Home Pendidikan Guru SBP MTs Bantul Berlatih Batik Kayu di Sanggar Peni

Guru SBP MTs Bantul Berlatih Batik Kayu di Sanggar Peni

351
0
Puluhan Guru Seni Budaya dan Prakarya (SBP) MTs Kabupaten Bantul foto bersama Ketua MGMP SBP MTs Bantul H Mulyorejoso SPd dan pimpinan Sanggar Peni Kemiskidi di sela-sela pelatihan membatik dengan canting di Sanggar Peni Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Kamis (13/2/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Puluhan Guru Seni Budaya dan Prakarya (SBP) MTs Kabupaten Bantul mengikuti pelatihan membatik dengan canting di Sanggar Peni Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Kamis (13/2/2020).

Kali ini bukan kain yang dibatik namun mereka membatik pada kayu dalam berbagai bentuk. Selama sehari guru-guru tersebut berlatih membatik kayu di bawah bimbingan pimpinan Sanggar Peni Kemiskidi di dusun Krebet Sendangsari Pajangan Pajangan.

Ketua MGMP SBP MTs Bantul H Mulyorejoso SPd, seperti dikutip Drs Sutanto, Ketua MGMP SBP MTs Kemenag DIY, dalam rilis yang dikirim ke Bernasnews.com, Senin (17/2/2020),
menjelaskan, selain membuat administrasi, tak kalah pentingnya guru juga harus terus meningkatkan kompetensi personal dalam bidang keterampilan. “Sengaja kami bekerja sama dengan Sanggar Peni ini dengan harapan agar ketrampilan teman-teman guru SBP makin meningkat keterampilannya,” katanya.

Para Guru Seni Budaya dan Prakarya (SBP) MTs Kabupaten Bantul mengikuti pelatihan membatik dengan canting di Sanggar Peni Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Kamis (13/2/2020). Foto : Istimewa

Kemiskidi menjelaskan, pada prinsipnya membatik di media kayu sama dengan media kain bahkan lebih mudah. Karena kayu bahannya keras sehingga lebih mudah membatiknya. Jenis kayu yang digunakan sebagai bahan dasar adalah kayu lunak di antaranya sengon atau albasia, wadang, jenetri, pule, mahoni, kuso, klepu, kembang, dan kayu jinjing.

“Kayu-kayu tersebut dipilih karena tidak keras, mudah dibentuk, mudah menyerap cairan (pewarna) dan tidak berminyak. Namun yang paling banyak kam gunakan di sini adalah jenis Jenetri yang didatangkan dari Wonosobo,” kata Kemiskidi.

Proses pembuatan batik kayu cukup panjang. Pertama, kayu direbus dengan air mendidih supaya getah-getah keluar, sehingga akan mengantisipasi adanya kerusakan saat kayu setelah finishing. Kemudian kayu yang akan dibatik dibentuk sesuai model.

Pimpinan Sanggar Peni Kemiskidi memberi pelatihan membatik dengan canting di Sanggar Peni Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Kamis (13/2/2020). Foto : Istimewa

Kedua, setelah direbus kayu dijemur dengan kondisi benar benar kering sehingga akan mudah dalam proses pengamplasan. Selanjutnya kayu yang sudah dijemur akan diamplas dengan standar kehalusan.

Ketiga, setelah proses amplas kemudian kayu diberi pola sesuai motif yang diinginkan, supaya mudah dalam proses pembatikan. Keempat, setelah pola terbentuk kayu tersebut akan dibatik menggunakan canting serta malam yang sudah dipanasi dengan suhu tertentu dalam wajan hingga berbentuk cair.

Kelima, setelah proses pembatikan selesai, kayu yang sudah dibatik akan diwarna sesuai dengan yang dikehendaki. Untuk proses pewarnaan, menggunakan pewarna kimia khusus yang di impor dari Jepang dan China. Keenam, setelah warna sudah muncul akan dilanjutkan dengan penutupan motif yang sudah diwarnai dengan malam.

Ketujuh, kayu yang sudah ditutup malam, akan dilanjutkan dengan pewarnaan dasar. Kedelapan, setelah pewarnaan selesai akan melalui tahap perebusan yang supaya malam terlepas dari kayu, sehingga terlihat motifnya.

Kesembilan, setelah direbus dan malam sudah tidak melekat pada kayu, akan dilanjutkan penjemuran dengan kekeringan kayu yang sudah ditentukan dan benar-benar kering. Kesepuluh, kayu yang sudah kering akan dicelupkan atau dikuaskan cairan H2O2 yang berfungsi sebagai pemutih kayu. Kesebelas, kayu yang sudah benar benar putih yang terlihat hanya motif batik, selanjutnya kan dilanjutkan dengan proses finishing.

Ketua MGMP SBP MTs DIY Drs Sutanto yang juga turut hadir mengikuti kegiatan merasakan manfaat yang besar dengan pelatihan ini. Sebab membatik dengan media kayu membutuhkan keterampilan tersendiri, berbeda dengan membatik di atas kain. Karena polanya dibuat secara manual, bukan dicetak, maka membatik dengan media kayu membutuhkan tingkat ketelitian yang sangat tinggi agar menghasilkan pola yang bagus.

Sanggar Peni yang didirikan oleh Kemiskidi sejak tahun 1988, menjadi langganan pelatihan bagi siswa maupun guru. Karena selain biayanya terjangkau, tempatnya luas dan letaknya cukup strategis di pinggir jalan raya. Apalagi terdapat 15 karyawan yang siap mendampingi peserta yang berlatih di tempat itu. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here