Home News Suharwanto : Dorong Konsumsi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi DIY

Suharwanto : Dorong Konsumsi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi DIY

234
0
Wakil Ketua DPRD DIY dari PAN Harwanto. Foto : Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM –Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, termasuk DIY, terjadi kontraksi pertumbuhan ekonomi. Untuk DIY, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi hingga minus 7 persen. Hal ini terjadi karena menurunnya tingkat konsumsi masyarakat, karena 67 persen PDB Provinsi DIY disumbangkan dari sektor konsumsi.

Mengapa sektor konsumsi menurun sehingga membuat pertumbuhan ekonomi DIY mengalami kontraksi hingga minus 7 persen? Menurut Wakil Ketua DPRD DIY Suharwanto, hal itu disebabkan karena dua hal. Pertama, karena tingkat kunjungan wisatawan menurun drastis akibat adanya pembatasan kegiatan masyarakat. Hotel-hotel ditutup, obyek wisata juga tutup, restoran atau warung-warung makan juga tutup.

Kedua, para mahasiswa luar daerah di berbagai perguruan tinggi di DIY pulang ke daerah masing-masing karena kampus-kampus ditutup sebagai bentuk pembatasan kegiatan masyarakat untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.

Padahal menurut Suharwanto, dari data Bank Indonesia (BI) Yogyakarta perputaran uang dari keberadaan mahasiswa di DIY mencapai Rp 623 miliar per bulan. Dengan demikan, ketika mahasiswa kembali ke daerah masing-masing dan aktivitas pendidikan berhenti maka DIY kehilangan potensi pemasukan sebesar Rp 623 miliar per bulan.

“Itu baru dari mahasiswa atau sektor pendidikan. Belum lagi dari sektor pariwisata. Padahal sektor pariwisata dan pendidikan merupakan sumber andalan bagi pertumbuhan ekonomi DIYdan menyumbang 65 persen untuk PDB DIY,” kata Suhawanto dari Fraksi PAN yang ditemui Bernasnews.com di ruang kerjanya, Selasa 23 Februari 2021.

Karena itu, menurut Suharwanto, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di DIY pada masa pandemi Covid-19 hingga pascapandemi adalah dengan mendorong konsumsi masyarakat. Caranya adalah dengan menggerakkan atau menghidupkan kembali sektor pariwisata dan pendidikan.

Dan Harwanto mendukung kebijakan pemerintah DIY yang tidak terlalu ketat membatasi kegiatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Misalnya, ketentuan jam buka warung atau rumah makan yang sempat dibatasi hanya mulai pukul 17.00 hingga pukul 19.00 kemudian diperlonggar menjadi hingga pukul 21.00 WIB, sudah tepat.

“Lha kalau hanya dibuka selama 2 jam, kapan pemilik warung mempersiapkan masakan. Apalagi warung bakmi, bakminya saja belum matang lalu disuruh tutup karena sudah sesuai batas waktunya, kan kasihan pemilik warung. Bukannya mendapat untung malah rugi,” kata Suharwanto memberi contoh.

Namun, karena ini masih dalam masa pandemi Covid-10, menurut Suharwanto, maka aktivitas masyarakat tetap boleh dilakukan tapi tetap dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat dan dispilin. Sehingga kedua-duanya berjalan seiring, yakni kegiatan ekonomi tetap jalan dan penanganan kesehatan juga tetap jalan dengan menerapkan protokol kesehatan berupa3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

Selain itu, pelaksanaan 3T (testing, tracing dan treatment) juga harus tetap berjalan agar efektif menekan atau mengendalikan penularan/penyebaran Covid-19. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here