Ini Faktanya, Roti Kolombeng dari Roti Colombijn Asli Belanda

    856
    0
    Roti Colombijn Asli dari Belanda yang diadopsi menjadi roti Kolombeng yang keberadaannya kian langka di Yogyakarta. (Foto: Repro, Kiriman Yan Suryoputri, Belanda)

    BERNASNEWS.COM — Dengan diwartakan oleh media online ini tentang keberadaan jenis panganan jaman dulu roti Kolombeng (huruf e seperti mengucap kata Seng, red), dengan judul berita “Roti Kolombeng Roti Jaman Kolonial yang Kian Langka”, yang juga berharap dapat diungkap sebagai kajian sejarah kuliner di Yogyakarta khususnya, dan kuliner Indonesia pada umumnya.

    Tak disangka ada respon positif dari seorang pembaca di Belanda yang memberikan catatan atau literatur sejarah roti Kolombeng, Senin (15/6/2020), ke redaksi Bernasnews.com. Sebut saja Yan Suryoputri, seorang ibu berputra dua yang berasal dari Kota Yogyakarta dan telah puluhan tahun menetap di negeri kincir angin dan telah menjadi warga negara Belanda.

    Kue Kolombeng buatan Dusun Diran, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo DIY. (Foto: Dok. Bernasnews.com)
    Kue Colombijn, buatan asli dari Belanda. (Foto: Repro, Kiriman Yan Suryoputri, Belanda)

    Colombijn atau Colombijntjes, adalah nama kue asli dari Belanda yang sudah dikenal kurang lebih pada tahun 1740. Seorang pengusaha roti bernama Gerrit van den Brenk, membuat kue dan menyebutnya dengan nama Colombijn. Dan resep kue itu dia tulis di buku kumpulan bernama tZaamenspraaken tusschen een Mevrouw en Banketbakker (Perjanjian antara seorang nyonya dan pembuat kue),” ungkap Yan Suryoputri.

    Namun perlu juga dicatat ibu yang masih fasih bahasa Jawa Kromo ini menambahkan, bahwa berdasar akte tahun 1677, ada seseorang koki kue (chef) yang bernama Colombijn. “Tapi tidak ada arsip yang menentukan apakah dia yang sesungguhnya pertama kali membuat kue Colombijn itu,” terangnya.

    Buku resep kuno cara pembuatan kue Colombijn. (Foto: Repro, Kiriman Yan Suryoputri, Belanda)

    Sejak awal abad 20, kue atau roti Colombijn sangat begitu populer di Belanda, terutama sangat digemari oleh anak-anak. Seputar tahun 1900 beberapa bakery ternama selalu membuat kue ini setidaknya dua kali seminggu, untuk memperbaiki resep agar kue awet tidak cepat menjadi kering.

    “Kue ini secara tradisionil dinikmati untuk menyambut dan mensyukuri kelahiran bayi. Bahkan begitu populernya pada tahun 1937, oleh Banketvereniging didirikan klub Colombijnen,” kata Yan Suryoputri.

    Di Indonesia kue Colombijn dahulu kala diperkenalkan oleh orang Belanda dan yang tercatat di buku tahun 1944, terutama dipasarkan di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah. “Karena sulit untuk lidah Indonesia mengucapkan Colombijn, maka menjadilah nama Kolombeng atau ada juga yang menyebutnya kue bolu,” ujar Alumni UGM itu.

    Menurut Yan Suryoputri, bahan yang dipakai membuat Colombijn itu awalnya sederhana saja, yaitu terigu, gula dan telur, tapi yang menjadikan specifik itu adalah teknik pembuatannya. “Resep asli pembuatan kue tersebut tertulis dalam buku resep tahun 1803, yang sangat populer yaitu buku resep Zuinige keukenmeid atau terjemahannya Gadis Dapur yang Hemat,” pungkas Yan Suryoputri.

    Sutikno putra Giman, generasi kedua pembuat roti atau Kolombeng yang masih eksis, di Kabupaten Kulon Progo, DIY. (Foto: Dok. Bernasnews.com)

    Sementara dari kajian budaya, Drs. Untung Waluya selaku Staf Ahli Bupati Kulon Progo menambahkan, roti atau kue Kolombeng ini sangat laris dan selalu menjadi suguhan yang populer kala acara Nyadran atau Ruwahan (acara ritual ziarah setiap bulan Ruwah/ Syaban), di Kulon Progo. “Sementara di Sleman untuk sajian para piyayi sepuh dan sepertinya menjadi sajian wajib apabila ada suatu acara,” imbuh mantan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo itu. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here