Home Opini Harga Minyak Merosot: “Berkah” atau “Musibah”?

Harga Minyak Merosot: “Berkah” atau “Musibah”?

451
0
Dr. Y. Sri Susilo, SE, MSi, Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY (Atma Jogja) dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Harga minyak dunia pada hari Senin (09/03/20) terpantau merosot tajam hingga 30 persen. Hal tersebut terjadi karena Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak Dunia (OPEC) dan Rusia gagal mencapai kesepakatan mengenai pengurangan produksi. Kondisi tersebut menyebabkan Arab Saudi memangkas harga karena akan meningkatkan produksi minyaknya. Hal tersebut dapat memicu adanya perang harga di antara anggota OPEC.

Dari beberapa sumber, harga minyak mentah berjangka Brent anjlok 30 persen menjadi US$ 31,02 per barel (Senin, 09/03/20), level terendah sejak Februari 2016. Sementara harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 27 persen menjadi USD 30 per barel, level terendah sejak Februari 2016. Harga minyak WTI berada di jalur terburuk harian sejak Januari 1991 selama Perang Teluk.

Bagaimanakah dampak merosotnya harga minyak dunia terhadap perekonomian Indonesia? Menjadikan “berkah” atau “musibah”? Jawaban pertanyaan tersebut menjadi fokus tulisan ini.

Dampak Negatif

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya dilihat asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Dampak merosotnya harga minyak dunia akan terkait dengan besaran asumsi APBN yang telah ditetapkan. Dalam APBN 2020 terdapat asumsi makro ekonomi Indonesia pada tahun 2020. Pertama, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada 2020.

Selanjutnya, tingkat inflasi sebesar 3,1 persen. Sementara itu nilai tukar rupiah rata-rata dipatok Rp 14.400 per dollar AS. Selanjutnya tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,4 persen. Adapun harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) rata-rata sebesar 63 dollar AS per barel. Lifting minyak rata-rata 755 ribu barel per hari serta lifting gas rata-rata 1.191 ribu barel setara minyak (bsm) per hari.

Merosotnya harga minyak dunia setidaknya memberikan 3 (tiga) dampak negatif bagi perekonomian Indonesia (Sri Susilo, 2020; Lisnawati, 2016). Dampak pertama, menyebabkan menurunnya kinerja ekspor minyak dan gas (migas). Pendapatan negara dari sektor migas yang tidak tercapai terjadi karena karena harga minyak merosot tajam. Merosotnya harga minyak dunia juga telah membuat investasi sektor hulu migas khususnya kegiatan eksplorasi tersendat. Terjadinya penurunan Investasi di sektor hulu migas hampir di seluruh dunia.

Kedua, terkait asumsi makro Indonesia Crude Price (ICP) yang terdapat dalam APBN. Penurunan harga minyak mentah dunia akan merevisi asumsi ICP dalam APBN 2020. Postur APBN 2020 disusun dengan menggunakan asumsi ICP sebesar US$65 per barel dan lifting sebesar 734 ribu barel per hari (bph). Dengan adanya penurunan harga minyak dunia maka akan merubah asumsi ICP. Pemerintah dapat dipastikan akan melakukan revisi APBN 2020. APBN 2020 akan diuntungkan jika realisasi ICP lebih tinggi dibandingkan asumsi yang telah ditetapkan.

Sebaliknya, APBN akan dirugikan jika realisasi ICP lebih rendah dibandingkan asumsi yang ditetapkan. Perubahan asumsi dasar ekonomi makro dari yang semula ditetapkan akan menyebabkan perubahan pada besaran pendapatan negara, belanja negara, defisit, dan pembiayaan anggaran. Pada sisi pendapatan negara, perubahan harga minyak mentah akan berdampak terhadap penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) migas dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sumber Daya Alam (SDA) migas.

Pada sisi belanja negara, perubahan ICP antara lain akan mempengaruhi belanja subsidi energi, Dana Bagi Hasil (DBH) migas ke daerah akibat perubahan PNBP SDA migas serta anggaran pendidikan dan kesehatan. Ketiga, penurunan realisasi dalam APBN terkait pajak penghasilan migas. Pajak penghasilan migas akan mengalami penurunan, meskipun PNBP dari minyak sebenarnya sudah mulai kecil. Pemerintah perlu mencari jalan alternatif agar dapat meningkatkan penerimaan khususnya dari sektor pajak.

Dampak Positif

Merosotnya harga minyak mentah dapat menguntungkan beberapa sektor industri seperti manufaktur, otomotif, dan transportasi (Sri Susilo, 2020; Lisnawati, 2016). Hal tersebut terkait dengan murahnya harga minyak dunia mengakibatkan semakin merosotnya harga BBM di dalam negeri. Indonesia yang merupakan negara net importir minyak seharusnya dapat memperoleh minyak dengan harga yang lebih murah.

Pemerintah seharusnya segera menyesuaikan harga BBM domestik. Menurunnya harga BBM akan membuat biaya produksi industri manufaktur semakin rendah. Dengan harga produksi yang rendah maka harga produk bisa lebih murah, pada gilirannya produk ekspor manufaktur lebih kompetitif. Di samping, itu biaya transportasi dan energi juga menjadi lebih murah sehingga ujungnya inflasi dapat lebih rendah lagi.

Inflasi yang rendah dapat menjadi salah satu faktor pendorong bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menurunkan suku bunga acuan di level lebih rendah. Jika suku bunga acuan diturunkan, maka dapat berdampak lebih positif pada pasar saham terutama sektor properti. Di samping itu, penurunan suku bunga acuan yang diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan juga dapat mendorong meningkatnya investasi langsung. Penurunan harga BBM dapat mendorong penurunan tarif dasar listrik (TDL).

Catatan Penutup

Bagi negara-negara importir minyak seperti Indonesia, merosotnya harga mentah dunia ini merupakan “berkah”. Bagi Indonesia merosotnya harga minya dunia dapat mendorong turunnya harga BBM. Penurunan harga BBM tersebut pada gilirannya dapat menurunkan biaya produksi industri manufaktur dan sektor transportasi. Kondisi tersebut dapat mendorong meningatnya daya saing produk ekspor manufaktur di pasar dunia. Sebaliknya bagi negara-negara produsen dan pengekspor minyak (net eksportir) bakal memperoleh “musibah”. Hal ini terkait dengan target penerimaan (khususnya pajak yang terkait dengan migas) dari APBN tidak tercapai.

Merosotnya harga minyak ini memberikan dampak positif maupun negatif terhadap perekonomian Indonesia. Kajian dampak dari merosotnya harga minyak dunia harus dilakukan secara cermat agar pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat dalam mengantisipasinya. Selain itu pemerintah perlu mewaspadai terutama bagi sektor migas yang akan semakin melemah jika penurunan harga ini berlangsung untuk waktu yang lama. (Dr. Y. Sri Susilo, SE, M Si. Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY (Atma Jogja) dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here