Home News Gereja Babadan Mulai Adakan Misa secara Langsung di Gereja

Gereja Babadan Mulai Adakan Misa secara Langsung di Gereja

442
0
Suasana misa offline di Gereja St Petrus dan Paulus Babadan Wedomartan, Ngemplak, Sleman, Minggu (16/8/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM –Setelah hampir 6 bulan tidak mengadakan misa secara langsung di gereja untuk mencegah penyebaran dan penularan Covid-19, mula Minggu (16/8/2020) kemarin, Gereja St Petrus dan Paulus Babadan Wedomartani, Ngemplak, Sleman menggelar misa secara langsung atau tatap muka di gereja. Namun, misa secara langsung atau offline ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Sebelum mengikuti misa di gereja, umat wajib mendaftarkan diri pada Ketua Lingkungan masing-masing dengan memilih jadwal misa yang akan diikuti pada Hari Sabtu atau Minggu. Setelah mendaftar, umat akan mendapatkan kartu berisi nama, usia dan asal lingkungan dan wajib dibawa/ditunjuk saat misa.

Ketika sampai di gereja, umat wajib mengikuti tes suhu badan, lalu mencuci tangan dan masuk ke gereja lewat jalur yang sudah ditentukan dan duduk di tempat yang sudah diatur dengan jarak hampir dua meter antara umat. Sehingga bangku yang biasanya bisa diisi 10 orang, kali ini hanya diisi 3 orang.

“Kita patut bersyukur karena diizinkan oleh pihak berwenang untuk mengadakan misa secara offline atau secara langsung/tatap muka di gereja. Sementara masih ada gereja yang belum diizinkan untuk mengadakan misa secara offline karena pertimbangan resiko penularan/penyebaran Covid-19,” kata Romo Yohanes Sigit Heriyanto Pr yang memimpin misa di Gereja Babadan, Minggu (16/8/2020) sore.

Suasana penerimaan komuni pada misa offline di Gereja St Petrus dan Paulus Babadan Wedomartan, Ngemplak, Sleman, Minggu (16/8/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Meski sudah menggelar misa secara offline, namun jumlah umat mengikuti misa dibatasi maksimal 100 orang dari kapasitas gereja yang mencapai hampir 2.000 umat. Selain jumlah umat dibatasi dan jarak duduk sekitar 2 meter, para petugas pun mengenakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap, termasuk romo yang memimpin misa.

Para petugas mengenakan masker dan faceshield. Mereka mengatur atau mengarahkan umat mulai dari pintu masuk gereja hingga tempat duduk. Begitu pula saat menerima komuni tetap menjaga jarak. Dan ketika selesai misa, umat pun keluar lewat pintu yang sama dengan tetap menjaga jarak. “Ribet juga yah protokol kesehatan seperti ini. Tapi demi keamanan, kita wajib mengikuti,” kata seorang umat.

Dalam misa Minggu biasa yang sekaligus memperingati dan merayakan Pesta Intan atau 75 tahun kemerdekaan Indonesia, Romo Sigit membacakan Surat Gembala dari Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr Robertus Rubiyatmoko dengan tema “Indonesia Maju” dengan subtema “Bangga Buatan Indonesia”.

Dalam Surat Gembala itu, Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, mengatakan bahwa tema “Indonesia Maju” yang ditetapkan pemerintah dimaksudkan untuk menghadirkan atau merepresentasikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu simbolisasi dari Indonesia yang mampu untuk memperkokoh kedaulatan, persatuan dan kesatuan bangsa.

Bangsa dan negara yang maju memaknai kemerdekaan bukan sekadar sebagai kata melainkan kesempatan, yakni kesempatan untuk bermimpi hingga jadi nyata dan kesempatan untuk berkarya tanpa batas. Karena itu melalui tema “Indonesia Maju” ini mau ditegaskan bahwa inilah saatnya kita-masyarakat Indonesia- memfokuskan diri kepada hal yang benar-benar penting dalam menyatukan keberagaman melalui kolaborasi untuk memperkenalkan jati diri bangsa Indonesia.

Perayaan kemerdekaan bangsa saat ini kita peringati dalam suasana keprihatinan akibat dari wabah virus corona atau pandemi Covid-19. Pandemi ini telah menjadikan gerak kita sangat terbatas. Namun demikian kita tidak boleh menyerah. Sebaliknya kita diajak untuk terus secara nyata membangun kerja sama dan meningkatkan solidaritas dan kepedulian satu terhadap yang lain, agar kita dapat menghadapi dan mengatasi dampak pandemi ini dengan cepat dan tepat.

Bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Petrus (1Ptr 2,13-17) menegaskan bahwa kita adalah orang-orang merdeka yang hendaknya juga memaknai kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk bergotong-royong dan saling membantu dalam menghadapi pelbagai kesulitan dalam masyarakat. Hendaknya kita menghormati semua orang, mengasihi saudara-saudari kita sebangsa dan setanah-air dalam takut akan Tuhan.

Sedikit tentang “Bangga Buatan Indonesia”, saya mengajak Anda untuk memaknainya secara lebih luas. Bukan sekadar bangga akan produk-produk barang buatan Indonesia, tetapi juga bangga akan buah-buah pemikiran dan inovasi anak bangsa, serta bangga akan generasi muda kita. Mereka adalah masa kini dan masa depan bangsa. Salah satu hal yang sangat penting ketika kita berkata “mari kita cintai Indonesia” adalah kita cintai dan kembangkan anak-anak, para remaja dan kaum muda kita agar menjadi pribadi-pribadi yang sungguh militan dan memiliki kebanggaan terhadap bangsanya. Merekalah yang kita harapkan menjadi pelaku-pelaku transformasi bangsa menuju Indonesia
maju.

Mungkin kita bertanya “kapan sebuah negara dapat dikatakan maju”. Belajar dari Injil dan Bacaan I hari ini, suatu negara dapat dinyatakan maju, pertama, kalau warga masyarakatnya dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab melaksanakan kewajibannya, baik sebagai warga negara maupun sebagai orang beriman (Matius 22,15-21); dan kedua, kalau pemerintahnya memimpin dengan bijaksana, hingga mampu menjamin ketertiban dan kesejahteraan rakyatnya (Kitab Putra Sirakh 10,1-8).

Secara khusus, Mgr Robertu mendoakan umat yang saat ini sedang letih lesu dan berbeban berat, terutama karena dampak pandemi ini. Uskup juga berdoa khusus bagi mereka ang sakit, berkekurangan dan harus menanggung beban kehidupan yang berat. “Allah yang penuh belas kasih senantiasa menyertai, meneguhkan, menguatkan dan memberikan penghiburan kepada Anda semua,” demikian doa Uskup.

Uskup juga mengajak umat untuk tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar kita segera terbebaskan dari wabah virus Corona. Dan semoga upaya untuk menemukan vaksin segera berhasil dan kondisi hidup seluruh bangsa manusia dipulihkan kembali.

“Kita juga berdoa untuk bangsa Indonesia agar dianugerahi semangat persatuan, persaudaraan dan kerukunan di atas dasar Pancasila dan UUD 1945 serta dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita berdoa untuk para pemimpin bangsa, khususnya Presiden dan Wakil Presiden serta jajaran Kabinet Indonesia Maju, agar senantiasa diberi kebijaksanaan dalam memimpin bangsa ini,” demikian antara lain doa uskup. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here