Home Pendidikan #IndonesiaTerserah: Lelah, Jenuh atau Menyerahkah kita?

#IndonesiaTerserah: Lelah, Jenuh atau Menyerahkah kita?

478
0
Matheus Gratiano, MPA, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta. (Foto: Dok. Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Pandemi Covid-19 di Indonesia akan memasuki bulan keempat sejak awal Maret 2020 lalu. Namun hingga saat ini belum ada sumber informasi yang bisa memberikan prediksi sampai kapan virus Corona tersebut akan ada. Di satu sisi di media sosial Tanda Pagar (Tagar) Indonesia Terserah yang akhir-akhir ini telah viral, bukan sekedar slogan tanpa sebab  untuk meramaikan media sosial, cetak maupun elektronik.

Matheus Gratiano, MPA, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM) mengatakan, bahwa sebagian pihak, masyarakat dan tenaga medis mengekspresikan hal itu seiring abainya orang-orang terhadap regulasi yang sudah dan akan diberlakukan, banyak anggaran yang digelontorkan untuk penanganan Covid-19.

Faktanya banyak lapisan masyarakat masih menutup mata untuk itu semua dengan tidak mengindahkan kebijakan-kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini dalam beberapa waktu kedepan.

“Kata terserah seringkali kita jumpai dan ungkapkan dalam keseharian kita apabila kita tidak berkeinginan lagi untuk berpendapat atau memilih untuk mengikuti dan bergantung pada apa yang diputuskan dan dilakukan oleh orang lain,” kata dosen yang akrab disapa Theo itu, Senin (25/5/2020).

#IndonesiaTerserah, lanjut Theo, menggambarkan bentuk kepasrahan banyak pihak, walaupun awalnya ramai pada postingan di media sosial bahwa ini adalah ungkapan kekecewaan dan protes dari para tenaga medis terhadap ketidakpedulian kita terhadap aturan-aturan yang sudah diimplementasikan oleh pemerintah.

Selama ini para dokter, perawat, serta petugas medis telah berusaha menyampaikan banyak imbauan dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya Covid-19. Kenyataanya upaya tersebut belum mampu membuahkan hasil yang maksimal. Pasar yang kembali ramai, jalanan kembali macet, pusat perbelanjaan yang dikerumuni oleh para pemburu diskon menjadi pemandangan akhir – akhir ini. Wajar jika mereka memprotes hal ini karena pada saat seperti ini mereka tidak hanya sedang berjuang menyelamatkan raga dan nyawa yang lain, tetapi meninggalkan kebahagiaan berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing.

Kebijakan pembatasan oleh Pemerintah seperti membatasi dan meliburkan sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, kegiatan sosial dan budaya, moda transportasi yang diterapakan oleh pemerintah dianggap tidak memiliki ketegasan dalam pelaksanaannya. Massa yang berkerumun tetap bisa dijumpai dimana-mana seperti beberapa waktu lalu kita bisa melihat viralnya keramaian warga Jakarta pada penutupan McD Sarinah yang membuat miris bagi orang-orang yang selama ini disiplin berdiam diri dari rumah.

Antrian panjang pada Bandara Soekarno-Hatta karena mengurusi validasi syarat perjalanan yang tidak memperhatikan protokol Covid-19 dikarenakan bandara dan penerbangan kembali dibuka serta beberapa mall dan pusat perbelanjaan yang diserbu oleh pengunjung yang berbelanja menjelang hari raya.

Menurut Theo, walaupun kita ketahui dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PP PSBB) yang diperjelas dengan Peraturan Menteri Kesehatan No 9 Tahun 2020 (Permenkes PSBB) terdapat pengecualian bagi beberapa tempat pada sektor terkait pertahanan dan keamanan, ketertiban umum, kebutuhan pangan, bahan bakar minyak (BBM) dan gas, pelayanan kesehatan, perekonomian, keuangan, komunikasi, industri, ekspor dan impor, distribusi,  logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Daerah yang melakukan penerapan PSBB terlihat masih bertahap untuk mengoptimalkan PSBB melalui tindakan persuasif dan edukasi kepada masyarakat serta dalam menerapkan sanksi terhadap pelanggar aturan tersebut. Kedispilinan warga masyarakat sendiri dalam menghadapi situasi ini diharapkan menjadi kunci keberhasilan dari aturan-aturan ini.

“Apakah kita lebih memilih melanggar dan mendapatkan sanksi dari pada berpartisipasi dalam memutus mata rantai penularan virus ini. Sudah jenuh dengan aturan yang dibuat tetapi tidak ditegaskan dengan sanksi bagi pelanggarnya, atau sudah menyerah karena harus siap hidup berdampingan dengan Covid-19 ini sebagai bagian dari kehidupan dengan tatanan baru ?,” ujar Theo.

Theo menegaskan, agar nasib bangsa ini tidak seperti kutipan Puisi Pity the Nation (Kasihan Bangsa) karya maestro Kahlil Gibran bahwa “Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun…….”. Sebagai manusia normal yang baru beradaptasi dengan sebuah situasi baru tentu kita boleh mengatakan lelah dan jenuh dengan semua ini.

“Indonesia terserah bukan berarti pasrah, tetapi bagaimana mengajak masyarakat untuk peduli, tetap berjuang, dan tidak ada kata menyerah. Kematian adalah takdir, melawan Covid-19 adalah keharusan dalam mempertahankan hidup,” pungkasnya. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here