Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeSeni BudayaGrebeg Bakda Mangiran, Peringatan Asal Mula Padukuhan Mangiran di Bantul

Grebeg Bakda Mangiran, Peringatan Asal Mula Padukuhan Mangiran di Bantul

bernasnews.com — Setelah terkendala adanya pandemi Covid-19 selama dua tahun, akhirnya acara puncak Upacara Adat ‘Bakda Mangiran’ dapat diselenggarakan, Rabu (4/5/2022), di Desa Budaya Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY.

Kegiatan yang mengambil venue lapangan Mangiran dan makam Pasarean Caturloyo ini, difasilitasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dengan Dana Keistimewaan Tahun 2022. Selain dihadiri oleh segenap warga masyarakat Trimurti.

Juga tampak hadir Panewu Srandakan, Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Tim Monitoring/ Dinas Kebudayaan DIY, Lurah Trimurti beserta perangkat, Dukuh dan Pengurus Desa Budaya, Pendamping Budaya, serta Pendampingan Silang.

Tamu undangan yang hadir berbaur dengan warga setempat saat mengikuti acara budaya ‘Bakda Mangiran’, Rabu (4/5/2022), di Desa Budaya Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY. (Foto: Kiriman RM Donny SM)

Anggota Tim Monitoring mewakili Dinas Kebudayaan DIY, RM Donny S Megananda kepada bernasnews.com menjelaskan, bahwa rangkaian acara ‘Bakda Mangiran’ sudah dimulai sejak 30 April 2022 lalu dan hari ini (Rabu, 4/5) merupakan puncak acara.

“Acara puncak berupa Arak-arakan Gunungan diiringi Bregada Prajurit, serta tampilan dramatari sejarah Mangiran dan nyadran doa bersama kemudian ditutup Gelar Tari Ledhek (Tayub). Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Paniradya Kaistimewan yang telah memberikan perhatian pada giat budaya selama ini,” ungkap RM Donny.

Dikatakan, dramatari teatrikal pelaksanaan grebeg atau Bakda Mangiran, Kalurahan Budaya Trimurti Tahun 2022 ini, mengusung tema ‘Asal Mula Kalurahan Mangiran’. Menggunakan alur mundur, menceritakan perubahan nama Kelurahan Beran menjadi Padukuhan Mangiran.

Anggota Tim Monitoring mewakili Dinas Kebudayaan DIY, RM Donny S Megananda (Topi Merah) foto bersama dengan panitia penyelenggara dan pengisi acara ‘Bakda Mangiran’. (Foto: Kiriman RM. Donny SM)

“Dahulu Kelurahan Beran dipimpin oleh seorang Singgih Bekel Sepuh bernama Pak Atmareja. Warganya guyub rukun dan saling tolong menolong. Suatu hari, banjir besar melanda Kelurahan itu yang membawa (menghanyutkan) sebuah nisan putih ke pinggir kali,” RM Donny mengkisahkan.

Pak Atmareja berpesan kepada pada warga agar merawat nisan tersebut sesuai dengan mimpinya. Dalam mimpi itu, Pak Atmareja didatang seseorang yang mengatakan untuk segera menemukan dan merawat nisan yang ada di utara pasar demi kesembuhan penyakitnya.

“Bertujuan mengingat sejarah dan asal-usul padukuhan Mangiran, grebeg ata bakda Mangiran hingga kini terus dilakukan sebagai salah satu upacara adat. Pelaksanaannya setiap tanggal 3 bulan Syawal penanggalan Jawa, dengan arak-arakan, prosesi nyekar dan mengundang ledhek,” pungkas RM Donny S Megananda, yang juga pengelola Museum Wayang Kekayon itu. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments