Home News Gereja Katolik di Belanda Kembali Dibuka untuk Ibadah Misa

Gereja Katolik di Belanda Kembali Dibuka untuk Ibadah Misa

260
0
Suasana ibadah misa Gereja St. Werenfridu, Desa Elst, dekat Kota Arnhem, Belanda, Minggu (5/7/2020). Foto: Kiriman Yan Suryoputri, Belanda.

BERNASNEWS.COM — Setelah beberapa bulan akibat adanya pandemi Covid-19, beberapa gereja Katolik di Belanda, Minggu (5/72020), mulai dibuka kembali untuk beribadat umat Katolik. Salah satunya adalah Gereja St. Werenfridus, di Desa Elst, dekat Kota Arnhem, Belanda. Disampaikan oleh Yan Suryoputri yang berdomisili di negeri kincir angin itu, melalui pesan whats app (WA) yang dikirim ke redaksi Bernasnews.com, Minggu (5/7/2020).

Ibu berputra dua berasal dari Kota Yogyakarta itu menjelaskan, sudah barang tentu masih dilakukan protokol kesehatan yang relatif ketat terkait dengan masih kondisi pandemi Covid-19. Maksimal jemaat yang boleh hadir adalah 100 orang. “Tempat duduk diberi tanda dengan jarak 1,5m. Umat yang akan hadir misa diwajibkan lapor secara online. Dan bukti lapornya harus dibawa untuk dicatat oleh petugas penerima tamu,” ungkap Yan Suryoputri.

Barcode sebagai tanda bukti diri jemaat telah mendaftar untuk ikut ibadah misa di Gereja St. Werenfridus, di Desa Elst, Arnhem, Belanda. (Foto: Kiriman Yan Suryoputr, Belandai)

Dengan demikian gereja mengetahui siapa-siapa saja yang hari Minggu (5/7/2020) ini hadir. Sehingga manakala nanti ada yang sakit, maka mudahlah untuk melacak jemaat yang lainnya yang juga beribadah. Saat lapor melalui online pun sudah otomatis ada info peraturan-peraturan yang harus ditaati jemaat.

“Begitu tiba di pintu masuk gereja, sudah ada petugas yang menerangkan aturan tentang protocol kesehatan, sekaligus mempersilahkan kita untuk membersihkan tangan dengan handsanitizer yang disediakn dalam botol besar. Para petugas yang terlibat semuanya memakai face shield dan vest (rompi) merah agar terlihat jelas,” jelas Yan Suryoputri.

Langkah berikutnya, Yan Suryoputri menerangkan, kemudian jemaat lapor ke petugas kedua sambil menunjukkan scan code pendaftaran. Selanjutnya ada petugas ketiga yang mengantar jemaat ke deretan bangku duduk. Di lantai gereja pun sudah ditempel tanda panah penunjuk arah jalur yang hanya boleh berjalan pada satu arah saja.

“Begitu pula bangku-bangku tempat duduk sudah ditandai dimana jemaat nanti boleh duduk. Yang biasanya deretan bangku bisa diduduki 20 orang, kini hanya untuk 3 orang saja. Itupun deretnya diselangi satu. Sungguh-sungguh sangat diatur dan ditaati oleh jemaat,” ujarnya.

Buku Liturgi Ibadah. (Foto: Kiriman Yan Suryoputri, Belanda)

Penerimaan hosti komuni juga diatur dan diawasi petugas. Jarak tetap harus dipatuhi, sekali lagi harus membersihkan tangan dengan handsanitizer yang tersedia di situ. Romo yang membagikan komuni berdiri di belakang tirai plastic dan pemberian komuni dilakukan pakai jepit semacam pinset.

“Tidak ada nyanyian koor sebagaimana biasa, hanya dua penyanyi dengan lagu-lagu kudus yang diiringi orgel. Jemaat tidak diijinkan ikut menyanyi dikarenakan salah satu penyebaran virus adalah melalui doplet dari nafas saat kita bicara atau menyanyi,” jelas Yan Suryoputri.

Salam damai kepada sesama jemaat harus dengan menundukkan kepala atau salam sembah, tidak boleh berjabat tangan. Seusai misa, jemaat diarahkan oleh petugas agar satu persatu keluar gereja, serta diimbau agar tidak berkumpul tetapi langsung pulang.

“Begitulah suasana beribadat di gereja kami setelah berbulan-bulan  misa ditiadakan karena pandemi. Sepi tetapi khusuk, kebanyakan jemaat tenggelam merenung dalam doa. Semoga keadaan ini segera lewat, kita semua bisa beribadah kembali pada Tuhan seperti semula,” pungkas Yan Suryoputri. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here