Home News Hidup di Daerah Rawan Gempa, Perlu Model Rumah Adaptif Gempa

Hidup di Daerah Rawan Gempa, Perlu Model Rumah Adaptif Gempa

138
0
Acara Sosialisasi Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa dan acara penyerahan peralatan simulasi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa dari Sarwidi Center, Jumat (29/10/2021), Kampus Universitas Widya Mataram, Yogyakarta. (Foto: Kiriman Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Manajemen kampus dan para dosen harus menciptakan ruang perkuliahan yang menarik dan aplikatif  dalam berbagai sesi kuliah. Nuansa kuliah demikian merangsang mahasiswa terlibat aktif dalam proses mendapat ilmu pengetahuan. Demikian disampaikan oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof Dr Edy Suandi Hamid. MEc, daalam acara Sosialisasi Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa, Jumat (29/10/2021).

“Dengan adanya perangkat pendukung perkuliahan, peralatan tertentu tidak hanya mendukung perwjudukan Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam universitas, hal ini mendorong terciptanya perkuliahan kolaboratif dan partisipatif,” kata Prof Edy, di Kampus UWM.

Acara tersebut diselenggarakan sekaligus dengan acara penyerahan peralatan simulasi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa dari Sarwidi Center, karya Prof Sarwidi, PhD, Guru Besar Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII) yang juga mantan komisaris dan penasihat Badan Nasional Penanggungalan Bencana (PNPB).

Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof Dr Edy Suandi Hamid. MEc, (kiri) secara simbolis menerima peralatan simulasi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa dari Sarwidi Center, karya Prof Sarwidi, PhD, Guru Besar Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat (29/10/2021). Foto: Kiriman Humas UWM.

Dalam penyerahan peralatan tersebut Prof. Sarwidi berharap pihak Universitas Widya Mataram (UWM), baik dosen dan mahasiswa terlibat aktif dalam mengembangkan alat simulasi sebagai bentuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

Sementara Prof Edy Suandi Hamid mengharapkan perangkat simulasi gempa dan protopite bangunan rumah tahan gempa ini dapat menjadi daya tarik mahasiswa teknik, dan menjadi nilai tambah mahasiswa.

Lanjut Rektor UWM, apabila mereka mau serius memelajari peralatan tersebut, mereka bisa mengembangkan perangkat serupa, bahkan menciptakan peralatan baru yang lebih canggih. “Mahasiswa juga bisa menciptakan prototipe baru bangunan tahan gempa, dengan meneliti model bangunan tahan gempa karya Prof Sarwidi,” ujarnya.

Peralatan simulasi gempa dan bangunan tahan gempa, lanjut Prof Edy, memberikan nilai tambah bagi para mahasiswa, dan mendorong minat mereka untuk mengembangkan peralatan simulasi maupun menciptakan rumah tahan gempa yang cocok dengan kemampuan dan  situasi di Indonesia. Menurutnya, wilayah Indonesia berada dalam ring of fire (cincin api) yang potensial terjadi gempa bumi. Daerah demikian memerlukan bangunan tahan gempa.

“Masyarakat perlu diedukasi untuk membangun rumah-rumah yang bisa meminimalkan dampak dari gempa bumi. Mahasiswa, utamanya di bidang teknik, juga perlu memahami proses pembuatan bangunan tahan gempa, dan mereka bisa praktik dalam tugas keteknikannya di masyarakat,” jelas Prof Edy.

Khusus bagi tim task force Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), menurut Prof Edy Suandi Hamid, penyerahan alat simulasi gempa dan bangunan tahan gempa dari Sarwidi Center, tidak sebatas bisa memanfaatkan peralatan simulasi untuk praktik mahasiswa, tim bisa juga mendukung memasyarakatkan bangunan rumah rakyat tahan gempa, yang sudah dikembangkan Prof Sarwidi selama dua dasawarsa terakhir ini.

Ketua Task Force PPKM Prof Dr Ambar Rukmini, MP sedang mencoba prototip bangunan tahan gempa. (Foto: Kiriman Humas UWM)

Ketua Task Force PPKM Prof Dr Ambar Rukmini, MP senada dengan Prof Edy Suandi Hamid tentang edukasi banguann tahan gempa. “Kita hidup di wilayah rawan bencana, termasuk rawan gempa. Penggunaan alat simutasi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa sebagai praktik mitigasi bencana dan upaya preventif jatuhnya banyak korban saat bencana gempa terjadi,” tutur Prof Ambar.

Selain itu, imbuh Prof Ambar, tim task force beserta mahasiswa akan berusaha mengembangkan peralatan sumulasi gempa agar alat itu bisa dimodifikasi dalam simulasi berbagai skala kegempaan, dari skala kecil sampai besar, dan dari berbagai model gempa.

Sementara itu Prof Sarwidi mengatakan, bahwa gempa bumi masuk kategori bencana misterius, yang belum terdapat alat yang  bisa mendeteksi kapan gempa terjadi. “Bencana selain gempa, kita bisa memprediksi, sementara gempa bumi belum ada ahli maupun peralatan yang bisa memerkirakan kapan gempa terjadi dan berapa skalanya,” ucapnya.

Yang lebih rumit, menurut Prof Sarwidi, gempa yang terjadi di satu daerah biasanya berbeda karakter dan skalanya. Setiap negara atau wilayah memiliki karakter gempa yang sulit diperkirakan. “Indonesia masuk kategori memiliki karakter khusus gempa yang tidak sama dengan kasus gempa di Jepang dan negara lain,” bebernya.

Pihaknya berharap alat simutasi gempa ini membantu untuk mendapat solusi untuk memahami karakter goncangan yang ditimbulkan dari gerakan gempa dan para mahasiswa UWM bisa mengembangkan prototipe baru bangunan tahan gempa. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here