Home News Ikatan NKRI Lemah, Ini Penyebabnya

Ikatan NKRI Lemah, Ini Penyebabnya

272
0
(Dari kiri-kanan) Rm Agustinus Purnomo MSF (Superior General Kongregasi MSF), RP Markus Solo Kewuta SVD - Konselebeans Utama dan Rm Paulus Laurentius Pitoy MSC (Assistant Superior General Kongregasi MSC) dalam misa virtual dari Roma Italia dalam rangka Buka Tahun Baru Bersama XVI 2021 Paguyuban Wattawan Katolik Indonesia bersama, Sabtu (23/01/2021). Foto : kiriman Putut Prabantoro

BERNASNEWS.COM – Ikatan kebangsaan dan spirit ke-Indonesia-an saat ini melemah.Hal ini terjadi karena telah terjadi polarisasi dalam tubuh bangsa Indonesia. Hal ini mengakibatkan kemajemukan bangsa yang seharusnya menjadi kekuatan menjadi kelemahan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan anugerah tersebut.

“Sejak merdeka Indonesia menghadapi berbagi krisis termasuk politik, relasi sosial budaya, relasi lintas agama, berbagai malapetaka hingga ancaman degradasi moral. Bahkan di saat Indonesia menghadapi pandemi, krisis tetap terjadi dengan kondisi masyarakat terbelah dalam berbagai posisi,” kata RP Markus Solo Kewuta SVD, konselebrans utama dalam misa secara virtual Buka Tahun Baru Bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) XVI 2021, Sabtu (23/1/2021).

Konselebrans lain dalam misa yang diadakan di Roma, Italia itu adalah Rm Agustinus Purnomo MSF (Superior General Kongregasi MSF) dan Rm Paulus Laurentius Pitoy MSC (Assistant Superior General Kongregasi MSC) dan ketiga konselebran itu berasal dari Indonesia.

Menurut Markus Solo yang merupakan Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Bergama untuk Tahta Suci dan berkedudukan di Vatikan itu, krisis yang muncul di Indonesia saat ini terutama disebabkan karena ada sebagian masyarakat yang tidak mendukung dan bekerjasama secara jujur dan sepenuh hati kepada presiden yang resmi dipilih secara demokratis. Hal ini menambah berbagai kompleksitas krisis yang menambah berbagai persoalan yang dulu belum terpecahkan.

“Saya menghimbau kepada wartawan Indonesia terutama Wartawan Katolik untuk menjaga keutuhan dengan mempererat ikatan dan spirit ke-Indonesia-an demi utuhnya NKRI dengan berpegang pada tiga hal yakni percaya pada penyertaan Tuhan, aktif menebarkan benih kasih dan kebenaranserta terus mengabarkan warta gembira,” tegas Markus Solo yang berasal Flores, Nusa Tenggara Timur itu.

Markus Solo menggarisbawahi bahwa dalam menunaikan tugas, PWKI menghadapi tantangan dimana sebagian warga Indonesia berani berada dalam post-truth era atau era pasca-kebenaran, yang lebih suka menyebar hoax dan fake news daripada kebenaran.  

“Mengutip pernyataan Rasul Paulus, kelompok masyarakat post truth itu lebih suka memilih menjadi hamba-hamba huruf dan kalimat yang dapat menghancurkan nilai-nilai kehidupan bersama, daripada menjadi hamba-hamba roh yang menyebarkan nafas-nafas kehidupan yang menyelamatkan. Tantangan inilah yang harus dihadapi para wartawan, terutama ketika berenang melawan arus, terjadi pertentangan nurani dan bahkan yang melukai integritas,” ujar Markus.

Dalam konteks ini, wartawan, siapa pun orangnya, seharusnya menjadi “nabi” (modern) yang hidup di zaman open society (masyarakat terbuka) seperti sekarang ini. Para wartawan harus siap menjadi “nabi” yang berani ditolak dan dicemooh ketika harus memperjuangkan kebenaran

“Wartawan harus menjadi garam dan terang. Para wartawan tidak boleh membiarkan diri dimanipulasi oleh orang lain agar misi  serta jati dirinya menjadi garam yang melezatkan dan terang yang menerangi tidak kabur agar diperoleh kebenaran Mar,” ujarnya.

Hanya saja, diingatkan Pastor Markus, karena kebenaran cenderung memperhamba manusia atas nama hukum dan aturan, wartawan harus memiliki kasih untuk mengontrol kebenaran itu sendiri. Kasih adalah DNA, Parameter kemuridan Kristus dan akhirnya Kebenaran berfungsi untuk memerdekakan kita.

Hadir secara virtual dalam acara ini adalah Dubes Indonesia untuk Tahta Suci L Amrih Jinangkung, Dirjen Bimas Katolik Y Bayu Samodro dan pengusaha Franciscus Welirang dan sementara Mekominfo Johnny G Plate hadir dalam sambutan virtualnya.  

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Buka Tahun Baru Bersama PWKI kali ini memberi Anugerah “TERIMA KASIHKU KEPADAMU” untuk Ketua KPK Komjen Pol Firli Bahuri, Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Wanita inspiratif Anne Avantie, profesinya sebagai perancang busana.

Paduan suara yang tampil gabungan dari PWKI Pontianak dan Ruai TV pimpinan Yupentius Ive, PWKI Kupang pimpihan Hilarius F Jahang, PWKI Semarang pimpinan Valentina Estiningsih, OMK Kawanua Katolik dan dari KompasTV. (lip)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here