Hal yang sama juga dilakukan untuk sisi ujung daun satunya, sehingga akan menyerupai sebuah perahu.

Bungkusan yang disebut Takir, biasa dipakai untuk menikmati kuliner yang berkuah. (Foto: Repro)

Kegunaan Takir serupa dengan Pincuk, hanya bentuk Takir lebih dipergunakan untuk wadah kuliner yang ada kuahnya, seperti jenang gempol dan aneka jenang lainnya yang memakai santan cair. Atau untuk anak-anak yang belum bisa memegang Pincuk agar makanan tidak tumpah.

Itulah 4 macam cara membungkus secara tradisional yang lazim digunakan dan masih mudah ditemui meskipun kini daun pisang digantikan dengan kertas pembungkus yang dilapisi plastik. Masih ada bentuk yang disebut Samir, hanya bentuk lembaran sebagai dasar atau alas yang diletakan di permukaan piring. Kemudian bentuk Conthong, Sudi, Pinjung, dan Sumpil. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here