Home Opini Geliat Perubahan Kebijakan Perilaku Organisasi Kesehatan RSPAU dr. S. Hardjolukito Hadapi Pandemi...

Geliat Perubahan Kebijakan Perilaku Organisasi Kesehatan RSPAU dr. S. Hardjolukito Hadapi Pandemi Corona

256
0
Faizal Irfan Aji, Prodi Administrasi Publik Sore, Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM – Wabah Virus Covid-19 telah menyebar di seluruh Dunia tak terkecuali Indonesia, diawali pada Bulan Februari 2020, seorang WNI terpapar virus tersebut oleh warga Jepang yang ada di Indonesia, hal ini membuat Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah tegas, Presiden Jokowi didampingi Menteri Kesehatan pada waktu itu Terawan Agus Putranto mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Tanah Air. Semakin hari wabah atau sebaran virus corona ini semakin tidak terbendung, hingga sampailah ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada tanggal 17 Maret 2020 keluarlah  SUAT KEPUTUSAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 61 / KEP / 2020 TENTANG PENETAPAN RUMAH SAKIT RUJUKAN PENANGGULANGAN PENYAKIT INFEKSI EMERGING TERTENTU. salah satunya adalah RSPAU dr.S.Hardjolukito sebagai rumah sakit rujukan yang utama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan adanya surat keputusan tersebut RSPAU harus siap sedia melayani masayarakat umum, sesuai dengan visinya yaitu “Menjadi Rumah Sakit rujukan TNI ANGKATAN UDARA yang mampu melaksanakan kegiatan dukungan operasi dan memberikan kwalitas pelayanan kesehatan secara propfesional di wilayah Indonesia khususnya Jawa Tengah dan DIY”.

Sebelum dan seiring keluarnya Surat Keputusan tersebut, Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara dr.S.Hardjolukito pada waktu itu Marsma TNI dr.Djunadi M.S., Sp.KP, terus melaksanakan video conference guna koordinasi bersama FORKOPIMDA serta Steakholder terkait di DIY. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk turut menangani perawatan terhadap kasus-kasus Covid-19 memperoleh tantangan yang besar untuk mampu melaksanakan tugas ini dengan baik.

Terlepas dari fasilitas dan sarana prasarana yang harus disiapkan dalam waktu singkat, faktor terpenting yang harus dimiliki adalah Sumber Daya Manusia (SDM) dengan  kualifikasi sesuai persyaratan. Oleh karena itulah maka kemudian para dokter, perawat, tenaga pendukung, serta seluruh personel RSPAU diperintahkan untuk secara bersama-sama bahu membahu dalam melaksanakan pelayanan dan memberikan sumbangsih demi kesembuhan saudara-saudara kita yang mendapat musibah menderita Covid-19 tersebut.

Memang benar bahwa di masa-masa awal penanganan Covid-19, RSPAU seolah-olah tidak akan mampu melaksanakan beban tugas ini dengan baik. Kepanikan, kecemasan, dan ketakutan menyelimuti perasaan hampir seluruh personel dikarenakan kedahsyatan lawan yang tak terlihat namun sangat mematikan ini.

Namun demikian, sejalan dengan berjalannya waktu, mulai terlihat bahwa kepemimpinan Kepala RSPAU Marsma TNI dr. Djunadi, M.S., Sp.K.P. waktu itu mampu memberikan ketenangan dan meredakan kegalauan para pelaksana pelayanan di lapangan. Dengan menunjukkan gaya kebapakan yang lembut dan penuh perhatian, beliau mampu mengajak seluruh personel untuk menata hati dan menguatkan diri untuk mengemban tugas mulia yang diamanahkan oleh Pimpinan dengan sebaik-baiknya.

Dalam hal terdapat 4 elemen penting yang mampu mempengaruhi perilaku organisasi yaitu yang pertama adalah manusia, manusia adalah sistem sosial di dalam internal organisasi yang terdiri dari individu ataupun kelompok tertentu. Yang artinya kelompok tersebut bisa dalam jumlah yang kecil atau besar, informal atau formal, tidak resmi ataupun resmi.

Kedua adalah struktur, struktur merupakan hubungan pada setiap orang yang terdapat di dalam suatu organisasi. Mereka yang berada di dalam suatu organisasi tentu diberikan peran yang berbeda, dan mereka mempunyai hubungan tertentu dengan yang lainnya. Struktur ini kan mengarah pada pembagian kerja, sehingga setiap orang bisa melakukan tugas ataupun pekerjaannya agar bisa mencapai tujuan organisasi. semua akan saling berkaitan agar dapat mencapai tujuan secara lebih terkoordinasi. Sehingga struktur organisasi ini akan berkaitan dengan kekuasaan dan juga tugas. Mereka yang mempunyai wewenang dan lainnya mempunyai kewajiban untuk mematuhi wewenang tersebut.

Ketiga Teknologi, Teknologi mampu menanamkan kondisi fisik dan juga ekonomi dimanapun orang bekerja. Sifat dari teknologi tersebut akan sangat tergantung dari sifat organisasi dan juga akan turut mempengaruhi pekerjaan ataupun kondisi kerja organisasi. Sehingga, teknologi akan membawa efektivitas dan juga memberikan batasan setiap orang dengan berbagai caranya.

Keempat adalah Sistem sosial, Sistem sosial ini akan menyediakan lingkungan eksternal dimana tempat organisasi bergerak. Sistem sosial ini memberikan pengaruh pada sikap masing- masing individu, kondisi kerja dan yang paling penting adalah mampu memberikan persaingan untuk sumber daya dan juga kekuasaan.

Apa yang dialami oleh seluruh personel RSPAU, terutama para pelaksana di lapangan itu merupakan hal yang sangat wajar. Setiap kali terjadi wabah atau pandemi penyakit tertentu, kapan pun dan di masa apapun, pasti akan selalu kental dengan nuansa spiritualitas, duka, amarah, takut, dan bahkan rasa sakit akan diterima oleh seluruh manusia, terutama apabila terjadi dalam waktu yang berkepanjangan.

Namun demikian pada akhirnya, kita semua harus mau menerima bahwa bencana yang sedang dihadapi ini semata-mata dan tidak lain adalah merupakan ciptaan Illahi yang harus diterima sebagaimana adanya. Karena di dalam berorganisasi selalu ada perubahan atau dinamika yang cukup cepat apalagi di dalam organisasi militer yang setiap jamnya dapat berubah bahkan setiap menit, untuk itu kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri sesuai perubahan perilaku organisasi yang ada.

Beberapa dari kita mungkin beranggapan bahwa Pandemi Covid-19 merupakan adzab dari Tuhan, sementara lainnya masih berpegang erat pada teori konspirasi. Apapun itu, apabila kita mau merenung dan mendengarkan jauh ke dalam diri maka akan tertiup bisikan lirih di dalam hati nurani kita bahwa semua peristiwa ini adalah sebuah interupsi bagi kehidupan kita, tidak hanya kehidupan jasmani namun lebih kepada aspek spiritual dan mental. Sebuah interupsi yang akan menghentikan kita dari riuhnya laju kehidupan yang mungkin saja sudah sangat jauh dari apa yang dikehendaki Nya. (Faizal Irfan Aji, Mahasiswa Prodi Administrasi Publik Sore Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here