Home Pendidikan Guru jadi Wartawan Sekolah untuk Dukung Gerakan Literasi Sekolah

Guru jadi Wartawan Sekolah untuk Dukung Gerakan Literasi Sekolah

219
0
Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Dikpora Kota Yogyakarta Buono, S.Pd. M.Eng, Narasumber Y.B. Margantoro dan para peserta Workshop Literasi Guru foto bersama di Ruang Batik Kawung Picis Dinas Dikpora Kota Yogyakarta, Rabu (3/11/2021). Foto : Kiriman YB Margantoro

BERNASNEWS.COM – Para guru TK, SD dan SMP di Kota Yogyakarta dapat belajar menjadi wartawan sekolah untuk mendukung keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Untuk itu, meski sudah memiliki tugas berat mendidik anak-anak bangsa, namun para guru tetap harus banyak belajar, antara lain belajar jurnalistik, literasi atau tulis menulis.

“Tugas bapak ibu guru di era pandemi Covid-19 dengan pembelajaran tatap muka terbatas luar biasa. Cukup berat. Masuk sekolah pukul 08.00 pembelajaran tatap muka, kemudian sampai pukul 21.00, bahkan dapat lebih, melayani siswa melalui daring. Bukan hanya siswa yang harus dilayani, tapi juga orangtua siswa yang bertanya ini dan itu. Sungguh luar biasa,” kata Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Yogyakarta Buono SPd M.Eng atas nama Kepala Dinas Dikpora Kota Yogyakarta saat membuka Workshop Literasi Guru di ruang Batik Kawung Picis, kntor dinas setempat Jalan Hayam Wuruk 11 Yogyakarta, Rabu (3/11/2021).

Sebanyak 21 orang guru di Kota Yogyakarta yang terdiri dari delapan orang guru Taman Kanak-Kanak (TK), tujuh guru Sekolah Dasar (SD) dan enam guru Sekolah Menengah Pertama (SMP), mengikuti workshop literasi guru bertajuk Bila Guru (Mau) Menulis Buku yang diampu Pegiat Literasi YB. Margantoro. Dialog dipandu oleh Adham, staf Dinas Dikpora Kota Yogyakarta.

Narasumber YB Margantoro mengemukakan, kesediaan guru belajar jurnalistik dan literasi untuk pengembangan diri dan keberhasilan GLS bukan hanya keniscayaan tapi keharusan. Untuk membangun budaya literasi pada seluruh ranah pendidikan, peran serta keluarga, sekolah dan masyarakat harus dikuatkan.

GLS sangat diperlukan

Guru SMP Negeri 10 Yogyakarta Niken Amri Amaniah berpendapat, GLS sangat diperlukan dan sangat penting di era ini karena semua ilmu sudah berbasis digital yang memerlukan kejelian membaca dan memahami bacaan yang ada.

“Dalam mata pelajaran bahasa Inggris yang dapat dilakukan adalah dengan membuat puisi-puisi dalam Bahasa Inggris dan membaca dalam Bahasa Inggris. Karena masih tingkat SMP, maka puisi yang dibuat masih sederhana, tidak lebih dari tujuh baris,” kata pengajar Bahasa Inggris ini.

Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Dikpora Kota Yogyakarta Buono SPd., M.Eng membuka Workshop Literasi Guru di Dinas Dikpora Kota Yogyakarta, Rabu (3/11/2021). Foto : YB Margantoro

Guru SD Negeri Bumijo Yogyakarta Ares Brilatin menyatakan memiliki minat kuat terhadap literasi sehingga secara pribadi dia mengembangkan kemampuan literasinya dengan aktif sebagai pendongeng. Dia membuat kelompok dongeng Leloledung dan aktif menjadi volunteer di Ayo Dongeng Indonesia. Juga aktif menulis fiksi dan nonfiksi dalam bentuk buku maupun artikel.

“Saya terus memotivasi warga sekolah, baik guru maupun siswa, untuk membiasakan menulis dari kegiatan paling sederhana seperti menulis kegiatan sehari-hari, menulis perasaan yang dialami, menulis laporan sederhana dari kegiatan praktek maupun wawancara,” kata guru kelas 5 ini.

Kepala sekolah TK Kusuma Yogyakarta Yulfrida Rahmawati mengungkapkan kegiatan pengembangan literasi di sekolahnya antara lain dengan mengajak siswa berkunjung ke perpustakaan sekolah. Para siswa dimotivasi untuk suka membaca buku, walaupun mayoritas masih terbatas membaca atau melihat gambar.

“Kami juga bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta untuk dapat mengakses layanan perpustakaan keliling Puspita. Selain itu, setelah pendidikan di jenjang TK selesai anak-anak kami minta memberi satu buku cerita untuk memperkaya isi perpustakaan sekolah,” kata dia.

Peserta workshop literasi untuk jenjang SMP adalah Ponija (SMP N 3 Yogyakarta), Niken Amri Amaniah (SMP N 10 Yogyakarta),  Danik Susiyati (SMP N 4 Yogyakarta), Heri Riskianto (SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta), Rosalina Surjaningtyas Kusumastuti (SMP N 8 Yogyakarta), Dyah Ayu Putri Utami (SMP N 14 Yogyakarta). 

Peserta guru SD adalah Umi Nurrosidah (SD N Tahunan Yogyakarta), Ares Brilatin (SD N Bumijo Yogyakarta), Titin Mulyaningsih (SD N Randusari Yogyakarta), Imam Sasongko (SD N Tegalrejo 1 Yogyakarta), Arif Rommi Setyawan (SD N Ungaran 1 Yogyakarta), Dwi Purwanti (SD N Lempunyangan 1 Yogyakarta), Yohanes Linda Kurniadi Hutapea (SD Marsudirini Yogyakarta).

Kemudian peserta guru/kepala TK adalah : Yulfrida Rahmawati (TK Kusuma Yogyakarta), Martini (TK ABA Kricak Kidul Yogyakarta), Ade Rohana AS (TK Bumi Warta Yogyakarta),Maryani Indarsih (TK ABA Purbayan Yogyakarta), Parjiyati (TK POMG Bumijo Yogyakarta), Sastriasri Hastari Nurdini (TK Al Fajar), Trina Indriani (TK Kuncup Mekar Yogyakarta), Ambarwati (TK Islam Timuran Yogyakarta).

Ketua kelas workshop literasi Ponija mengatakan, para peserta kegiatan ini sepakat membentuk Komunitas Penulis Guru (KPG) Hayam Wuruk 11 untuk lebih memantapkan diri dalam belajar dan berkarya literasi bersama. (*/lip)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here