Home Opini Harga Kedelai Melambung

Harga Kedelai Melambung

521
0
Dr. Y. Sri Susilo, SE, MSi, Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY (Atma Jogja)/ Pengurus Pusat ISEI/ Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Pada awal tahun 2021 masyarakat dikejutkan dengan berita perajin tempe dan tahu sempat mogok produksi. Hal tersebut disebabkan harga kedelai impor melonjak sekitar Rp 2.000,00 per kilogram. Harga kedelai yang semula ada dalam kisaran Rp 6.000-7.000-an per kilogram kini naik menjadi Rp 8.000-9.000-an per kilogramnya.

Untuk diketahui, Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah China. Kondisi tersebut terkait kedelai menjadi bahan baku bagi tempe dan tahu. Kedua jenis makanan yang sering dan biasa disantap masyarakat. Kedelai juga digunakan sebagai bahan baku kecap dan pakan ternak. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai maka dilakukan impor.

Produksi kedelai domestik hanya mampu memasok 35 persen dari total kebutuhan, sedangkan sisanya 65 persen dipenuhi dari impor. rata-rata impor kedelai Indonesia mencapai 2 juta-2,5 juta ton per tahun. Dari total volume impor itu, sekitar 70 persen di antaranya dialokasikan untuk produksi tempe, 25 persen untuk produksi tahu, dan sisanya untuk produk lain.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester-I 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,52 triliun (kurs Rp 14.700). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Data Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo), kedelai yang dipasok untuk para pengusaha tahu dan tempe didatangkan dari Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan Uruguay. Selama kurun sepuluh tahun terakhir, volume kedelai impor mencapai 2-7 kali lipat produksi kedelai lokal. Sebagian besar impor tersebut berasal dari Amerika Serikat.

Kenaikan harga kedelai impor disebabkan karena ada syok di pasar, yaitu berkurangnya pasokan di pasar. Jika pasokan berkurang dan permintaan tidak berubah maka yang terjadi harga akan meningkat, ceteris paribus dan vice versa (dan sebaliknya). Demikian juga jika permintaan meningkat namun pasokan tetap maka yang terjadi harga akan melonjak, ceteris paribus dan vice versa. Fenomena tersebut berlaku untuk semua barang dan jasa di pasar.

Mengapa pasokan kedelai impor berkurang? Dari beberapa sumber informasi yang diperoleh penulis terdapat sejumlah faktor penyebab. Pertama, terjadinya gangguan pasokan dari negara pemasok utama kedelai ke Indonesia (Amerika Serikat/AS, Brasil dan Argentina). Gangguan tersebut dimungkinkan karena terjadinya aturan dan pembatasan yang terkait dengan Pandemi Covid-19.

Proses pengiriman kedelai terhambat dikarenakan kapal yang mengangkut kedelai impor tujuan Indonesia itu sangat jarang ditemui. Keterlambatan bisa terjadi selama 2-3 pekan dikarenakan kapal singgah ke Singapura terlebih dahulu. Kondisi ini mendorong kenaikan harga pada pertengahan Desember 2020 lalu tidak dapat terhindarkan. Di pasar internasional terjadi kenaikan harga sebesar 6 persen dari harga awal US$ 435 menjadi US$ 461 per ton.

Kedua, permintaan kedelai negara China di pasar dunia meningkat. Hal ini terkait dengan proses pemulihan ekonomi di negara tersebut sehingga permintaan kedelai sebagai bahan baku pangan dan pakan melonjak. Sebagai contoh, permintaan kedelai dari China melonjak dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton pada pertengahan bulan Desember 2020.

Ketiga, Pasar kedelai domestik mengarah pada oligopoli, pemain di dalam pasar sangat terbatas. Dari jumlah itu, pelaku usaha importir yang menguasai separuh jumlah impor hanya berkisar 2-3 pelaku usaha. Dalam struktur pasar oligopoli bisa saja disalahgunakan oleh pelaku usaha, misalnya dalam bentuk pengaturan harga maupun pembatasan pasokan. Untuk itu pihak Polri telah melakukan penulusuran untuk membuktikan dugaan atau sinyalemen tersebut. Demikian juga Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) diharapkan juga melakukan hal yang sama.

Kenaikan harga kedelai impor tersebut menjadikan harga kedelai di pasar domestik melonjak. Untuk menutupi beban biaya produksi yang melonjak, produsen memperkecil ukuran tempe dari yang biasa dengan harga jual tetap. Produsen terpaksa mengurangi bentuk dan ukuran tahu yang diproduksi ketimbang harus menaikan harga. Strategi bertahan produsen tempe dan tahu dengan mengurangi ukuran dibanding menaikan harga jual sudah jamak dan mereka lakukan terhadap kenaikan factor produksi lain misalnya elpiji dan listrik (Sri Susilo, 2010).

Produktivitas kedelai di Indonesia berkisar setengah dari produktivitas kedelai di AS. Produktivitas kedelai domestik berkisar 1,5-2 ton per hektar, sedangkan produktivitas di AS mencapai 4 ton per hektar. Hal tersebut terjadi karena tanaman kedelai di AS mendapatkan penyinaran matahari sekitar 16 jam, sedangkan di Indonesia berkisar 12 jam. Di Indonesia, keuntungan per hektar di tingkat petani masih lebih kecil dibandingkan dengan jagung ataupun padi. Kondisi tersebut petani memprioritaskan lahannya untuk menanam jagung dan padi.

Untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai maka diperlukan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan produktivitas kedelai di  Indonesia. Jika perlu petani diberi insentif atau subsidi sarana produksi agar tertarik menanam kedelai. Diversifikasi bahan baku tempe non kedelai juga harus ditingkatkan, misalnya dengan menggenjot produksi tempe lamtoro (koro dan benguk).

Seperti diketahui, rasa tempe koro dan tempe benguk tidak kalah dengan tempe kedelai jika cara memasaknya baik dan benar. Tentu harus dilakukan kajian dimungkinkan tidak mengembangkan budidaya tanaman lamtoro yang nantinya hasil produksinya sebagai pemasok bahan baku tempe lamtoro. Salam tempe dan tahu! (Dr. Y. Sri Susilo, SE, MSi, Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY (Atma Jogja)/ Pengurus Pusat ISEI/ Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here