Home News Hajad Dalem Garebeg Mulud dan Gunungan Kraton Yogyakarta Ditiadakan

Hajad Dalem Garebeg Mulud dan Gunungan Kraton Yogyakarta Ditiadakan

131
0
Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Yogyakarta GKR Condrokirono. (Foto: Dok. Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Perayaan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW tahun 2021 di Keraton Yogyakarta, kembali digelar sederhana tanpa arak-arakan gunungan dan prajurit. Perayaan dilakukan dengan membagi-bagikan ubarampe rengginang, Selasa (19/10/2021) atau 12 Mulud Alip 1955, di Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta.

Sejumlah 2.700 buah rengginang akan dibagikan ke tiga peruntukan, seperti halnya pelaksanaan Garebeg pada umumnya yakni Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, dan Kompleks Kepatihan. Selain ubarampe rengginang, keraton juga membagikan uang logam dan beras sebagai simbol dari udhik-udhik yang biasanya dibagikan saat pelaksanaan rangkaian perayaan Mulud.

Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Yogyakarta GKR Condrokirono menuturkan, bahwa pelaksanaan Hajad Dalem peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW kali ini masih mengedepankan protokol kesehatan (prokes).

“Hal ini dilakukan untuk mentaati anjuran pemerintah sekaligus meminimalisir penyebaran Covid-19 di DIY. Oleh karenanya, pelaksanaan prosesi Garebeg disederhanakan dengan pembagian ubarampe saja. Hal ini sudah dilakukan sejak pelaksanaan Garebeg Sawal tahun 2020 lalu atau masa-masa awal pandemi Covid-19,” tuturnya melalui rilis yang diterima Bernasnews.com.

Sementara itu, Gamelan Sekati yang biasanya dikeluarkan dari keraton dan ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe untuk dibunyikan selama satu minggu, saat ini tidak dilakukan. “Miyos Gangsa (keluarnya Gamelan Sekati dari keraton ke pagongan) dan Kondur Gangsa (kembalinya Gamelan Sekati dari pagongan ke keraton) termasuk udhik-udhik, tidak dilakukan, sama seperti tahun lalu,” imbuh putri kedua Ngarsa Dalem Sultan HB X.

Meski arak-arakan gunungan dan prajurit ditiadakan, lanjut GKR Condrokirono, esensi dari pelaksanaan Garebeg tidaklah hilang yaitu sebagai perwujudan rasa syukur dari raja atas melimpahnya hasil bumi yang dibagikan kepada rakyatnya. “Hal ini adalah bentuk konsistensi keraton dalam melestarikan budaya dalam berbagai situasi,” tegasnya.

Sementara itu, segala kegiatan pementasan paket wisata di Keraton Yogyakarta juga masih
diliburkan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Namun demikian, pada masa pandemi ini,
Keraton Yogyakarta justru makin giat menghadirkan konten seputar keraton melalui media sosial dan YouTube Kraton Jogja yang dikelola Tepas Tandha Yekti. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here