Home Opini Implementasi Heart Score sebagai Assesment pada Pasien dengan Nyeri Dada

Implementasi Heart Score sebagai Assesment pada Pasien dengan Nyeri Dada

677
0
Dr. Nurchayati,SKep, Ns, MKep, Dosen Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Penyakit jantung coroner merupakan salah satu penyakit yang memiliki kecenderungan mengalami peningkatan setiap tahunnya dan berdampak tidak hanya pada negara maju, tapi juga pada negara berkembang. Nyeri dada adalah salah satu keluhan yang sering ditemui di Unit Gawat Darurat (IGD). Nyeri dada merupakan tanda awal pada pasien dengan kelainan pada jantung dan menyebabkan angka perawatan rumah sakit dan angka kematian yang tinggi.

Jantung koroner akut terjadi ketika aliran darah menuju jantung berkurang secara drastis atau tiba-tiba. Saat terjadi, peristiwa ini dapat menyebabkan sejumlah kondisi pada jantung dan memerlukan pertolongan medis dalam waktu yang cepat. Jantung koroner akut biasanya disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu terbentuknya plak atau tumpukan kolestrol pada dinding arteri koroner yang mengakibatkan penyumbatan aliran darah ke jantung. Selain itu, jantung koroner akut juga dapat terjadi akibat penggunaan zat tertentu, seperti kokain dan nikotin, yang bisa memicu spasme atau penyempitan arteri coroner/pembuluh darah jantung secara tiba-tiba.

Nyeri dada pada pasien jantung biasanya berlangsung lebih dari 15 menit dan tidak membaik dengan istirahat. Beberapa gejala lain yang dapat muncul adalah keringat dingin, sesak napas, sakit kepala, pusing seperti ingin pingsan, mual atau muntah, gelisah, dan denyut jantung tidak teratur. Tidak semua pasien dengan nyeri dada bisa digolongkan sebagai pasien dengan gangguan jantung untuk itu diperlukan tatacara mendeteksi dan mengklasifikasikan apakah nyeri dada tersebut termasuk kelainan jantung atau bukan.

Heart Score adalah sistem penilaian yang ditemukan pada tahun 2008 khusus untuk menilai risiko kejadian penyakit jantung pada pasien nyeri dada yang dilakukan di Unit Gawat Darurat. Heart Score terdiri dari pertama, menilai riwayat pasien berupa keluhan nyeri dada seperti tertekan/ berat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, bahu. Penilaian Heart Score kedua, adalah rekam jantung (EKG).

Dewi Purnasiwi, SKep, Ns, Perawat RS Bethesda dan Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Penilaian Heart Score ketiga adalah, usia (lebih dari 65 tahun risiko lebih besar). Penilaian Heart Score keempat adalah, faktor risiko yang diderita (diabetes mellitus/ sakit gula, perokok, hipertensi, hiperkolesterolemia). Dan penilaian Heart Score kelima, adalah melalui pemeriksaan darah Troponin (enzim jantung). Setiap poin Heart Score diberi nilai 0, 1 dan 2. Total penjumlahan 5 poin tersebut bernilai 0-10, digunakan untuk memprediksi risiko kejadian Sindrom Koroner Akut/ kelainan jantung. Hasil penilaian ini akan menentukan pasien untuk dilakukan rawat jalan, rawat inap atau dilakukan tatalaksanan lanjut.

Diagnosis yang tepat akan meningkatkan kualitas hidup pasien. Diharapkan para petugas kesehatan terus mengikuti perkembangan teknologi dalam mencari dan mempelajari petanda jantung baru untuk kebutuhan diagnosis, memantau perjalanan penyakit, memonitor respon pengobatan, dan memperkirakan prognosis. Penggunaan Heart Score memberikan manfaat dalam mengklasifikasikan pasien berdasarkan resiko sehingga dapat membantu keputusan klinis yang tepat sesuai indikasi.

Dengan deteksi yang baik dan benar maka akan ikut menentukan kualitas hidup pasien karena dokter akan lebih tepat dalam menentukan tindakan. Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, tidak menutup kemungkinan akan ada cara baru dalam melakukan assessment pasien sehingga akan menghasilkan data yang lebih baik dan lebih valid sehingga angka harapan hidup pasien juga akan lebih baik.

Pengelolaan faktor risiko seperti penyakit Diabetes, Hipertensi, merokok, kadar kolesterol tinggi merupakan langkah yang baik dalam mencegah penyakit jantung coroner. Jika ditemukan faktor risiko tersebut, alangkah baiknya segera memeriksakan ke dokter supaya mendapat penanganan yang tepat. (Dewi Purnasiwi, SKep, Ns dan Dr. Nurchayati, SKep, Ns, MKep, Mahasiswa dan Dosen Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here