Home News Indonesia Outlook 2021: Peluang dan Tantangan

Indonesia Outlook 2021: Peluang dan Tantangan

600
0
Jumpa Pers Online bertajuk “Indonesia Outlook 2021” digelar oleh Universitas Widya Mataram (UWM) melalui Zoom Video Conference, Rabu, (23/12/2020). Foto: Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM — Tahun 2020 merupakan tahun yang memberikan petaka luar biasa bagi dunia. Adanya pandemi Covid-19 yang masih belum berakhir sampai sekarang, telah meluluh lantakkan perekonomian dunia, yang secara global dapat dikatakan terjadi resesi dunia seperti tahun akhir tahun 1920-an, yang waktu itu mengalami depresi. 

“Hampir semua negara di dunia saat ini terkena resesi. Dampak paling kuat terjadi pada kwartal kedua yang menimbulkan kontraksi ekonomi yang sangat tajam. Namun pada kuartal ketiga, ataupun juga triwulan ke-4 tahun 2020 ini, terlihat ekonomi dunia, juga Indonesia mengalami perbaikan,”ungkap Prof. Dr. Edy Suandi Hamid M.Ec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sebagai Narasumber dalam Jumpa Pers Online yang digelar oleh Universitas Widya Mataram melalui Zoom Video Conference, Rabu, (23/12/2020).

Suasana Jumpa Pers Online yang bertajuk “Indonesia Outlook 2021”, Rabu (24/12/2020). Foto: Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com

Menurut Prof Edy, pertumbuhan ekonomi belum positif, namun kontraksi semakin kecil, yang menimbulkan optimisme terjadinya ekspansi ekonomi pada tahun 2021. Pada tahun 2020 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut Bank Indonesia berada pada range (-) 2% s/d (-) 1%.  Kementerian Keuangan yang tadinya lebih optimis memperkirakan laju ekonomi Indonesia (-) 1,7% s/d (-) 0.6%, dua hari lalu merevisi menjadi (-) 1.7% s/d (-) 2.2%. 

“Sebaliknya ADB lebih konservatif dan memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 mengalami kontraksi (-) 2,2%, lebih rendah dari yang diperkirakan ADB pada Setember 2020 yang hanya memperkirakan negatif 1%.  Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 ini masih lebih baik dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan (-) 3.8%,” papar Prof. Edy.

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid M.Ec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, sebagai nara sumber dalam Jumpa Pers Online. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Jumpa Pers Online yang bertajuk “Indonesia Outlook 2021” diikuti sekitar 90 perserta dan turut hadir Narasumber, diantaranya, Kelik Endro Suryono, SH, M.Hum selaku Ahli Hukum FH UWM, DR. AS. Martadani Noor, MA selaku Ahli Sosial Politik Fisipol UWM dan Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, MP selaku Ahli Pangan Saintek UWM.

Dari perspektif ekonomi, Prof. Edy menuturkan, dalam konteks nasional dan global, berbagai predikasi perekonomian dunia memberikan gambaran dan semangat optimisme. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 antara 4.8% s/d 5,8%.  Estimasi yang hampir sama juga dikemukakan Bappenas yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,0 persen pada 2021.

Dengan target pertumbuhan ekonomi tersebut, Gross National Income atau Pendapatan Nasional Bruto per kapita, menggunakan Atlas Method, diharapkan mampu meningkat, mencapai US$ 4.190 hingga 4.330 per kapita di tahun depan, sehingga Indonesia tetap bertahan sebagai Upper Middle-Income Country.

“Ini juga pada angka kisaran yang sama dengan  prediksi pertumbuhan global yang hanya 5%. Namun, Bank Dunia dan INDEF memprediksi pesimistik, yang masing-masing hanya memperkirakan tumbuh 3,1%, dan 3%. Pertumbuhan Ini juga pada angka kisaran yang sama dengan prediksi pertumbuhan global yang hanya 5%,”ujarnya.

Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, MP selaku Ahli Pangan Saintek UWM. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Sementara itu, pandangan Prof. Edy terhadap perekonomian DIY akan mulai bangkit dan tumbuh positif tahun 2021. Namun pada semester pertama masih akan tumbuh rendah. Ini dikarenakan sektor pariwisata dan pendidikan yang merupakan pilar pendorong pertumbuhan ekonomi tersebut masih tumbuh lambat. Namun perekonomian DIY yang sudah mengalami resesi lebih awal dibanding Indonesia secara keseluruhan pada tahun 2020, akan mulai bangkit dan mengalami percepatan pertumbuhan pada semester kedua tahun 2021.

Dikatakan Prof Edy, kedua sektor pilar ekonomi DIY ini, diperkirakan bergerak cepat karena keterisolasian dan mobilitas penduduk yang sangat terbatas selama pandemi Covid-19, seakan meledak,   yang terakumulasi untuk berpergian, yang memilih Yogyakarta sebagai salah satu tujuannya. Demikian pula pelajar dan mahasiswa yang sudah meninggalkan Yogyakarta sejak Maret 2020, memendam kerinduan untuk segera kembali ke Yogyakarta saat ada kesempatan.

Kesempatan itu diperkirakan terjadi awal Semester 2, yang memberikan dorongan positif bagi pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta. “Namun sejauh mana potensi itu bisa teroptimalkan, tergantung bagaimana masyarakat, pelaku ekonomi, dan perencana kebijakan untuk menyiapkan diri menyambut situasi atau ledakan kunjungan tersebut,” ujar Guru Besar FE UII ini.

Sebelumnya Prof Edy Suandi Hamid mengatakan, adanya Pandemi Covid-19, menyebabkan banyak para pelajar-mahasiswa yang kembali ke kampung halamannya. Ini berkontribusi pada kemerosotan perekonomian DIY pada tahun 2020. DIY bahkan lebih awal dari Indonesia secara keseluruhan masuk pada zona resesi sejak. Selama tiga triwulan  pertama 2020 pertumbuhan ekonomi DIY sudah mengalami kontraksi (y-o-y triwulan 1, 2, dan 3 masing-masing 0,17%,  6,72%, dan 2,84%).  

Dengan mengutip data survei Bank Indonesia DIY  Prof Edy menyatakan, bahwa hal ini tidak mengherankan mengingat  pengeluaran mahasiswa saja di DIY (2019) diperkirakan mencapai Rp 16,6 Trilyun (11,7% dari PDRB DIY), yang hanya Rp 4,7 trilyun untuk biaya pendidikan. Sebagian besar lainnya dari pengeluaran itu, yakni Rp 11,9 trilyun untuk konsumsi rutin.  Angka ini hanya sedikit di bawah pengeluaran wisatawan (Wisnus dan Wisman), yang secara total mencapai Rp 20 trilyun (14,1% dari PDRB DIY).

Menurut Rektor UWM ini, sektor-sektor di luar yang terkait dengan pendidikanboleh jadi akan mulai tumbuh positif awal 2021, namun pertumbuhan ini menjadi mengalami pelambatan karena melemahnya permintaan dari sektor pendidikan ini. Ketidak hadiran “wisatawan” dengan length of stay sangat lama ini menurunkan permintaan berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi oleh para mahasiswa/pelajar. Namun situasi ini kemungkinan hanya terjadi pada semester pertama 2021.

“Dengan asumsi vaksin sudah meluas digunakan pada Semester 1 Tahun 2021, dan tekanan kasus-kasus positif Covid-19 sudah mulai berkurang, pada awal Semester 2 Tahun 2021 sektor pendidikan akan mulai menggeliat dengan cepat. Pelajar dan mahasiswa yang kembali, bisa jadi akan melampiaskan rasa kangen dengan Yogya bersama keluarga, yang ini akan mempercepat pertumbuhan PDRB DIY. Hal yang sama juga dengan wisatawan, diduga akan mengalami pertumbuhan yang akseleratif pada semester 2 tahun 2021,” begitu closing statement Prof. Edy dalam paparannya.

DR. AS. Martadani Noor, MA selaku Ahli Sosial Politik Fisipol UWM. (Nuning Harginigsih/ Bernasnews.com)

Narasumber Bidang Hukum Kelik Endro Suryono menyampaikan penegakan hukum tahun 2020 umumnya berjalan baik. Namun, memang perlu diperhatikan seperti kasus Hukum rentan dengan muatan politis yang menjadi kekhawatiran masyarakat. “Prediksi untuk tahun 2021, beberapa kasus bermuatan politis masih rentan terjadi. Pemerintah dan lembaga hukum harus lebih berani dalam mengtasi masalah hukum Indonesia,” terang Kelik.

Pada Bidang Pangan, Ambar Rukmini menjelaskan, otomatisasi dan inovasi-inovasi pangan yang dilakukan di tahun 2020 akan sangat mewarnai tren pangan 2021. “Misalkan saja, produk berbasis pangan fungsional dapat dipastikan akan mendominasi pasar. Hal ini karena berfungsi meningkatkan imunitas agar terhindar dari Covid-19,” tegas Ambar.

Dalam Bidang Sosial dan Politik, Martadani menyampaikan, bahwa dengan membaca peristiswa dan rangkaian sosial dan politik di tahun 2020. Maka dapat dilihat bagaimana gambaran arah konsolidasi demokrasi nasional di tahun 2021, seperti pengaruh kekuatan politik, koalisasi antar pihak, dan konsolidasi demokrasi nasional. “Perubahan kabinet mengindikasikan masih kuatnya pengaruh kekuatan koalisasi partai politik yang dekat dengan kekuatan oligarkis,” tutup Martadani dalam sesi akhir jumpa pers. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here