Home Pendidikan Guru MTsN 6 Kulon Progo Juara Menulis Macapat se-DIY

Guru MTsN 6 Kulon Progo Juara Menulis Macapat se-DIY

70
0
Mulyanto M.Hum memberikan trofi kepada Sutanto. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Guru Seni Budaya MTsN 6 Kulon Progo Drs Sutanto berhasil meraih Juara I Lomba Menulis Macapat Tingkat Guru SMP/ MTs Se DIY. Ia meraih poin tertinggi 520 dengan mengungguli juara II Sugiyarti M.Pd (SMP Muh.1 Seyegan) poin 518 dan Suprihatin S.Pd (SMPN 1 Sewon) dengan poin 516 sebagai juara III.

Sedangkan juara IV-V diraih Drs Padi (SMPN 1 Tempel) poin 514 dan MM Sri Haryanti S.S (SMPN 3 Bantul) poin 512. Kelimanya berhak atas trofi tetap dan piagam penghargaan yang diberikan Koordinator Jumat Legen Balai Bahasa, Mulyanto M. Hum di Balai Bahasa Yogyakarta, Rabu (18/11/2020).

Koordinator Pembinaan Bahasa BBY Ratun Untoro M.Hum menjelaskan, tahap pertama lomba dilakukan secara daring. Total ada 83 peserta yang mengirim naskah Macapat bertema “Pageblug” melalui googleform sampai 5 November.

Para juara bergambar bersama dewan yuri dan panitia. Foto : Istimewa

Setelah itu dipilih 10 naskah terbaik, tahap kedua dilakukan wawancara di Balai Bahasa Yogyakarta, Rabu (18/11/2020) oleh Dewan Yuri yang terdiri Praktisi Mocopat KMT Projo Suwasono, Moegi Santosa dan Guru SMKN 4 Yogyakarta Sinar Indrakrisnawan S.Pd.

“Materi wawancara meliputi penjelasan isi cakepan macapat yang dibuat, ide kreatif pembuatan cakepan, dan motivasi mengikuti lomba,” kata Ratun.

Projo Suwasono menerangkan, kelebihan Sutanto dibanding peserta lain adalah terpenuhinya 3M (Memakai Masker, Mencuci tangan, Menjaga Jarak dan menghindari kerumunan) dalam cakepan Macapat yang dibuatnya.

Ketika ditanya dewan yuri mengapa memilih Pocung dan Gambuh dalam pembuatan naskah lomba, hal itu disebabkan karena mengejar target dengan kegiatan lain.

Sutanto dengan trofi juara. Foto : Istimewa

“Terus terang saya hanya memilih tembang yang gatra/ barisnya sedikit. Pocung hanya empat baris, sedangkan Gambuh lima baris. Waktu itu bersamaan pembuatan buku antologi dan kegiatan di madrasah yang padat, sehingga lebih aman memilih dua tembang tersebut. Nantinya dua tembang tersebut juga mudah dibawakan siswa saya di madrasah,” ujar Sutanto.

Guru yang hobi catur tersebut menambahkan, motivasinya ikut lomba ada 3 yaitu ingin melestarikan Bahasa Jawa, turut mengobarkan semangat literasi, meneguhkan eksistensi madrasah. “Saat ini banyak guru yang tidak percaya diri ketika berbahasa Jawa baik saat berada di lingkungan rumah maupun sekolah/ madrasah. Dengan ikut lomba ini saya berharap semakin banyak yang mencintai bahasa peninggalan leluhur,” kata Sutanto dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com.

Ia juga bersemangat ikut lomba karena dalam brosur dijanjikan bahwa semua naskah yang masuk akan dibukukan. Padahal antologi macapat dia belum pernah membuat. Masih adanya masyarakat atau lembaga yang kurang familiar dengan madrasah, mendorongnya ikut even ini. Ia berharap dengan keikutsertaan dalam even ini madrasah semakin dikenal luas. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here