Home Pendidikan Guru Seni Budaya dan Prakarya MTs DIY Terbitkan Buku Antologi

Guru Seni Budaya dan Prakarya MTs DIY Terbitkan Buku Antologi

81
0
Kakanwil Edhi Gunawan bergambar bersama Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Anita Isdarmini, Fasilitator MGMP Edih Supardi, dan perwakilan penulis, Jumat (26/6/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Guru Seni Budaya dan Prakarya (SBP) MTs Kanwil Kemenag DIY yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) berhasil menerbitkan Buku Antologi dengan judul Kala Guru Seni Budaya dan Prakarya Berbagi Cerita.

Launching buku yang ditulis 27 guru tersebut ditandai dengan penyerahan buku oleh Ketua MGMP Drs Sutanto kepada Kakanwil Edhi Gunawan M.Pd.I di ruang kerjanya, Jumat (26/6/2020), disaksikan Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Anita Isdarmini dan Fasilitator MGMP Edih Supardi.

Kakanwil mengapresiasi atas terbitnya buku yang bercerita tentang bagaimana suka dan duka para guru dalam mendidik siswa-siswinya. Ia mengharap geliat yang luar biasa dari para guru dalam menulis dapat menjadi contoh guru madrasah di luar DIY.

Seni Budaya dan Prakarya merupakan matapelajaran yang tidak masuk dalam kategori mata pelajaran ujian nasional, namun bukan berarti menjadi mata pelajaran yang tidak penting. Justru mata pelajaran ini bisa menjadi wadah siswa-siswi yang memiliki potensi terpendam dan bidang seni maupun prakarya.

Ketua MGMP SBP MTs DIY Drs Sutanto (ketiga dari kiri) menyerahkan buku kepada Kakanwil Edhi Gunawan M.Pd.I di ruang kerjanya disaksikan Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Anita Isdarmini, Fasilitator MGMP Edih Supardi, Jumat (26/6/2020). Foto : Istimewa

 “Saya ingin setiap madrasah memiliki ciri khas yang bisa diunggulkan melalui mapel Seni Budaya dan Prakarya. Melalui potensi siswa siswi terbaik, dapat menjadi kebanggaan bisa ditampilkan di khalayak, dan menjadi branding madrasah,” tandas Edhi.

Anita Isdarmini meminta agar Seni Budaya dan Prakarya organisasinya dipisah, karena dalam struktur kurikulum terpisah. Ia juga mendorong agar ada kompetisi antar siswa madrasah dalam bidang Seni Budaya dan Prakarya. “Bila ajang kompetisi ini terlaksana akan menjadi kekuatan luar biasa untuk lebih meneguhkan madrasah hebat bermartabat,” katanya.

Edih Supardi yang telah membersamai para guru SBP sejak 2012, turut bangga dengan terbitnya buku tersebut. Menurutnya buku tentang pengalaman guru dalam mengajar selama wabah pandemi Covid-19 melaksanakan pembelajaran jarak jauh, adalah sebuah gagasan dan ide yang sangat bagus, sekaligus melatih guru-guru dalam rangka pengembangan diri sebagai bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Sutanto menambahkan, buku setebal 204 halaman tersebut sengaja diberi cover gambar Blangkon, Gamelan dan Batik sebagai ciri khas DIY sebagai Kota Budaya. Isinya cukup menarik, karena latar belakang penulisnya sangat variatif. Pengalaman mengajar dengan perspektif Seni Musik, Seni Rupa, Seni Tari dan Kerajinan Tangan, dengan pengalaman mengajar yang sudah lebih dari 25 tahun, 10 tahun, 5 tahun, bahkan ada yang baru 2 tahun, menjadikan isi buku ini penuh warna.

Beberapa guru menuliskan Tantangan  Guru di Sekolah Asrama, Goresan Hidupku, Seni Mengindahkanku Seni Tumpuan Hidupku, Belajar Seni Belajar Hati, Mengajar Harus Maton Tidak waton. Menjadi Guru Kreatif dengan WFH. Beberapa contoh judul yang dipilih menggambarkan totalitas mereka dalam membimbing peserta didik agar menjadi insan yang berkarakter dengan segenap kehalusan budi.

“Dengan menulis, minimal para guru telah berupaya untuk menuangkan pengalaman mengajar dengan segenap pernak perniknya. Selain itu masing-masing penulis akan menjadi aset berharga dari madrasah khususnya dan Kemenag DIY pada umumnya,” kata Sutanto. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here