Wednesday, May 18, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsIbadah Sosial Lebih Penting daripada Ibadah Individual

Ibadah Sosial Lebih Penting daripada Ibadah Individual

bernasnews.com – Suasana dan nuansa penyelenggaraan sholat Idul Fitri 1443 H sunggu terasa berbeda dengan penyelenggaraan sholat ied pada tahun-tahun sebelumnya. Karena penyelenggaraan tahun ini merupakan kali pertamanya setelah terkendala adanya pandemi Covid-19, sehingga tampak sekali wajah-wajah kerinduan dan kebahagiaan para jamaah yang hadir.

Hal itu juga terlihat dalam penyelenggaraan Sholat Idul Fitri 1443 H, Senin (2/5/2022), di Lapangan Bendungan, Wates, Kulon Progo. Sebagai Imam dan Khotib Dr R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo. Penyelenggaraan sholat ied yang diinisiasi oleh PRM Bendungan dan aparat setempat, tampak lapangan penuh hingga meluber namun para jamaah juga melaksanakan protokol kesehatan cukup ketat.

Dalam khotbahnya, Dr R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Si memaparkan, bahwa Ramadhan sebagai sarana yang paling efektif untuk melatih jiwa serta memperbaiki moralitas diri, akhlak yang baik, rela berkorban, melatih kesabaran dan bentuk-bentuk pendidikan lain yang bernuansa transendental (Ilahiyah) sehingga umat Islam memiliki mentalitas puasa.

“Ramadhan merupakan saat yang paling tepat untuk berbenah dan hiburan spiritual bagi kepenatan hidup setelah menempuh perjalanan panjang di dunia materi. Ramadhan laksana terminal untuk istirahat sejenak demi menempa kekuatan jiwa dan kepribadiannya,” ungkap dia.

Menurut Wakhid, orang yang beriman sangat mengerti manfaat Ramadhan untuk meraih kesuksesan di masa yang akan datang, yaitu sebuah kemenangan yang hakiki. Mentalitas puasa mengajarkan kita tentang hakikat kesabaran dan kekuatan. Sebab tidak ada seorangpun yang berhasil kecuali orang yang sabar dan kuat, baik fisik-material maupun mental-spiritual.

“Cara terbaik untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan hidup adalah dengan memadukan antara kesabaran dan kekuatan,” ujar Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo itu.

Imam dan Khotib Dr R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo, dalam Sholat Idul Fitri 1443 H, Senin (2/5/2022), di Lapangan Bendungan, Wates, Kulon Progo, DIY. (Foto: Istimewa)

Khotbah dengan tajuk ‘Madrasah Ramadhan, Madrasah Berbagi’ ini, juga menceritakan hari-hari istimewa dan bersejarah yang ada dalam bulan Ramadhan, kemenangan umat Islam di saat perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Juga kemenangan yang diperoleh oleh umat Islam dalam beberapa peperangan yang lain, misalnya di Yarmuk, Qadisiyah, Jalula’, Hathin, dan lain sebagainya.

“Contoh lain yang dekat dengan perjalanan bangsa Indonesia, adalah kemerdekaan 17 Agustus 1945. Persistiwa – peristiwa penting menuju kemerdekaan Indonesia terjadi pada bulan Ramadhan 1334 H,” terang Wakhid.

Dari dua contoh tersebut, lanjut Wakhid, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam melaksanakan ajaran agama diperlukan kesabaran dan kesungguhan sehingga akan mendatangkan kekuatan dari Allah.

Bangsa Indonesia memang terkenal religiusitasnya tinggi, tapi dalam ibadah mahdhah yang bersifat transendental (habluminallah) dan bersifat individual seperti shalat, puasa, haji, membaca Al Qur’an, taklim. Sementara ibadah ghoiru mahdhah atau ibadah sosial kurang mendapat prioritas. Kalaupun ada lebih bersifat insidental seperti pada saat bulan Ramadhan seperti ini, saat milad, dan hari besar lainnya.

Ibadah sosial tersebut antara lain menyantuni anak yatim, membantu fakir-miskin, memberi bantuan beasiswa pendidikan, menolong para korban bencana, menggalakkan penanggulangan kemiskinan dan kebodohan, merawat alam dan lingkungan, berbuat baik dan kasih sayang kepada sesama umat dan mahluk ciptaan Allah, menghargai orang lain, menghormati kemajemukan, dan masih banyak lagi.

“Semua itu merupakan bentuk-bentuk ibadah sosial yang memberi manfaat atau kemaslahatan kepada masyarakat banyak. Ibadah ini tidak kalah penting, bahkan bisa jadi lebih penting daripada ibadah individual,” kata Wakhid Akhdinirwanto.

Di akhir khotbahnya, Wakhid Akhdinirwanto menyampaikan dua solusi agar umat Islam tidak tergantung pada keadaan dan pasar yaitu, pertama, ubah pola muamalah (berusaha, bisnis) dari mencari untung menjadi melayani. Kedua, umat Islam harus kreatif, sebagaimana yang direkomendasikan oleh UNESCO terkait kecakapan hidup abad ke-21.

“Rekomendasi oleh UNESCO yaitu literasi, keterampilan berpikir kritis dan problem solving, keterempilan berpikir kreatif dan inovasi, komunikasi, dan kolaborasi. Selain itu, kunci kemandirian umat Islam,   Man jadda wa jada siapa yang sungguh-sungguh pasti bershasil, Man shabara zhafira, siapa yang bersabar pasti beruntung, Man yazra’ yahshud, siapa menanam pasti menuai,” pungkasnya. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments