Thursday, June 30, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniIn Memoriam Maestro Kartun FX Subroto Jelang Tribute 'Gojek Kere Ala Subro'

In Memoriam Maestro Kartun FX Subroto Jelang Tribute ‘Gojek Kere Ala Subro’

bernasnews.com – Maestro kartun asal Yogyakarta FX Subroto meninggal dunia seminggu menjelang perhelatan tribute “Gojek Kere Ala Subro”  event spesial digelar di Balai Budaya Jakarta 24-31 Juni 2022. Seniman kartun kawakan tersebut meninggal dunia Sabtu (18/6/2022) di RS Panti Rapih Yogyakarta, jenazahnya diberangkatkan dari rumah duka Perum Nogotirto Elok 2 Jl. Timor F-181 Sleman, Yogyakarta menuju pemakaman di­ Desa Berbah, Kalitirto, Berbah, Sleman, DIY, Minggu (19/6/2022).

Subro merupakan sebuah inisial yang disematkan dalam setiap karya kartun dan kartun editorialnya. Kartunis yang produktif tersebut kadang menggunakan inisial putri sulungnya Inez. Nama lengkapnya Fransiscus Xaverius Subroto, pria kelahiran Yogyakarta 2 November 1945 ini karya-karyanya tersebar di berbagai media massa tercetak, baik koran, majalah, lokal maupun media cetak tingkat nasional.

Kartun editorialnya dalam koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta menampilkan tokoh bernama Karyo Rumekso (KR) sekitar tahun 70-an, tokoh Pak Bonal dan Den Bei dalam Harian Berita Nasional tahun 80-an, dalam Harian WAWASAN kartun strip 3 panel menampilkan tokoh John Gabrus, sedangkan dalam Majalah Bahasa Jawa Djaka Lodang kartun stripnya menampilkan tokoh Mbah Dana, Mas Tinju, dan Den Bekel. Kartun strip di harian sore Suara Pembaruan (Jakarta) dengan tokohnya Mat Sentil, dan majalah anak-anak Kawanku (Jakarta) dengan tokoh Si Katipol.

Meski karya-karya kartunnya menggelitik, sarat dengan humor, Mas Subro (panggilan akrab koleganya) sungguh serius dalam keseharian di tempat kerja. Pria pendiam ini selain aktif  menggambar kartun, juga banyak karya tulis; baik liputan, opini, maupun karya fiksi. Dia cukup lama sebagai redaktur senior di majalah Bahasa Jawa Djaka Lodang, dan pensiun tahun 2015 karena kesehatannya terganggu.

FX Subroto selalu menjalin hubungan yang baik dengan para kontributor, koresponden, penulis, ilustrator, komikus, kartunis dari berbagai daerah. Terutama bagi pemula, Subro memberikan kesempatan berkarya dan membimbinganya. Kiriman naskah dari penulis luar teregistrasi secara teratur dan tersusun rapi dalam kontainer plastik. Dia selalu konfirmasi dengan bagian lain dengan pertanyaan, “Masih ada yang kurang?” dan jika darurat ada kekurangan naskah, dia mempersilakan ambil sendiri di map yang sudah disiapkan.

Ketika Departemen Penerangan mensyaratkan penyertaan saham 20% bagi karyawan dalam penerbitan pers, Mas Subro mewakili karyawan sebagai komisaris perusahaan PT Djaka Lodang Pers. Selain itu dia juga sebagai ketua Koperasi Karyawan “Eka Kapti” beberapa periode. Setelah itu pensiun karena alasan kesehatan. Setelah sembuh, Mas Subro tetap berkarya secara freelancer, dan karyanya dimuat di berbagai media cetak.

“Bapak semangat menggambar dan menulis dalam usia senjanya. Naskah ditulis tangan lalu diketik dengan laptop, saya sering diminta mengantarkan flashdisk ke penerbit,” kata putri bungsunya yang sering disapa Ias.

Ide dan karakter kartun FX Subroto yang digambar ulang oleh kartunis / pegiat literasi visual Itok Isdianto. Foto: istimewa

Ilustrator dan komikus Banurali Ambardi mempunyai kesan tersendiri terhadap Subro. Kalau ketemu dengan Mas Subro orangnya terkesan serius, namun ia heran ketika hadir lewat kartun ndhagel-nya muncul. Menurut Banuarli kartun Subro berbobot, mengangkat kehidupan sehari-hari, menyentuh dan menggelitik, goresannya sederhana, gaya lawakannya khas Jogja.

Keistimewaan Subroto dalam membuat karya kartunnya adalah spontan, tanpa sket pensil. Peralatan yang digunakan pun seadanya, menggunakan spidol hitam di atas kertas hvs. Sedangkan kalau mendapat pesanan karya yang menginginkan berwarna, barulah menggunakan pensil warna. Goresannya terasa luwes, melalui variasi tekanan spidol sehingga garisnya bisa tebal tipis. Keistimewaan yang lain dalam hal model tokoh yang ‘Njawani”, figur kedaerahan begitu kental. Subro dapat mendeformasi objek, sehingga terkesan sederhana, tidak rumit. Sebagai contoh, dalam membuat jeruji sepeda atau becak, letak jeruji tidak dibuat saling menyilang, tetapi terpencar. Terkesan lucu, namun tetap “wangun”.

Ide-ide kartun karya Subro diambil dari kehidupan keseharian. Dia pernah mengaku ide-ide lucu justru muncul ketika bergaul dengan banyak orang. Semisal perbincangan yang diperoleh ketika ronda, ngobrol bareng. Resepnya bagaimana ‘njeglegke’ suatu peristiwa. Dia mampu mengecoh asumsi secara cerdas, namun mudah dipahami. Ditambah kekuatannya memilih diksi kata-kata dalam balon teks. Dialognya semula hal biasa, namun tak terasa kita terjebak pada sesuatu yang kadang absurd.

Tak jarang untuk mengritik kalangan elit, kartunnya sederhana, namun menohok. Sebagai contoh gambar seorang anggota DPR memarahi anaknya, “Sekolah kok mbolas-mbolos, ngisin-isinke Bapak…” Lalu si anak menjawab sambil menuding, “Sidhang kok mbolas-mbolos…” sambil pergi anak melanjutkan, ”…ngisin-isinke anak…”

Ada seorang sipir membertitahu narapidana, “Pong, sesuk kowe bebas…” Narapidana dengan sopan menjawab dengan bahasa Jawa krama, “Boten purun, Pak. Kula pun krasan ten ngriki…” Dilanjutkan panel ketiga, “…kancane akeh, onten bupati, pejabat, tokoh parte, artis, anggota dewan…”Sungguh jawaban di luar dugaan, namun sesuai realita aktual.

Hal kekinian pun Subro tak mau ketinggalan zaman. Ketika seorang anak kecil membawa surat mengatakan kepada Pakdhenya akan mengantarkan ke rumahnya Mbah Bejo, ketika ditanya di mana alamatnya, jawab anak, “mbah [email protected]

Ketika era tahun 70-an goresannya khas, yakni gambar dibuat garis tipis dan terkesan bergetar, kadang menyertakan figer print (teknik cap jempol) dalam objek gambarnya. Tipografinya juga artistik, tingkat keterbacaannya tinggi meski jarak antar baris begitu rapat. Hal ini justru menghemat space dialog dalam balon teks.

Dalam bidang organisasi, FX Subroto dikenal sebagai sesepuh para kartunis di Yogyakarta. Dia yang turut membidani terbentuknya Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO) tahun 80-an, dan mendorong para kartunis berkarya dan pameran kartun dalam wadah Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI). Dia juga turut mempersiapkan adanya Museum Kartun Indonesia di Bali. Produktifvitasnya sungguh luar biasa, meski sudah dalam usia uzur. (Praba Pangripta, Kartunis tinggal di Yogyakarta)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments