Gunawan Kunto Wibisono, Sekali Pandu Tetap Pandu

    1024
    0
    Drs Gunawan Kunto Wibisono saat menjadi pembicara padaDiklat Jurnalistik yang diadakan Disdikpora DIY di Hotel Emersia Gowongan Kidul Yogyakarta, Rabu (21/8/2019). Foto : Sutanto

    BERNASNEWS.COM – Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Kota Pendidikan banyak melahirkan tokoh kaliber nasional. Guru Seni Budaya MTsN 6 Kulon Progo Drs Sutanto yang sedang mengikuti Diklat Jurnalistik yang diadakan Disdikpora DIY di Hotel Emersia Gowongan Kidul, berkesempatan mewawancarai salah satu narasumber yang merupakan Tokoh Pramuka sejak masih bernama Pandu, sekaligus merupakan jurnalis, dan melaporkan untuk BERNASNEWS.COM.

    Dalam usianya yang tak muda lagi, pria sederhana yang akrab dipanggil Kak Gun ini masih nampak bugar. Ketika ditemui di sela-sela Diklat Jurnalistik Disdikpora DIY sebagai narasumber di Hotel Emersia Yogyakarta, Rabu (21/8/2019), pemilik nama lengkap Drs Gunawan Kunto Wibisono ini berkisah tentang perjalanan hidupnya.

    Dilahirkan di Yogyakarta, 29 Maret 1940, Kak Gun kecil tinggal bersama kakeknya yang bekerja sebagai masinis di Bumijo Yogyakarta. Melewati pendidikan formal di SR Netral (1952), SMP 1 Jogja (1955) dan masa SMA-nya dilalui di Jakarta (1959) karena mengikuti sang ayah. Perguruan tinggi ditempuhnya di Fakultas Sospol/Publistik UGM dan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta Jurusan Ilustrasi Grafis, keduanya dapat diselesaikan tahun 1963.

    Kiprahnya dalam Gerakan Pramuka diawali saat usia 8 tahun (1948) menjadi anggota Pandu Rakyat Indonesia Pemula di Mataram 3. Saat di SMP 1 Yogyakarta, Kak Gun aktif sebagai anggota Perintis di Mataram 7 sampai menjadi Perintis Tingkat 1 (saat ini disebut sebagai Pramuka Garuda) tahun 1956. “Mataram merupakan istilah untuk Gugus Depan Putra saat itu, Gugus Depan Putri disebut dengan Jogja,” kata Kak Gun.

    Saat berada di bangku SMA di Jakarta, Kakak Kakek-demikian Ka Kwarda Mangkubumi selalu memanggilnya-tergabung di Penuntun (Penegak/Pandega) di Jakarta 17 sampai tahun 1959, di bawah didikan tokoh Kepanduan Nasional yang juga seorang Komponis, Husein Mutahar.

    Drs Gunawan Kunto Wibisono

    Sekembalinya dari Ibukota tahun 1959, Kak Gun mulai berkiprah sebagai Pembantu Pembina Siaga Putra (Palinda) di Mataram 3 sampai tahun 1961. Dari kiprahnya di dunia kepanduan tersebut, ia mengenal Sri Surti, aktivis Pandu Udara Putri yang dinikahinya tahun 1963. Istri tercintanya merupakan putri Kak Hertoko (Ketua Kwartir Daerah Pertama DIY). “Ada pengalaman yang tak terlupakan, tanggal 14 Agustus 1961 yang dicanangkan sebagai hari Pramuka, saya dan istri sama-sama ikut pawai. Istri saya mengemudi Traktor, sedangkan saya naik kuda,” ungkapnya sembari tersenyum.

    Lulus kuliah, ayah empat putra dan satu putri tersebut mendapat ikatan dinas menjadi guru Seni Rupa di SMA Madiun (1963-1967) dengan gaji Rp 2.000. Di sela-sela kesibukan sebagai guru, ia aktif sebagai koresponden harian Merdeka Jakarta.

    Panggilan jiwanya di dunia jurnalistik cukup kuat. Pada tahun 1967, ia meninggalkan profesinya sebagai guru SMA kemudian hijrah ke ibukota menjadi wartawan Harian Merdeka. Atas permintaan mertua dan keluarga, tahun 1970 ia mengajar di SMA Taman Madya Jetis dengan status guru yayasan sampai tahun 1977. Jiwa seni yang ada dalam dirinya membutuhkan ekspresi. Bersama rekannya pengasuh Gemar Menggambar TVRI Yogyakarta Tino Sidin dan Sunardi (Dekan Fak Seni Rupa ISI YK), ia memberi pelatihan melukis bagi anak-anak di Pusat Latihan Lukis Anak Senisono.

    Mulai tahun 1977 kakek 12 cucu ini kembali ke Jakarta di Harian Merdeka sebagai wartawan unit Departemen Penerangan (Deppen), ditempatkan di Kwartir Nasional (Kwarnas) bersama wartawan dari berbagai media, dengan tugas utama memberitakan kegiatan kepramukaan. Saking cintanya pada kepramukaan, saat itu Kak Gun yang dipercaya menjadi Ketua Wartawan Unit Kwarnas sampai mengusulkan agar 30 wartawan yang ditempatkan di Kwarnas diberi Kursus Mahir Dasar (KMD) agar memiliki bekal pengetahuan Pramuka. “Mulai tahun 1981, setiap ada Jambore Nasional, saya dan teman-teman memiliki tugas membuat koran,” terangnya.

    Setelah kembali e Yogyakarta, Kak Gun terlibat aktif dalam struktur lembaga resmi sebagai anggota Majelis Pembimbing Daerah Harian (Mabidari) Kwarda XII DIY Masa Bhakti 2014-2019 bersama sepuluh pengurus lainnya. Selain aktif di Mabidari juga aktif sebagai Pengurus Daerah Dewan Harian Daerah Angkatan 45 DIY dan Ketua Dewan Harian Daerah Himpunan Pandu Pramuka Wreda (HIPPRADA) DIY.

    Keterlibatannya di beberapa organisasi tersebut memberi konsekuensi untuk dapat memberikan kontribusi pembentukan karakter generasi muda harapan masa depan. Menurutnya, Gerakan Pramuka merupakan organisasi yang jenjangnya paling lengkap mulai dari usia Siaga, Penggalang, Penegak, Pandega, sehingga sangat strategis menjadi media pendidikan dalam rangka pembentukan karakter.

    “Penggalang yang masanya suka bermain mesti banyak diberikan bekal keterampilan dan pemberian banyak tanda penghargaan dalam ujud tanda kecakapan khusus. Jadi Pembentukan karakter lebih difokuskan di usia Penegak Pandega karena mereka tak lama lagi terjun di masyarakat,” tandasnya.

    Pria yang punya hobi fotografi tersebut menekankan bahwa kunci pembentukan karakter dengan mengamalkan Dasadharma Pramuka yang berisi sepuluh hal yang mesti dilakukan seorang anggota pramuka. Sampai saat ini fokus pembinaan peserta didik masih di usia Siaga dan Penggalang, mestinya usia Penegak Pandega juga diberi porsi yang seimbang agar proses pembinaan dilakukan secara utuh dan berkesinambungan.

    Dalam kepramukaan Gunawan memiliki semboyan “one scout forever scout” (sekali pandu tetap pandu). Dari semboyan tersebut dia punya pemikiran untuk dapat memberdayakan Pramuka yang tidak masuk di jajaran pengurus dalam wadah gugus darma agar masih tetap dapat membantu gugus depan di wilayahnya, sesuai kemampuannya.

    Selaku Mabidari, ia juga menginginkan agar Kwarda XII DIY bersinergi dengan Disdikpora DIY bisa membidani silabus sebagai pedoman proses pendidikan pramuka.

    Saat ditanya tentang resepnya menjalani hidup sampai jelang usianya yang ke-80, Kak Gunawan memaparkan ada 5 Eh yaitu Sumeh, Sareh, Sumeleh, Weweh, Aja Dumeh.

    Sumeh dilakukan dengan selalu tersenyum, ramah kepada siapa saja, Sareh dengan bersikap sabar dan bisa menata hati, Sumeleh yakni bersikap menerima apa adanya atas apa yang telah diberikan namun tetap diiringi dengan usaha. Weweh dilakukan dengan selalu memberi kepada orang lain bisa berupa materi, motivasi, nasihat. Aja Dumeh sebuah sikap tak boleh bersikap sombong tak merasa lebih dari yang lain.

    Selain berkiprah di Gerakan Pramuka, pengalaman dalam dunia Jurnalistik Harian MERDEKA Jakarta, Pemred Majalah Mingguan TOPIK, Wakil Pemred Majalah TEKNOLOGI, Pemred Majalah KATI-GA, Pemred Tabloid GEMBIRA Disdikpora DIY, Instruktur Jurnalistik dan Konsultan Media. (Drs Sutanto, Guru MTsN 6 Kulon Progo)

    Drs Gunawan Kunto Wibisono saat menjadi pembicara pada Diklat Jurnalistik yang diadakan Disdikpora DIY di Hotel Emersia Gowongan Kidul, Rabu (21/8/2019). Foto : Sutanto

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here