Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniGo UMKM Go MBKM

Go UMKM Go MBKM

bernasnews.com – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM (2021), jumlah UMKM per Maret 2021 mencapai 64,2 juta unit usaha. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61,07 persen. Selanjutnya UMKM berkontribusi dalam penyedia lapangan kerja dan menyerap 97 persen dari total angkatan kerja nasional.

Dalam opini singkat ini dijelaskan permasalahan yang dihadapi oleh UMKM di Indonesia. Selanjutnya dijelaskan sinergi dan kolaborasi antara Perguruan Tinggi (PTN/PTS) dengan pemangku kepenntingan untuk menumbuhkembangkan UMKM dalam kerangka Program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM).

Permasalahan UMKM

Hasil survei Kementerian Keuangan (2020), menyimpulkan setidaknya terdapat lima permasalahan UMKM. Pertama, persoalan yang terkait dengan legalitas usaha. Mulai dari Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) hingga Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan hal penting dalam menjalankan bisnis UMKM.

Kedua, di bidang pembiayaan. Pelaku UMKM pada umumnya mengalami kesulitan dalam mengakses sumber-sumber pembiayaan seperti perbankan dan lembaga keuangan yang lain. Masalah yang ketiga adalah UMKM belum memperoleh pendampingan yang optimal dalam menjalankan usahanya, terutama dalam manajemen usaha untuk meningkatkan daya saing produk.

Masalah yang keempat adalah minimnya standar produk sesuai dengan ketentuan global dan kurang konsisten dalam menjaga kualitas produk. Terakhir adalah masalah pemasaran. Terbatasnya informasi peluang pasar membuat para UMKM sulit mengembangkan usahanya. Masalah pemasaran ini juga mencakup masalah literasi digital dan keuangan.

Kementerian Perdagangan (2021), menyatakan setidaknya terdapat tiga masalah utama yang harus dihadapi oleh UMKM. Pertama adalah kurangnya pengalaman. Kondisi tersebut menjadikan  UMKM sulit untuk beradaptasi terhadap perkembangan. Kedua adalah kurangnya jaringan (networking) yang menyulitkan untuk berkompetisi khususnya di pasar ekspor. Ketiga, terbatasnya modal dan akses kepada sumber-sumber permodalan. Ketiga  tersebut menyebabkan Sebagian UMKM Indonesia mempunyai daya saing yang belum kompetitif.

Survei Bank Indonesia (2021) menyebutkan sebanyak 87,5 persen UMKM terdampak pandemi Covid-19. Dari jumlah ini, sekitar 93,2 persen di antaranya terdampak negatif di sisi penjualan. Survei tersebut menegaskan dampak pandemi telah memberi tekanan pada pendapatan, laba, dan arus kas. Di sisi lain, tidak semua responsen terdampak pandemi. Bank Indonesia (BI) menyatakan sebanyak 12,5 persen responden yang tidak terkena dampak,  bahkan 27,6 persen di antaranya menunjukkan peningkatan penjualan.

Kontribusi Perguruan Tinggi

Pemerintah telah banyak menjalankan kebijakan dan program untuk mencari solusi sekaligus mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh UMKM. Tentu saja usaha pemerintah tersebut harus didukung oleh pemangku kepentingan (stake holders), seperti misalnya BUMN/BUMD, Perusahaan Swasta, PTN/PTS, Perbankan,  Masyarakat dan Media Massa. Pemangku kepentingan tersebut juga dikenal sebagai pentahelix.

Perguruan tinggi dengan sumberdaya manusia yang dimuliki, baik dosen dan mahasiswa, dapat berkontribusi dengan signifikan dalam pengembangan UMKM. Dosen dengan berbagai kepakarannya dibantu oleh mahasiswa di lapangan dapat melakukan banyak hal bagi UMKM. Kontribusi oerguruan tinggi dapat diwujudkan dalam pelatihan dan pendampingan serta [program magang dalam skema Program MBKM . Biaya operasional untuk melakukan kegiatan pelatihan pendampingan serta magang tersebut dapat didukung dengan anggaran dari Kementerian, Pemerintah Daerah, BUMN/BUMD, Perbankan dan Perusahaan Swasta.

Penutup

Penulis optimis melalui Program MBKM, PTN/PTS dapat bersinergi dan  berkolaborasi dengan pemangku kepentingan dalam kegiatan pelatihan dan pendampingan usaha  yang dijalankan oleh UMKM. Materi pelatihan dan pendampingan mencakup literasi digital dan keuangan, tata kelola usaha, pemasaran dan materi lain yang dibutuhkan oleh UMKM. Program Magang MBKM juga dimungkinkan dilakukan di unit usaha UMKM, khususnya usaha skala menengah. Jika sinergi dan kolaborasi tersebut dapat berjalan dengan optimal maka upaya pengembangan UMKM dapat berjalan dengan lebih cepat. “Go UMKM, Go MBKM”. (Claudia Primastika Dewanti, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR Surabaya)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments