Ibu Karni Lebih Dari Setengah Abad Menggeluti Usaha Tempe Kedelai Berbungkus Daun

    107
    0
    Ibu Karni sosok pembuat tempe kedelai yang menggeluti usahanya lebih dari 50 tahun, sedang melakukan proses pembungkusan tempe dengan daun pisang di rumahnya. (Foto: Sagita Putri Ayu Setyawati)

    BERNASNEWS.COM — Tempe daun merupakan sebutan tempe kedelai yang umumnya dibungkus menggunakan daun pisang, serta dilapisi menggunakan kertas dan diikat menggunakan tali mendong. Tempe kedelai sendiri juga memilik nilai khas tersendiri karena pembuatan melalui beberapa proses yang sangat panjang dan bisa dibilang sulit. Juga pembungkus tempenya yang masih dibilang tradisional dengan memanfaatkan daun pisang dan lainnya.

    “Di masa pandemi ini pembuatan dan penjualan tempe mengalami penurunan, ditambah minat tempe daun juga menurun karena lebih banyak pembeli tempe dengan kemasan plastik karena lebih mudah didapatkan dan bermacam-macam kualitas pembuatannya,” ungkap Ibu Karni.

    Menurut Ibu Karni, bahwa proses pembuatan tempe melalui beberapa proses seperti pencucian kedelai, perendaman, perebusan, hingga penanakan/ pengukusan kedelai. “Sesudah penanakan kedelai ditempatkan di sebuah tambir besar, setelah dingin barulah pemberian ragi dan pembukusan. Untuk menjadi tempe perlu waktu 2-3 hari dalam suhu normal,” jelasnya.

    Ibu Karni bisa dikatakan lebih setengah abad menggeluti profesinya sebagai pembuat temped an menjualnya di Pasar Karangwaru yang bertempat di pinggir Jalan Magelang, termasuk wilayah Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

    Setiap pagi ia bersepeda membawa dagangannya, berangkat dari rumah sekitar pukul 06:35 WIB dan sampai di Pasar Karangwaru pukul 07:00 WIB karena antara pasar dengan rumahnya jaraknya tidak terlalu jauh. Sementara untuk pengantaran tempe ke langganannya dibantu oleh anaknya pada sore hari.

    Ibu Karni menjual tempe kedelai bikinannya tersebut dengan harga Rp 500,- per bungkus, harga yang sangat terjangkau bagi semua kalangan. Meski mengalami penurunan omset dikarenakan oleh banyaknya faktor, terutama kurangnya minat tempe daun dan dampak pandemi namun ia tetap mempertahankan.

    Sebelum maraknya tempe kemasan plastik dan terjadi pandemi, Ibu Karni tiap harinya dapat menghabiskan bahan kedelai sekitar 20 kilogram. Saat ini tidak lebih 10 kilogram kedelai setiap harinya. Tetap mempertahankan tempe daun karena ia merasa jika tempe daun memiliki ciri khas tersendiri dari segi rasa dan proses pengemasannya.

    “Pembuatan dan penjualan tempe daun sekarang tidak seperti dulu. Dulu bisa dikatakan ramai dan sekarang sepi sekali, namun bagaimanapun juga sedikit demi sedikit harus dijalankan untuk memenuhi kebutuhan,” pungkas ibu Karni. (Sagita Putri Ayu Setyawati, Mahasiswa Prodi Public Relations, ASMI Santa Maria)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here