Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsGerakan Literasi di Sleman Juga Gumregah

Gerakan Literasi di Sleman Juga Gumregah

bernasnews.com – Dua momentum di pertengahan bulan Mei 2022, yakni HUT ke-106 Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 15 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, memiliki benang merah harapan yang sama. Benang merah itu itu adalah gumregah dan bangkit.

Gumregah atau bangun dan bangkit memiliki spirit yang sama untuk sebuah perjuangan, kebersamaan dan keberhasilan. Tanpa semangat membangun diri sendiri dan bangkit bersama, tidak akan dapat menyelesaikan suatu masalah, program, dan sekaligus cita-cita bersama.

Sesarengan membangun Sleman dengan gumregah, sebagaimana amanat Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat HUT ke-106 Kabupaten Sleman, dan ajakan bangkit kembali setelah pandemi Covid 19 oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, menjadi penguat semangat warga untuk bersama membangun Kabupaten Sleman lebih baik.    

Salah satu sektor pembangunan yang harus gumregah dan bangkit adalah pendidikan, lebih khusus lagi literasi. Apakah literasi hanya bagian dari pendidikan, tentu saja tidak. Karena literasi juga mengarah ke keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini, ada Gerakan Literasi Keluarga (GLK), Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), yang ketiga berada di bawah naungan Gerakan Literasi Nasional (GLN).

Bagaimana Gerakan Literasi (di) Sleman, selama ini? Sejauh pengamatan dan pengalaman empiris penulis yang turut terlibat pada sebagian kegiatan di wilayah ini, cukup menggembirakan dan membanggakan.

Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman misalnya, sebagai salah satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Sleman memiliki komitmen, kompetensi dan konsistensi dalam menggerakkan literasi sekolah. Sejak enam tahun yang lalu, dinas ini menerbitkan jurnal ilmiah Dwija Sembada untuk menampung karya tulis ilmiah guru di Sleman. Jurnal ilmiah ber-ISSN (International Standar Serial Number) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini terbit dua kali setahun.

Selain itu, Dinas Pendidikan Sleman juga mendukung terbentuknya Forum Guru Sleman Menulis (FGSM) yang berdiri pada 2 Mei 2017. Karya perdana dalam bentuk buku bertajuk GSM on Mass Media yang ditulis oleh Fiati Yuwananingsih, S.Pd., dan kawan-kawan sebagai bukti bahwa komunitas ini eksis dan bertumbuh hingga sekarang. Jumah anggota yang semula hanya sembilan orang, kini sudah menjadi ratusan guru. Mereka sudah menghasilkan banyak karya literasi, karya ilmiah dan karya inovasi lain yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan guru.

Sebagian karya literasi di Kabupaten Sleman yang dikerjakan kalangan pendidikan, perpustakaan, pariwisata dan masyarakat. Karya-karya literasi di kabupaten ini mendukung keberhasilan Gerakan Literasi di Sleman. Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews.com

Selain ada FGSM, kini telah muncul gerakan literasi khususnya di kalangan guru tingkat kapanewon. Salah satu paguyuban yang sudah berdiri adalah Komunitas Penulis Gamping (KPG) yang antara lain menghasilkan buku bertajuk Pembelajar Sepanjang Hayat (2020)  

Kemudian Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, juga tidak kalah dalam semangat pengabdian dan berkarya di bidang literasi. Selain professional dalam pelayanan sesuai tugas pokok fungsinya, instansi ini terus berupaya meningkatkan semangat menulis para pustakawan dan arsiparis di kantor maupun di luar kantor. Instansi ini memiliki dua penerbitan berkala yang menampung karya pustakawan dan arsiparis, disamping menerbitkan buku-buku gerakan literasi.  

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman gencar mempromosikan pariwisata Kabupaten Sleman ke seluruh pelosok tanah air dan luar negeri. Harapannya tentu saja agar wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke wilayah ini dan memberikan berkah kesejahteraan masyarakat. Salah satu booklet yang dihasilkan intansi ini adalah Pesona Wisata Sleman Jogja. Untuk membantu promosi wisata selain diharapkan dari para wartawan, kiranya juga perlu ditumbuhkan penulis-penulis pariwisata setempat maupun dari luar wilayah. Hal ini perlu dilakukan program pembekalan sadar wisata dan penulisan karya literasi wisata. 

Masih di tataran (literasi) masyarakat, ForumTaman Bacaan Masyarakat (FTBM) Sleman sejak lama hingga kini terus semangat mengabdi dan berkarya literasi. Salah satu karya buku mereka bertajuk Jejak-jejak Pengabdian Geliat Literasi Sleman (2018). Para pegiat literasi ini sadar bahwa rekam jejak pengabdian mereka supaya monumental harus diikat dalam bentuk buku. Bupati Sleman (pada waktu itu) Sri Purnomo dalam kata pengantar buku ini sangat mengapresasi kiprah FTBM Sleman.

Literasi masyarakat juga berhasil menggandeng literasi sekolah sehingga lahir majalah berkala bertajuk Literasi Guru. Media ber-ISSN dari LIPI ini terus menggeliat berkarya dan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi bagi kehidupan. Majalah ini digerakkan oleh pendidik, pustakawan dan tentu saja praktisi media.

Bagaimana dengan literasi keluarga? Sejumlah komunitas literasi dan pegiat literasi juga peduli atas muncul dan berkembangnya produk ini. Sesuai dengan ajaran Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, keluarga terutama orangtua adalah guru yang pertama dan utama bagi setiap generasi. Maka ketika keluarga disentuh literasi, selain tentu saja sentuhan kasih sayang, tanggung jawab, kemanusiaan, dan sebagainya, maka akan lahir generasi penerus yang literat dan hebat.

Pada akhirnya, gumregah dan bangkit itu memang harus dilakukan. Bukan hanya literasi, namun juga sektor pembangunan lain. Namun keberadaan dan perkembangan literasi di Sleman khususnya, serta DIY dan Indonesia umumnya, perlu sinergi dan soliditas yang kuat. Jangan berjalan sendiri-sendiri, namun harus membangun bersama-sama. Semoga demikian adanya. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan pegiat literasi tinggal di Sleman)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments