Sunday, May 22, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsIni Tiga Motivasi Utama Pemerintah Membuka Data ke Publik

Ini Tiga Motivasi Utama Pemerintah Membuka Data ke Publik

bernasnews.com – Sejak UU tentang keterbukaan informasi dibentuk tahun 2007, pemerintah wajib membuka data yang dimiliki kepada publik. Data-data tersebut dibuka melalui portal-portal keterbukaan data (open data portal) pada domain pemerintahan.

Pemerintah membuka akses yang luas bagi masyarakat sehingga dapat menggunakan kembali data tersebut untuk kepentingan yang beragam. Setidaknya ada 3 alasan utama pemerintah membuka data ke publik

Dr Ahmad Luthfi, Dosen Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII, kepada wartawan di Kampus FTI UII pada Selasa 26 April 2022 mengungkapkan, setidaknya ada tiga motivasi utama mengapa pemerintah perlu melepas datanya ke publik.

Dr Ahmad Luthfi didampingi Izzati Muhimmah ST MSc PhD, Ketua Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII saat memberi keterangan kepada wartawan di Kampus FTI UII pada Selasa 26 April 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Ketiga alasan itu adalah meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, mendorong keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan dan menciptakan nilai atau inovasi yang lebih baik.

Namun, menurut Ahmad Luthfi yang didampingi Izzati Muhimmah ST MSc PhD, Ketua Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII, terlepas signifikansi manfaat yang diperoleh, di belakang layar, proses pengambilan keputusan untuk membuka atau menutup kumpulan data tersebut menghadapi banyak tantangan terutama bagi internal institusi pemerintahan.

Tantang tersebut adala pertama, proses pengambilan keputusan pembukaan data ke publik melibatkan pemangku kepentingan yang memiliki latar belakang heterogen, pengetahuan dan pengalaman empiris yang tak sebanding, tujuan yang beragam, dan juga kepentingan berjarak.

“Kurangnya wawasan dan keahlian dalam memprediksi sebab dan akibat dari pembukaan data dapat menciptakan ketidakpastian, yang mungkin berdampak penghindaran pengungkapan kumpulan data,” kata Ahmad Luthfi.

Kedua, budaya menghindari risiko yang melekat pada pengambil keputusan berpotensi lebih kuat dibandingkan pemahaman kemuliaan dari melepas kumpulan data. Bagi penyedia data, jauh lebih mudah membuat keputusan untuk menjaga data tetap tertutup daripada mengambil risiko melepas datanya.

Dr Ahmad Luthfi saat memberi keterangan kepada wartawan di Kampus FTI UII pada Selasa 26 April 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Menurut Ahmad Luthfi, beberapa potensi risiko dari pembukaan data seperti pelanggaran privasi, data yang tidak akurat, kesalahan dalam interpretasi data dan kemungkinan penyajian data yang terduplikasi atau tumpang tindih.

Ketiga, pemerintah belum memiliki sistem untuk mengidentifikasi dan menimbang manfaat, risiko, dan biaya dari pembukaan data.

Konsekuensinya, proses pengambilan keputusan menjadi lambat dan kabur, sehingga tujuan mulia dari keterbukaan data ke publik tidak tercapai. Oleh karena itu, dalam studi program doktoral bidang Open Government Data (OGD) pada Delft University of Technology (TU Delft) di Belanda pada tahun 2017-2021, Ahmad Luthfi mengembangkan sistem pendukung keputusan untuk menimbang manfaat dan risiko dalam membuka data pemerintahan.

Secara konseptual, sistem pendukung keputusan ini mengakomodasi penyedia data dengan pendekatan sistematis untuk memutuskan membuka data. Terdapat dua kontribusi utama dalam pembangunan sistem pendukung keputusan ini.

Pertama, sistem dapat menimbang dan mengklasifikasi tingkat potensi manfaat dan risiko dari kumpulan data, sehingga pengambil keputusan dapat menentukan arah kebijakan apakah bisa melepas kumpulan data tersebut.

Kedua, sistem juga menyediakan beberapa alternatif keputusan lain dalam membuka data seperti memberikan batasan akses kepada pihak yang berkepentingan, dan juga melakukan perlakuan khusus terhadap data melalui mekanisme anonimisasi dan teknik penyamaran nilai data lainnya.

Dengan demikian, menurut Ahmad Luthfi, sistem ini dapat memberikan preferensi yang lebih ilmiah, komprehensif dan moderat jika dibandingkan pengambilan keputusan berdasarkan sistem binari yaitu buka dan tutup data. (phj)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments